Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 43


__ADS_3

Oke, Nicko pada akhirnya setuju untuk mengantar Karina ke rumah sakit untuk bekerja. setelah melakukan penyatuan bibir, mereka terlihat salah tingkah. tak ada pembicaraan yang di lakukan pada saat di perjalanan. keduanya sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing. Karina yang merasa bahagia, lantaran semua itu terjadi. sedangkan Nicko berpikir, jika masih ada harapan untuk keduanya memperbaiki hubungan.


"Ehmmm..." Sambil mengemudikan kendaraannya. Nicko berdehem guna mencairkan suasana, bola matanya sesekali mencuri pandang kearah Karina yang terlihat demikian. "Karina, aku..."


Karina memalingkan wajahnya perlahan, menatap Nicko dengan bibir yang merapat menahan senyuman. "Dia pasti akan mengatakannya, aku tidak akan jual mahal lagi." batin Karina berharap.


"Aku..." Nicko sejenak menghentikan ucapannya berdecak kasar, "Sial, kenapa ini jauh lebih sulit dari biasanya!" batin Nicko frustasi.


"Ada apa?" tanya Karina berbinar.


"Aku... aku..."


"Ah sebentar," Karina menyela ucapan Nicko setelah merasakan getaran dari ponsel yang sedang ia genggam. wanita itu menatap layar ponsel, guna mengetahui siapa yang menghubunginya. "Iya, Dokter Robi?"


Dahi Nicko mengerut, pandangan matanya mengarah tajam kearah Karina setelah mendengar nama seorang pria terucap dari bibir sang empu.


"Ta... tapi, itu adalah tugas Dokter Sandra." ujar Karina menjawab, seketika wajahnya langsung memucat. "Ba, baik. aku akan segera datang." Karina langsung menutup pangggilan mengalihkan sorot matanya ke arah Nicko.


"Kenapa?" tanya Nicko penasaran.


"Ada pasien darurat. aku harus segera mengoperasinya, Sandra tidak bisa di hubungi. sepertinya ini ada kaitannya dengan semalam." tukas Karina ketakutan.


"Aku mengerti," Nicko langsung mempercepat laju kendaraan. pria itu tentu mengerti jika pekerjaan Karina memang harus siap kapanpun dan di manapun.

__ADS_1


Singkat waktu, Karina dan Nicko sudah tiba di rumah sakit. saat kendaraan terhenti, Karina keluar dan berlari tanpa mengatakan apapun pada Nicko. wanita itu bahkan sampai meninggalkan ponselnya dan tidak memberikan kesempatan pada Nicko untuk bicara.


Saat Karina sudah sampai di loby, ia langsung di hampiri oleh beberapa perawat yang sudah menunggunya. Dokter cantik itupun di arahkan untuk segera datang menuju ruangan perawatan.


"Kami sudah menyarankan tindak operasi dari dua hari yang lalu. Namun, pasien dan pihak keluarga menolak laporan dan menganggap sakit perutnya akibat maag biasa." ucap perawat Ricard berjalan cepat sambil menjelaskan kepada Karina.


Karina mengangguk, "Apa sekarang dia setuju?"


"Ya, istri pasien juga sudah mengisi form pendataan."


"Ada keluhan lain?" Karina menitipkan tasnya kepada salah satu petugas terpercaya yang ia kenal.


Perawat Richard menggelengkan kepala, "tapi proses tanya jawab belum di lakukan. kau yang akan bertanya, karena kau yang akan melakukan operasinya." ujar Richard mendorong pintu ruang perawatan di ikuti Karina yang mengekor.


"Ini istrinya,"


"Karina?" Richard langsung menopang tubuh Karina yang hampir keseimbangannya. "Kau baik-baik saja?" tanya perawat tersebut.


"Ayahmu, Karina. dia sakit keras," ucap wanita paruh baya yang tidak lain adalah istri kedua dari Ayah Karina.


Pandangan Karina teralihkan pada sesosok pria yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. entah kenapa, seketika ingatan menyakitkan itu muncul. wajah lesu dan ketidak berdayaan Arman sama sekali tak membuat Karina bisa menghapus kebenciannya.


"Karina, kau tampak cantik menggunakan jas Dokter itu." puji Arman tidak berdaya.

__ADS_1


Setetes air mata Karina mengalir, wanita itu langsung memalingkan wajahnya guna menyembunyikan kesedihannya. "Maaf, tapi aku..."


"Karina..." Nicko memanggil nama wanita yang di cintainya, saat pria itu melihat Karina sedang menyembunyikan air mata. "Kau menangis? aku datang untuk mengembalikan ponselmu." ucap Nicko melirik kearah Arman dan Richard bergantian.


"Maafkan, Ayah Karina." lirih Arman memohon.


Nicko tertegun, ia mulai bisa mengenali apa penyebab Karina menjatuhkan air matanya. seperti yang sudah Nicko ketahui, jika wanita tersebut memang sangatlah membenci Ayahnya. bahkan itu juga adalah salah satu alasan kenapa Nicko sulit mendapat penerimaan maaf dari Karina.


"Aku kekasihnya, kami sedang bertengkar. tolong berikan aku sedikit waktu untuk bicara dengannya." tukas Nicko pada semua orang yang berada dalam ruangan tersebut. lalu kemudian Nicko membawa Karina keluar dari sana dan langsung memeluknya.


Seketika tangisan Karina pecah. ia kebingungan menghadapi situasi rumit ini. bagaimana bisa Karina harus di hadapkan dengan pilihan sulit, sedangkan di sisi lain Karina tidak bisa mencampur adukan kebencian dengan pekerjaan.


"Aku mengerti," ucap Nicko mengelus kepala Karina menenangkan.


"Aku bahkan selalu berdoa, agar pria itu cepat menemui ajalnya. tapi kenapa harus aku yang terlibat," isak Karina dilema.


"Hey," Nicko meraih wajah Karina lembut lalu menyeka air matanya. "Bagaimanapun, dia adalah Ayahmu. kau tidak boleh melibatkan perasaan dalam pekerjaan." ucap Nicko lembut mengingatkan.


Karina mengerjap, ia meremat kemeja Nicko lalu menjawab. "kau tidak tahu bagaimana hancurnya hidupku saat ia mendorongku waktu kecil. ia memukul Ibuku, menampar Maria di depan mataku demi wanita itu. aku bahkan tidak pernah mendapat kasih sayang darinya. masa kecilku di hiasi oleh tangisan, itu semua karena dia," lirih Karina menitikan air mata.


Beberapa orang memang akan menganggap jika Karina lebih mementingkan kebenciannya dari pada nyawa sang Ayah. Namun, tidak ada yang tahu. bagaimana Karina menjalani itu semua dengan memori yang terus mengingatkan Karina pada perlakuan buruk sang ayah. hidupnya, impiannya, masa kecilnya, benar-benar sudah Arman hancurkan kala itu. hingga Karina sendiri kesulitan untuk menerima dan memaafkan kesalahannya di masa sekarang.


Trauma masa kecil Karina berhasil membuatnya ketakutan saat menjalin hubungan dengan seseorang. terlebih lagi, Nicko pernah mengukir luka yang berhasil membuat Karina semakin tidak percaya terhadap pria.

__ADS_1


"Jangan membebani dirimu lagi Karina. kau harus melupakan segalanya, kau harus memulai hidupmu yang baru. jangan terus terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. kebahagiaan menantimu di depan." ucap Nicko meyakinkan penuh kelembutan, "Jangan melakukan kesalahan." Nicko menghela nafas panjang sejenak, "setelah kau boleh melampiaskan, kemarahan dan kebencian mu padaku. aku tidak akan menyulitkan mu, aku akan mendapatkan hatimu sambil menebus kesalahanku. aku berjanji," imbuh Nicko tulus.


LIKE KOMEN DAN VOTEE, SEMANGATKU TERGANTUNG KOMENTARMU:D


__ADS_2