
"Hah, jatuh? dimana?" cecar Karina merona.
"Pelukanku," sahut pria itu menggoda.
Karina tertegun, ia mengarahkan tangan lalu menepuk wajahnya perlahan. seperti mimpi, tapi sepertinya ini adalah kenyataan. Nicko kembali ke tabiat aslinya sebagai seorang pengejar. padahal, sebelumnya Nicko malah menawarkan hubungan pertemanan. setelah lelah dan menyerah untuk mendapatkan Karina kembali ke pelukannya.
"Kenapa wajahmu merona? kau sedang tersipu?" tanya Nicko meledek.
Karina menelan salivanya, tatapan gugupnya terus mengarah pada Nicko. "Tersipu?" Karina terkekeh kecil, "Aku harus bekerja. terima kasih untuk semalam." ucap Karina sambil beranjak.
Benar saja apa yang Nicko pikirkan sebelumnya. tidak ada kemungkinan untuk Karina bisa berkata jujur padanya saat dalam keadaan sadar. Nicko menghela nafas kasar sambil memandang tubuh Karina yang berlalu menuju kamar kecil.
Karina benar-benar sudah menyiksa Nicko semalaman. wanita itu tidur dengan sangat nyenyak. Namun, tangannya terus mencengkram dan memeluk Nicko dengan erat. sepanjang malam Karina meracau. ia memekik, menghardik Nicko dengan ungkapan kata-kata kasar, mengeluhkan sikap Nicko yang menawarkan pertemanan.
Akan tetapi itu semua bukan masalah, kini Nicko tahu. ternyata Karina masih sangat mencintainya. pengejarannya akan kembali pria itu lakukan, Namun. dengan cara yang lebih misterius.
"Ahhh..." Setelah menyelesaikan aktifitas mandinya, Karina keluar dengan keadaan tubuh yang terbungkus bathrobe. wanita itu meringis sambil meregangkan saraf yang terasa pegal, "Kepala, leher, pinggangku. semuanya terasa sakit." keluh Karina sambil membuka lemari pakaiannya. Dokter cantik itupun memilih setelan yang akan ia kenakan.
"Apa kau lapar?" tanya Nicko memperhatikan.
Karina memalingkan wajahnya perlahan menatap Nicko datar. "La.... lapar?"
"Jika iya, aku akan memesan sarapan." ujar Nicko spontan.
Karina menggelengkan wajahnya seolah menolak, ia menggigit bibirnya seolah berpikir tanpa mengalihkan tatapannya dari Nicko yang sedari tadi terasa sedang mengintimidasi.
"Oh, baiklah." ucap Nicko singkat tanpa memaksa, mungkin ini adalah salah satu caranya guna menarik perhatian Karina.
"Ta... tapi, kau bisa mengantarku ke rumah sakit jika kau mau." imbuh Karina terbata. sadar atau tidak, pernyataan Karina tersebut semakin membuat Nicko yakin. jika wanita ini tak pernah rela untuk berpisah.
Nicko menyeringai, bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan kemudian menjawab. "Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa mengantarmu."
"Kenapa?" pekik Karina bertanya spontan mengerucutkan bibir.
__ADS_1
"Aku sibuk, ada pekerjaan yang..."
Karina melempar pakaiannya kearah Nicko penuh kekesalan. wanita itu melangkah, menatap wajah Nicko dengan cukup intens. "Apa ini? sebelumnya kau memiliki banyak waktu untuk menggangguku! kau nyaris setiap muncul, rumah sakit, rumah Jade, apartemen. parkiran mobil, jalan raya." sejenak Karina mengeratkan giginya dengan tangan yang mengepal. "Dimana pun aku berada, kau selalu saja menguntit ku. kenapa sekarang kau sangat jual mahal? sejak kapan kau peduli dengan pekerjaanmu?" gerutu Karina mencecar.
"Baiklah, tapi sebelum itu cium aku dulu." pinta Nicko menggoda nakal sambil memangkas jarak wajah.
"Hah?" Karina memundurkan wajahnya dengan mulut yang sedikit terbuka, "Kenapa aku harus mencium mu? bukankah aku ini hanya teman bagimu?" celetuk Karina menyindir.
"Lalu, untuk apa aku mengantarmu? bukankah kau hanya temanku?" timpal Nicko membalas sindiran.
Karina semakin meradang. sejak awal, Nicko memanglah pembicara yang handal. sebaik apapun persiapannya, dalam soal perdebatan Karina tidak akan pernah bisa menang.
"Terserah!" celetuk Karina dingin kehabisan kata-kata. wanita itu lantas meraih kembali pakaiannya kemudian berlalu untuk mengenakannya.
"Kau mau kemana?" tanya Nicko mengerutkan dahi.
"Tentu saja mengenakan pakaianku, apa lagi?"
"Kau... jadi semalam?" Karina memandang Nicko dengan ekspresi wajah memelas.
Nicko menggelengkan kepalanya, dengan tangan yang mengibas cepat. "Tidak, aku tidak melakukan apapun."
"Benarkah?" Karina menganggukkan kepalanya seolah percaya, ia lantas kembali memutar badan berlalu menuju kamar kecil untuk mengenakan pakaian.
Sulit untuk Karina pungkiri, pada akhirnya perasaannya terasa jauh lebih tenang saat ia melihat wajah Nicko. tak perduli apa alasan pria tersebut tak menemuinya kemarin siang hingga malam. Karina merasa rindunya sudah terobati sekarang.
"Ini..." Karina membulatkan matanya, saat melihat pantulan tubuhnya di dalam cermin. wanita itu mempertegas tatapan, mendekati kaca yang menempel di dinding kamar kecil tersebut, guna memastikan jika matanya tidak salah melihat. "Nicko.....!!!!" pekik Karina kesal membuka sambil membanting daun pintu.
"Apa?" tanya Nicko penasaran.
"Ini apa?" Karina menunjukan dua noda merah tanda kepemilikan yang berada di atas dua gundukannya. "Kau berbohong! apa yang kau lakukan padaku semalam?" desak Karina mencecar.
"Aku..." Nicko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ia terlihat sangat kikuk dan kesulitan untuk menjawab apa yang Karina pertanyakan. "Ha... hanya, kita tidak melakukan apapun semalam. kau tidur, aku bersumpah."
__ADS_1
"Bohong," Karina menyela ucapan Nicko kasar. "Lalu bagaimana ada tanda kecupan di sini? apa itu ulahku sendiri?"
"Iya, itu ulahmu sendiri." sahut Nicko secepat kilat.
"Bagaimana mungkin? kau yang mengatakannya jika semalam aku tertidur." tegas Karina mengingatkan.
Nicko mengerjap, sepertinya ia terjebak dalam kebohongan yang sudah pria itu buat sendiri. entah yang mana kebohongan dan yang mana kejujuran. berkata jujur sekalipun Karina tidak akan mempercayai Nicko karena Nicko sudah terlanjur berbohong.
"Kau harus tanggung jawab!" tegas Karina penuh penekanan.
"Hah?" Nicko mempertajam tatapan herannya. "Tanggung jawab?"
"Iya, apa ada masalah?" Karina melipat tangannya dengan sebal, "atau jika tidak aku akan melaporkanmu kepada pihak yang berwajib. atas tuduhan mengambil kesempitan dalam kesempatan." Karina berdecak, "Maksudku kesempatan dalam kesempitan."
"Oke!"
Karina menganga seolah tidak percaya, "Kau setuju? kau akan bertanggung jawab?"
"Tidak," Nicko tersenyum santai. "aku setuju jika kau akan membawa masalah ini ke jalur hukum." imbuhnya sengaja menantang.
"Nicko, kau jahat sekali. aku yang di rugikan kau malah mengambil keuntungan!"
Grep... tangan Karina di tarik paksa hingga tubuh indah itu mendarat tepat di atas pangkuan Nicko. sorot mata kagum Nicko terus mengamati wajah cantik sang empu. Nicko membelai wajah itu, sambil menghirup aroma tubuh Karina kemudian berkata. "Apa jika aku mengatakan, kaulah yang menggodaku, lalu kau akan percaya?"
Karina menelan salivanya, wanita cantik itu membalas tatapan Nicko dengan sangat gugup. dalam keadaan tubuh yang menegang, Karina pun menjawab. "tapi... tapi kau bilang... kau bilang aku..."
Cup... kecupan lembut Nicko darat kan tepat di atas bibir Karina. pria itu melum*at mesra bibir tersebut meskipun Karina tak kunjung membalas ataupun menolaknya.
"Aku mencintaimu Karina, aku menginginkanmu." batin Nicko tulus memperdalam ciuman.
"Aku mencintaimu Nicko, jangan tinggalkan aku." batin Karina menikmati ciuman.
LIKE KOMEN DAN VOTE DONG...
__ADS_1