
Karina terbelalak saat melihat Nicko dengan lihainya menekan angka password apartemen milik Karina. padahal sebelumnya Karina sama sekali tidak pernah memberi tahukan kode tersebut kepada siapapun.
"Kau..." Karina menatap heran mendalamkan lipatan di dahinya, "Bagaimana bisa..."
"Aku pernah melihat kau menekannya, jadi aku hafalkan saja." sahut Nicko tanpa berdosa.
Karina mendengus, giginya semakin mengerat saat Nicko bertingkah layaknya si pemilik dan mengabaikan Karina begitu saja. Nicko menekan saklar lampu, hingga membuat ruangan gelap tersebut menjadi terang seketika. keadaan tempat tidur terlihat sedikit berantakan. padahal seingatnya, Karina sudah membereskan ranjang tersebut.
"Apa tadi kau disini?" tanya Karina penuh curiga.
Nicko melempar senyumnya, ia mengangguk lalu kemudian mendekati lemari nakas sambil berkata. "Aku sudah memesan makanan, kita bisa makan sekarang."
Apa ini? ternyata semua itu sudah Nicko siapkan. Karina pikir, sebelumnya Nicko hanya bertanya untuk sekedar basa-basi saja. Karina sampai tertegun di buatnya, sikap dan tindakan Nicko benar-benar penuh kemisteriusan.
"Aku pikir, kita harus tinggal bersama saja."
"Hah?" Karina terkejut setelah mendengar pernyataan Nicko. "U... untuk apa? apa kau akan membayar sewanya?" sambungnya memincingkan mata.
"Kau tenang saja, aku punya debit tanpa limit. usahaku dimana-mana. kau harus tau ini, aku sedang mengembangkan bisnis di dunia fashion dan perhotelan." ujar Nicko penuh kebanggan menyombongkan diri.
Karina tersenyum kecut, ia mengenali sifat ini. sifat yang selalu membuat Karina kegelian. "Akhirnya kau membuka kedokmu! dasar tukang pamer." hardik Karina memainkan mimik wajahnya.
__ADS_1
Nicko terkekeh, ia lantas memajukan langkahnya mendekati Karina. wajah mereka kini saling bertemu. Namun, sorot mata Karina terlihat sedang menyimpan kekesalan terhadapnya.
"Untuk apa mendekat?" tanya Karina sebal memundurkan langkah.
"Bagaimana? kau setuju?" Nicko kembali mendekatkan dirinya terhadap Karina yang terus berjalan mundur tanpa mengalihkan tatapan.
"Tidak! kita belum menikah, aku tidak akan pernah setuju." tegas Karina penuh keyakinan menolak.
Namun, jawaban yang Karina berikan justru membuat Nicko merasa kegelian. Nicko meraih ujung rambut Karina lalu membelainya dan berkata. "Di negara kita, itu semua di bolehkan asal tidak merugikan orang lain!" jelas Nicko memiringkan senyuman.
"Kau benar, aku yang akan di rugikan. itu sebabnya aku menolak," Karina memalingkan wajahnya karena tak berani membalas tatapan Nicko yang terus mengintimidasinya.
"Ayolah, Karina. alasanmu menolak sangatlah tidak masuk akal, katakan saja. kau juga menginginkan hal itu bukan?" desak Nicko menggoda.
"Oke, tapi berikan jawaban yang jelas. apa kau mencintaiku?"
Mata Karina membulat, jantungnya berdebar cepat saat Nicko semakin mendekatkan wajahnya hingga Karina bisa merasakan deruan nafas Nicko yang cukup berat.
"Aku tidak akan mempersulitnya lagi, jika kau mengakui perasaanmu." imbuh Nicko meraih wajah Karina.
Karina mengerjap, ia mencoba untuk tidak terpengaruh. ucapan Nicko dan perlakuan lembutnya selalu saja sukses membuat Karina tak berdaya. sentuhan ini selalu saja menyesatkan jalan pikiran Karina. sejenak Karina mendorong Nicko lalu berkata, "Ayo makan." ucapnya mendekati meja nakas merah makanan.
__ADS_1
"Jawab aku," Nicko memeluk Karina dari belakang lalu menggigit gemas bahu Karina. "Aku merindukanmu, sayang." lirih Nicko menghembuskan nafasnya di daun telinga Karina.
"Mmm, aku..." Karina menggerakan bahunya. astaga, bagaimana Karina bisa menghadapinya? karena sejujurnya Karina juga sangat merindukan Nicko dan kegilaannya. "Aku..."
"Kau belum menjawab ku, jangan mengalihkan pembicaraan." ujar Nicko menyela ucapan Karina.
Wajah tampan Nicko, bibir manisnya semakin dekat dengan wajah Karina. pria itu menempelkan hidungnya di atas hidung Karina dengan tangan yang menelisir punggung dan bahu Karina. sesekali Nicko menekan tengkuk Karina, lalu pada akhirnya Karina lalai dan membiarkan bibirnya di rengkuh oleh Nicko.
Hati Karina seolah berhasil menghempas penolakannya. seluruh tubuh Karina di buat tak berdaya. ingin rasanya Karina membalas pelukan yang Nicko berikan. membalas ciuman rakus yang terus pria itu lakukan. akan tetapi rasa gengsi Karina sukses membuat semua niatnya terurungkan.
"He... hentikan," Karina memalingkan wajah melepaskan ciuman. "ini cukup, kita bisa melanjutkannya setelah menikah." celetuk Karina menyembunyikan wajahnya.
Nicko terkekeh, tangan jahilnya mengarah ke hidung Karina sambil berkata. "Siapa yang akan menikah?"
Mulut Karina sedikit terbuka dengan mata yang melotot tajam. "Kau..." Karina mendorong Nicko yang terlihat sedang mempermainkannya. "Pergi sana!" pekiknya mengusir.
"Aku bercanda, sayang." Nicko mencubit gemas hidung Karina, "Kau jauh lebih sensitif dari sebelumnya. apa kau tidak kapok mencintaiku? setelah aku menyakitimu justru sekarang kau malah ingin aku nikahi." imbuh Nicko dengan ekspresi wajah serius dan mata yang berbinar.
Sebaliknya, Karina tak menganggap hal ini serius. ia justru menatap kejam kearah Nicko karena merasa pernyataan Nicko terlalu menyudutkannya. "Aku?" Karina menunjuk dirinya sendiri, "Ingin kau nikahi?" wanita itu lantas terkekeh, "Aku juga bercanda! aku... aku..."
Cup... Nicko langsung membungkam bibir Karina dengan kecupannya. Karina selalu saja menampik perasaannya. Namun, Nicko sendiri sudah tahu jika wanita ini tak ingin Nicko tinggalkan. Karina masih mencintainya meskipun Karina tak pernah berkata jujur.
__ADS_1
Nicko tarus memperdalam ciuman, meraup bibir Karina dan mendesak lidahnya agar wanita itu pasrah menerima ciumannya. tangan Nicko terus bergerak memasuki celah pakaian Karina. Nicko bahkan membuka kancing kemeja ketat yang Karina kenakan dan memasukan tangannya kedalam penyangga dua gundukan untuk memainkan benda tersebut penuh rasa gemas.
LIKE KOMEN DAN VOTENYA...