Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 75


__ADS_3

Entahlah, meskipun salah. kali ini Karina merasa jika kesalahan yang ia lakukan adalah sesuatu yang bisa di katakan indah. Awalnya memang rumit dan menyakitkan. Namun, siapa sangka jika perasaan itu sama sekali tak berubah, meskipun Karina sudah mendapatkan luka.


Sebuah tubuh Karina pandangi. rasanya, waktu berjalan sangat cepat. ketika beberapa hari lagi waktu pernikahan akan segera datang. Ada yang aneh saat Karina menatap Nicko, tanpa mengalihkan pandangan. sejak dua hari terakhir, Nicko terus menghindari Karina setiap kali pria itu memainkan ponselnya. bahkan ketika Karina menghampiri Nicko, ia lantas dengan segera mematikan ponsel tersebut hingga sukses membuat Karina curiga.


"Ada apa?" Karina bertanya, dahinya mengerut dengan tatapan tak biasa.


Nicko menggeleng, pria itu langsung memasukan ponselnya kedalam saku kemudian mengukir senyum sambil meraih wajah cantik sang empu, "Tidak, Ini hanya tentang pekerjaanku saja." jelas Nicko santai meyakinkan.


Nyatanya, alasan tersebut tak cukup membuat batin Karina puas. gadis itu yakin, jika Nicko telah menyembunyikan sesuatu darinya. selain masalah pekerjaan yang Nicko katakan.


"Aku tidak bohong, jangan menekuk wajahmu seperti itu." Nicko membujuk Karina, pria itu memangkas jaraknya lalu menghimpit Karina yang seolah tak ingin menatap wajahnya.


"Aku bisa saja percaya, tapi setiap aku percaya, kau selalu menipuku tanpa tanggung-tanggung." celetuk Karina, senada mengungkit.


"Sayang," Nicko membelai rambut panjang Karina, sorot matanya terlihat begitu mengagumi kecantikan calon istrinya. "kita berdua akan menikah, aku rasa kau tidak perlu membahas masa lalu kita berdua. aku menyesalinya, dan aku ingin menebusnya."


Karina mungkin memang sudah mengikhlaskan semua yang terjadi padanya di masa lalu. Akan tetapi, setiap kali bayang-bayang itu muncul Karina tak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Lagi-lagi, Karina merasa jika Nicko adalah pria jahat yang telah memporak-porandakan kehidupannya.


"Baiklah," Nicko mengerti ekspresi wajah Karina, pria itu menghela nafas panjangnya. "Aku mengerti bagaimana perasaanmu, jika hal itu hanya membuatmu sakit. aku sarankan kau tidak seharusnya terus mengungkit."


"Aku tidak bisa mengontrol isi kepalaku. ingatan itu muncul begitu saja, rasanya aku ingin menyakiti diriku sendiri ketika aku mengingatnya."


Nicko berkaca-kaca, kata yang terus terlantun dari bibir manisnya setiap kali menghadapi Karina tak lain dan tak bukan adalah sebuah ungkapan maaf penuh ketulusan.


Entah harus berapa kali lagi Nicko menekan Karina, jika di masa lalu hingga sekarang ia tulus mencintai gadis tersebut. Nicko tersandung permainan yang ia ciptakan, tak berhasil menjebak. dirinyalah yang lantas terjebak.

__ADS_1


"Nicko, aku..." Karina menarik dirinya dari Nicko, gadis itu menyentuh dadanya sambil merapatkan bibirnya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Ekspresi cemas Nicko tak terelakan, pria itu langsung meraih bahu Karina.


"Uwekk..." Karina menjauh dari Nicko dengan cepat, langkahnya tertuju pada sebuah kamar kecil yang berada di dalam ruangan kamar tersebut.


"Sayang, tunggu..." Nicko mengekor sang empu, ia berdiri di belakang tubuh Karina saat wanita itu sedang mengeluarkan cairan bening dari mulutnya. "Ada apa? apa kau sakit?" tanya Nicko cemas, pria itu membantu Karina memijat pelan punggung dan juga bahunya.


"Uwekkk..." air mata Karina sampai turut keluar, perutnya sungguh terasa sangat mual. beberapa helai tisu Karina ambil dan gunakan untuk mengelap bibirnya yang memucat perlahan.


"Hey..." Nicko memalingkan tubuh Karina agar gadis itu berdiri menatapnya. "Apa yang kau rasakan? kau sakit?"


Karina menganggukkan kepalanya sejenak, bibir gadis itu bergetar dengan raut wajah memelas.


"Baiklah, ayo. kau harus memeriksa kondisi tubuhmu sendiri," Nicko menuntun Karina keluar dari dalam kamar mandi, keduanya melangkah secara beriringan.


Nicko membantu Karina mendaratkan tubuh lemahnya di bibir ranjang. pria itu juga mendorong bahu Karina perlahan, agar Karina berbaring.


"Apa yang kau lakukan? aku hanya sedikit pusing dan mual. kenapa kau sangat berlebihan."


"Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu, kau calon istriku. aku yang bertanggung jawab penuh atas dirimu."


Karina membisu. ucapan Nicko berhasil membuatnya tersentuh. kadang kala Karina merasa heran, sebenarnya jenis macam apa Nicko itu? dalam waktu singkat, setelah merasakan sakit akibat teringat kembali bayang-bayang masa lalu. kini, Karina merasa sangat di cintai dan di istimewakan. pria ini sangat sulit di tebak, di sisi lain, Nicko jahat, di sisi lain Nicko juga baik.


Karina mengerjap, tangannya bergerak perlahan mengelus perut ratanya. sebagai seorang dokter, nalurinya cukup kuat. tanpa harus bicara, ia tahu jika gejalanya kali ini ada kaitannya dengan wanita yang sedang berbadan dua.

__ADS_1


"Ini, sekarang kau harus meminum obatnya." ucap Nicko tanpa mengurangi kegelisahannya.


"Nicko, aku hamil."


Prang... sebuah sendok dan sirup mual Nicko jatuhkan. pria itu terpaku, bibirnya terasa kelu. keterkejutannya benar-benar di luar nalar dan sangat berlebihan.


"A... apa ini?" tanya Karina menajamkan tatapan.


"Aku... aku..." tubuh Nicko bergetar, pria itu bahkan tak bisa mengatakan sesuatu dengan benar.


"Kau tidak senang, jika aku hamil?"


Nicko menggeleng cepat, tenggorokannya terasa tercekat. "Tidak, maksudku. aku... apa kau... kau yakin, jika dirimu hamil?"


"Aku belum datang bulan, setelah kita kembali berhubungan badan. aku memang belum memastikannya, tapi aku yakin. jika kondisiku sekarang, menunjukan jika aku sedang hamil."


Nicko terdiam, ia hanya bisa memandang Karina dengan ekspresi datar.


"Ada apa? apa kau tidak menginginkan bayi ini?"


Sebuah senyum Nicko lemparkan, pria itu melangkah mendekati Karina dan langsung memeluknya. "Apa yang kau katakan? tentu saja aku sangat senang. kita berdua akan menikah, dan itu bukan masalah."


Tetap saja, Karina mampu membaca ekspresi Nicko yang terlihat mencurigakan. senyumnya terlihat tak tulus dan penuh paksaan. bahkan ia semakin yakin, jika Nicko sedang menyembunyikan sesuatu darinya. meskipun Karina belum tahu itu apa.


Anggap saja Karina merasa sedikit trauma, sebab di kehamilan sebelumnya ia mendapat pengalaman hidup yang begitu pahit dan menyedihkan. di tipu habis-habiskan sampai di manfaatkan, semua itu Karina rasakan dalam satu fase berbarengan.

__ADS_1


KOMEN, UNTUK KEDEPANNYA UPDATE RUTIN. KARENA CERITA INI SUDAH TERKONTRAK DI MANGATOON.


__ADS_2