Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 25


__ADS_3

Nafas Karina tersenggal. gadis itu menyandarkan tubuhnya yang lemah sambil terus berusaha menghentikan pendarahan di punggung telapak tangan.


"Kenapa darah ini terus saja keluar," gumam Karina tidak berdaya.


Karina benar-benar sudah kehilangan seluruh tenaganya. tubuhnya terasa sangat lemas. bahkan untuk berbicara saja, Karina merasa sangat kesulitan.


"Kau kuat Karina, kau harus pulang." batin gadis itu sambil meneteskan air mata.


Bukan bermaksud untuk menyulitkan diri sendiri. hanya saja, Karina benar-benar sudah tak ingin terlibat jauh dengan pria jahat yang sudah menghancurkan hidupnya. apa yang Karina pikirkan sebelumnya ternyata memanglah benar, tidak ada yang bisa menjamin ketulusan seseorang. Ayah dan bahkan pria yang baru di pacari Karina berani mengkhianatinya. lantas, pria seperti apa yang harus Karina percayai?


"Karina," Nicko langsung menangkap tubuh Karina, saat pria itu menemukan kekasihnya sedang berjalan perlahan berpegangan pada tembok.


"Ah..." Pandangan Karina terasa kabur. kepalanya semakin memberat. "sakit," lirih Karina tak berdaya.


Nicko meraih tangan Karina, ia begitu terkejut saat melihat begitu banyak darah mengalir dari sana. "Kenapa kau keluar? apa yang akan kau lakukan?"


"Lepas," Karina mencoba memberontak seolah tak sudi saat tubuhnya tersentuh Nicko.


"Ada apa Karina?" Nicko memandang Karina penuh sesal sambil memeluk erat tubuh wanita itu.

__ADS_1


Karina memalingkan wajahnya, sorot matanya benar-benar terlihat sedang menahan rasa sakit. baik secara fisik, maupun secara batin. sejenak Karina mengerjap, dan berkata. "setelah semua yang terjadi padaku, kau masih berani bertanya?" Karina tersenyum kecut meneteskan air mata, "apa lagi yang kau inginkan? kau sudah mendapatkan segalanya. seluruh hidupku sudah kuberikan padamu! pergilah, jangan bersikap sok baik padaku. kenyatannya semua yang kau lakukan sekarang penuh kepalsuan." Karina memecah tangisan, memukul Nicko dengan tenaga yang tersisa. "Kau membunuh bayiku, kau menyebabkan begitu banyak masalah. kau penjahat!" lirih gadis itu histeris.


Kesedihan yang Karina rasakan terasa begitu menyakitkan untuk Nicko. ia semakin di tikam oleh rasa bersalah penuh sesal saat melihat Karina menangis tidak berdaya dalam pelukannya. Nicko akui, semua itu memang kesalahannya. Namun, ia sama sekali tak menyangka jika hal ini akan terjadi sampai memakan korban nyawa kecil yang berada dalam kandungan Karina.


"Tolong maafkan aku," Ucap Nicko memohon, sambil mengeratkan pelukan mendaratkan kecupan di wajah cantik Karina. "Aku bersalah, semua memang salahku."


"Tuan, sebaiknya kita harus membawa kembali Nyonya Karina. kita harus menghentikan pendarahannya." ucap Perawat yang baru saja datang.


Nicko mengangguk, ia langsung mengangkat tubuh Karina. gadis itu ternyata sudah kehilangan kesadarannya. bahkan perawat mengklaim jika Karina telah kehilangan tenaga akibat pendaran tersebut.


Sejak saat itulah, Karina memulai pelariannya. ia pernah mengalami kegagalan di awal. Namun, usaha kedua Karina berjalan dengan sempurna. ia berhasil pergi tanpa meninggalkan jejak hingga sukses membuat Nicko, Helen dan Johan kewalahan.


Tahun kedua, Karian berhasil mendapat gelar kehormatan sebagai seorang dokter. pencapaiannya cukup baik, seningga Karina bisa dengan mudah mendapat rekomendasi pekerjaan dari beberapa pihak terpandang.


Tahun ketiga, keempat dan kelima. Karina terus saja di pertemukan dengan Nicko, entah itu suatu kebetulan atau sudah terencana. hingga pada akhirnya Karina harus memutuskan untuk berpindah-pindah negara demi melupakan masa lalunya.


Flashback of... lanjutan eps 5.


"Aku tidak perduli, seberapa keras kau mengusir dan melarikan diri dariku! aku akan tetap terus mengejarmu!"

__ADS_1


Karina terkekeh, ia menyilangkan tangan sambil menatap jiji kearah Nicko kemudian berkata. "bukankah hal itu sudah kau lakukan? kali ini apa yang kau lakukan? hutang siapa yang harus aku bayar? berapa nilai harga hutang tersebut? satu kali tidur? dua atau bahkan..."


"Cukup Karina!" tegas Nicko meninggikan suara, pria itu lantas mendekatkan tubuh diantara dirinya dan Karina hingga kini keduanya hanya terpaut jarak satu jengkal saja. "Aku buruk, aku penjahat. bahkan kau mengatakan aku sebagai pembunuh bayi kita. apa lagi? hukuman yang seperti apa yang kau inginkan? tidak kah kau cukup kasihan padaku? aku mengejar mu selama bertahun-tahun! ini kah sikapmu padaku? bahkan sampai detik ini kau masih sangat membenciku!"


"Kasihan?" Karina terkekeh, ia mendorong Nicko yang terus menghimpitnya lalu menunjuk pria itu penuh kemarahan. "Apa kau kasihan padaku, saat kau dan Helen manjadikan ku sebagai jaminan? kau pikir aku ini apa? barang?" celetuk Karina penuh penekanan.


"Bagiku kau terlalu berharga. itulah alasanku kenapa aku sampai detik ini berada di hadapanmu!" Nicko menarik tubuh Karina lalu mendekapnya dengan sangat begitu erat hingga Karina sendiri kesulitan untuk memberontak. "Kembalilah padaku, kita menikah. berapapun anak yang kau inginkan, kita bisa membuatnya sekarang."


Plak...


Tamparan keras Karina layangkan tepat di wajah Nicko. "Aku tidak menyangka, kau terlalu menganggap remeh kematian bayiku." Karina memecah tangisan sambil mencengkram kemeja yang Nicko kenakan. "Apa pernah kau berpikir bagaimana perasaanku, saat kau menghancurkan hidupku dan membuat bayiku meninggal?" Karina memukul tubuh Nicko, "Apa statusku sekarang? seorang gadis? aku bahkan sudah pernah mengandung tanpa adanya pernikahan. apa itu semua tidak cukup bagimu?"


"Aku datang Karina, aku bertanggung jawab sepenuhnya atas dirimu! aku mencintaimu degan tulus, aku berniat menikahi mu jauh sebelum kau mengetahui kebenaran itu. satu hal yang harus kau tahu. penyesalanku adalah saat aku berniat untuk memainkan perasaanmu. Namun, malah aku aku sendiri yang terjebak!" pekik Nicko memberi penjelasan dengan emosi yang memuncak.


Karina tertegun, mulutnya seolah terbungkam akan tetapi sakit hati dan kebenciannya berhasil menutupi cintanya. "Pergi," titah Karina dingin.


"Kapan kau akan mengerti Karina?" lirih Nicko prustasi, pria itu bahkan bersimpuh dihadapan Karina sambil meneteskan air matanya.


"Aku sudah bersumpah atas diriku, jika aku tidak akan pernah kembali padamu." ucap Karina memalingkan tubuhnya menghapus air mata.

__ADS_1


__ADS_2