
Nicko kembali menyatukan bibirnya dengan Karina, pria itu terus memaksa dan mendesak lidahnya agar Karina dapat menerima ciuman yang Nicko berikan. suhu tubuh keduanya meningkat, tak terelakan. sentuhan Nicko yang terkesan memaksa memang sangatlah Karina rindukan. walaupun Karina terus saja menolak, penolakannya justru malah semakin membuat Nicko bergairah. gerakan tubuh Karina semakin membuat bagian bawah tubuh Nicko yang sensitif semakin mengeras.
Nicko melonggarkan cengkraman tangannya, ia mulai menelusur titik rangsangan bagian tubuh Karina. awalnya Karina memang memberontak. Namun, Karina pada akhirnya membiarkan Nicko mengecupi bagian dadanya dengan begitu rakus. satu tangan Karina mulai bergerak menelisir meja, wanita itu meraih sesuatu dari atas meja tersebut dan... "Bruk." Karina menghantamkan sebuah pas bunga pada bagian bahu Nicko hingga membuat pria itu langsung menghentikan aksinya.
"Kau gila?" Nicko melepaskan Karina sambil merasakan sakit yang luar biasa di bagian yang terhantam.
Nafas Karina tersenggal, wanita itu lantas merapikan dan memasang kembali kancing kemeja sedikit ketatnya yang terlepas. "Jika kau berpikir penolakan ku hanya sekedar geretakan. kau salah, aku bahkan bisa melakukan lebih dari ini jika kau masih berani menyentuhku lagi."
"Dasar keras kepala," ucap Nicko kesal dan langsung berlalu.
Nicko terlihat begitu marah, entah apa yang sedang pria itu pikirkan. Namun, ucapan kasar dan tatapan mematikannya cukup membuat Karina yakin. jika setelah ini Nicko benar-benar akan menyerah.
"Aahh..." dalam mobil, Nicko terus memegangi bahunya yang terasa sakit. "Apa dia tidak waras? dia hampir membunuhku tadi," batin Nicko sambil menyalakan mesin mobilnya.
Nicko berpikir, apa caranya begitu memaksa? padahal ancaman kecil ini sebelumnya berhasil. Karina akan tersihir dan tidak bisa menolak sentuhan yang Nicko berikan.
__ADS_1
"Meskipun terkesan berlebihan. Namun, sepertinya hanya cara itulah yang bisa membuatmu menyerah." sejenak Karina menutup gorden kediaman Maria, saat wanita itu melihat jika Nicko sudah berlalu mengemudikan mobilnya. "Maaf Nicko, semakin kau memaksa. aku semakin yakin, jika itu semua hanya karna nafsu dan obsesi mu semata."
Kejadian itu bahkan di saksikan oleh Jade yang penasaran. Jade milihat dengan jelas bagaimana Nicko memaksa Karina. bertindak kurang ngajar pada sang adik ipar, hingga membuat Karina tak segan menghantamkan pas bunga dengan kasar.
"Bagaimana?" tanya Maria menghampiri Jade penasaran.
Jade menggelengkan kepalanya, pria itu menghela nafas panjang lalu menjawab. "sepertinya Karina terlalu takut, ia di kurung oleh trauma masa lalunya hingga terjebak dalam waktu yang cukup lama." sejenak Jade mengingat bagaimana Nicko membentak Karina setelah mendapat pukulan. "Aku yakin, Nicko akan menyerah setelah Karina menyakitinya barusan."
"Menyakiti?" Maria membuka mulutnya terkejut,b"Apa yang dia lakukan pada Nicko?"
"Menghantamkan pas bunga kaca mu." sahut Jade sambil berlalu memasuki kamar.
Keesokan harinya, Johan menggerakan tubuhnya di atas sofa ruangan perawatan Helen. pria itu mengerjap mencoba memulihkan penglihatan. sepertinya waktu masih sangat terlalu pagi untuk membangunkan dan menyapa Helen kala itu yang masih terpejam.
"Selamat pagi, Tuan Johan." sapa Sandra memasuki ruangan.
__ADS_1
Johan tersentak, pria itu langsung beranjak dengan mata yang melebar. "Kau... kenapa pagi sekali sudah datang."
Sandra menatap heran pria di hadapannya, wanita cantik tersebut lantas melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian berkata. "Ini sudah pukul 9, sudah waktunya jam pemeriksaan."
"Jam 9?" Johan langsung berlalu menuju kamar kecil yang berada dalam ruangan tersebut untuk mencuci wajahnya. sedangkan Sandra melangkah mendekati ranjang Helen untuk melakukan pemeriksaan.
"Apa dia masih belum bangun?" batin Sandra meraih tangan Helen. entah mengapa Sandra merasa tangan tersebut begitu sangat dingin, suhu tubuh Helen berbeda dari biasanya hingga membuat Sandra lantas meraih wajah Helen dan menepuk-nepuk guna membuat Helen terbangun. "Nyonya Helen..." pekik Sandra cemas.
Johan yang keluar dari kamar kecil pun terus memperhatikan kecemasan Sandra lalu menghampirinya. "Kenapa?"
Sandra menelan salivanya, dengan mata menggenang gadis itupun menjawab. "Nyo... Nyonya Helen, dia... dia meninggal."
Deg... Johan langsung mengubah ekspresi wajahnya. dengan tubuh bergetar, pria itu meraih wajah Helen lalu menjatuhkan air matanya. "He... Helen, Dokter itu bohong bukan?" Gigi Johan mengerat, ia langsung memecah tangisan begitu merasakan suhu tubuh dingin Helen dan langsung memeluk Helen penuh kasih sayang.
Astaga, Sandra sendiri tak menduga. kenapa semua ini begitu cepat terjadi, padahal dua hari sebelumnya pasiennya tersebut cukup memberikan keterangan jika kondisinya sudah berangsur membaik. Helen juga sempat mengumbar kekesalan pada Sandra lantaran kesalah pahamannya. dilihat dari kondisi Helen sekarang, sepertinya wanita tersebut sudah kehilangan nyawanya semalam.
__ADS_1
"A... aku akan mengurus hal ini dan menyampaikannya kepada pihak direktur." ucap Sandra turut merasa bersedih, "Aku turut berduka cita, Tuan Johan." lirih Sandra meneteskan air mata kemudian berlalu.
LIKE KOMEN DAN VOTE