
Keesokan harinya, pada jam makan siang. Karina sama sekali tidak bisa menghilangkan rasa lelahnya akibat Nicko yang terus saja menyerangnya semalam. pinggang, lutut, dan leher Karina terasa lemas dan kaku. bahkan hanya untuk memalingkan wajah, Karina benar-benar kesulitan.
Tok... tok... Karina melirik ke sumber suara, dan mendapati Richard telah membuka pintu ruangannya.
"Selamat siang, Dokter." sapa Richard ramah.
Karina menyunggingkan senyumnya, membalas sapaan Richard. "Hey, tidak biasanya kau datang. ada apa?" tanyanya sambil memberikan isyarat untuk mempersilahkan duduk.
"Tidak, aku hanya ingin mengajakmu untuk makan siang bersama. itupun jika kau tidak keberatan." tutur Richard gugup, menatap kecantikan Karina.
Sejenak Karina terdiam, ekspresinya berubah menjadi datar seketika. sudah berapa lama ia bekerja di rumah sakit? Namun, Karina belum mengenal setiap detail gedung besar tersebut. sungguh, waktunya hanya di habiskan dengan memikirkan beban masalah yang terus menimpanya. Karina bahkan terus saja melewatkan kesempatan menyenangkan di setiap hari-harinya.
"Kau bersedia?" tanya Richard kembali, setelah tak kunjung menerima jawaban.
"Baik," Karina beranjak meraih ponsel dan merapikan mejanya.
Senyum kebahagiaan Richard tercipta. katakan saja, jika Karina adalah seorang Dokter muda nan cantik. keberadaannya yang belum lama sukses membuat seisi gedung itu penasaran dengan visual sempurnanya yang selalu dielu-elukan.
Karina dan Richard mulai berjalan beriringan dengan posisi Richard yang memimpin sambil terus mengoceh guna menarik perhatian Karina. Namun, sepertinya Karina lebih tertarik pada Sandra yang duduk di kursi sudut ruangan sambil melamun mengaduk-aduk minumannya.
"Kau tahu, bahkan saat kau berjalan denganku saja. mereka langsung menatap kita berdua, ku ra..." Richard memalingkan tubuhnya ke belakang menatap Karina. akan tetapi wanita yang ia sukai itupun sudah tak berada di sana dan memilih untuk menghampiri Sandra. "Dokter..." pekik Richard memanggil.
Karina melambaikan tangannya, seolah memberikan isyarat jika wanita cantik tersebut ingin bergabung dengan Sandra. kemampuan Karina yang sulit untuk membaca sikap seseorang membuat ia kesulitan untuk membedakan mana orang yang benar-benar perhatian atau orang yang menaruh perasaan.
"Sandra..." Karina langsung mendudukan bokongnya di hadapan wanita tersebut, "kemana saja kau? kenapa jarang datang keruangan ku?"
__ADS_1
Spontan Sandra memalingkan wajahnya, seolah takut untuk melihat wajah Karina. jantungnya berdebar, seluruh tubuhnya merinding seketika saat Karina menyeret gelas minuman Sandra lalu menyeruputnya.
"Aku... aku harus pergi,"
"Hey..." Karina menahan tangan Sandra, tak mengijinkan wanita itu untuk meninggalkannya. "kau ini kenapa terus saja menghindari ku?" gerutu Karina heran mengerutkan dahi.
Ya, sepertinya Karina memang sudah menyadari hal ini. sejak perpisahannya beberapa waktu lalu di cafe yang Johan janjikan, namun pria itu justru menolak untuk datang. setelah mengetahui jika Sandra akan turut bergabung bersamanya.
Beberapa waktu sebelumnya...
Sandra dengan bibir mengerucut berjalan melewati parkiran cafe. pandangannya terus tertuju pada mobil yang terparkir sempurna dengan lampu yang menyala, menandakan jika si pemilik masih menyalakan mesinnya.
Penuh kekesalan, Sandra mengepalkan tangannya berjalan cepat menghampiri mobil tersebut. tentu saja Sandra mengenali mobil itu, mobil yang beberapa kali sering Johan gunakan untuk menemuinya.
"Ka... kau..." ucap Johan kikuk.
"Ya! ini aku!" Sandra mengeratkan giginya, berlari menuju pintu lain untuk memasuki mobil Johan.
"U... untuk apa?" tanya Johan terbata, setelah menyadari jika Sandra ingin memasuki mobilnya.
Suara Sandra terdengar samar-samar. Namun, isyarat tangannya berhasil menyadarkan Johan jika Nicko berada dekat di sekitarnya sedang memarkirkan mobil pula. Johan langsung membuka pintu dan membiarkan Sandra masuk. deruan nafas Sandra sangat tidak beraturan, sepertinya ia memang takut jika ada seseorang yang ia kenal memergoki kebersamaannya dengan Johan.
"Kau bercanda? bagaimana jika Nicko melihat kita berdua?" gerutu Sandra memarahi.
Johan hanya bisa terdiam, sungguh. kepribadian Helen dan Sandra sangatlah bertolak belakang. meskipun Helen notabane-nya adalah wanita yang tidak tahu aturan, dan sedikit liar. akan tetapi sikapnya jauh bisa menutupi itu semua. berbeda dengan Sandra yang mudah sekali tersinggung, banyak bicara, tentunya sangatlah ceroboh dan lebih terang-terangan.
__ADS_1
"La... lalu aku harus apa?" sahut Johan pasrah menanggapi.
"Sebagai gantinya, kau harus memelukku!" celetuk Sandra dengan bibir yang mengerucut.
"Hah?" Johan terperangah dengan ekspresi wajah datar.
"Kenapa?" Sandra memincingkan matanya menatap Johan tajam, "kita ini kan pasangan!"
Glek... Johan menelan salivanya, entah harus dengan cara apa dan bagaimana ia menghadapi sikap kekasihnya. sungguh, sejauh ini Johan belum merasakan getaran apapun. katakan saja, jika hubungan itu memang dilandasi atas dasar keterpaksaan. keduanya sepakat, untuk menjalani hubungan tersebut dan jika tidak cocok. keduanya akan berpisah secara baik-baik tanpa merugikan kedua belah pihak.
"Jangan terlalu kaku," Sandra menyentuh bahu Johan dan mengelusnya. "bagaimana kita akan mengetahui hasil akhirnya, jika kau sama sekali tidak bisa di ajak untuk bekerja sama."
Sentuhan tangan Sandra benar-benar membuat Johan merinding. meskipun sebelumnya ia menjalin hubungan dengan Helen yang sudan berpengalaman. Helen berpegang teguh ingin mengubah dirinya menjadi lebih baik. begitupun dengan Johan yang senantiasa mendukungnya.
"Astaga," Sandra kehilangan kesabaran, tubuh Johan sampai gemetar setelah wanita itu memberikan sentuhan. "kau ini polos, atau munafik?" Sandra kembali meninggikan suaranya penuh kekesalan.
"La... lalu aku harus apa?" sahut Johan spontan penuh kecemasan. ingin rasanya, Johan mengatakan jika dirinya sama sekali tidak memiliki perasaan. Namun, hal itu tak Johan lakukan karena khawatir akan melukai perasaan Sandra. sebab hubungan itu terjadi atas ajakannya.
"Seperti ini," Sandra langsung menarik dasi yang melingkar di leher Johan, memperdekat jarak yang tercipta di antara mereka hingga kini wajah keduanya hanya terpaut beberapa senti saja.
"A... apa yang kau laku..." belum sempat Johan menyelesaikan ucapannya, Sandra justru langsung menempelkan bibirnya pada bibir pria tersebut, sambil memejamkan mata menikmati setiap kelembutan pada bibir Johan. Johan terperangah, bola matanya melebar seketika saat Sandra dengan sangat telatih terus memagu*t bibirnya mencari celah untuk memperdalam ciuman.
Johan terus di hantui oleh rasa cemas dan khawatir. tidak kah dirinya berdosa karena sudah begitu mudah menjalin hubungan dengan seorang wanita, sedangkan wanitanya sendiri baru beberapa minggu ini pergi. sungguh, rasa bersalah itu kian muncul. akan tetapi ini semua memanglah yang Helen inginkan darinya. bagaimana Johan bisa menolak, jika hal ini lah keinginan terakhir dari kekasihnya.
BERIKAN BANYAK DUKUNGANNYA, LIKE KOMEN DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA...
__ADS_1