Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 53


__ADS_3

Sandra dengan santainya hendak mengetuk pintu ruangan pribadi Karina. Namun, saat tangannya sudah berjarak beberapa inci dari dari daun pintu. gadis itu langsung mengurungkan niatnya lantaran mendengar suara yang tak mengenakan dari dalam sana.


"Ah... perlahan, kau terlalu menekan ku."


Sandra melirik kikuk kearah Johan yang berada tepat di sebelahnya, "Kau dengar itu? suara ini pernah aku dengar dalam situasi tertentu. perlahan? terlalu menekan? Aishhh... mereka benar-benar sangat erotis."


Johan tak berkutik, matanya membulat lebar begitu telinganya semakin mendengar kuat suara desahan dan rengekan Karina.


"Ahhh..."


"Jangan berteriak, bagaimana jika ada yang mendengar." Johan mengerutkan dahinya, setelah mendengar suara pria dari dalam sana yang dirinya yakini sebagai Nicko.


"Ini sangat memalukan, sebaiknya lain kali saja kau menemuinya." Sandra kembali melirik ke daun pintu sejenak sambil mencuri pendengaran, "kekasih Karina benar-benar luar biasa," imbuh Sandra memuji dengan suara terendah.


Apa ini? beberapa waktu sebelumnya, Sandra sempat memergoki Renata dan Christian bercumbu mesra. dan sekarang semua itu sedang di lakukan oleh Karina bersama Nicko, sejenak Sandra berpikir. "Rumah sakit ini, akan menjadi tempat bercocok tanam yang luar biasa. tidak hanya menyembuhkan penyakit, mereka juga tak segan memproduksi anak untuk memperlancar ekosistem."


Johan mengubah ekspresinya, menatap tajam kearah Sandra lalu berkata. "Apa maksudmu? Kau akan membiarkan ini terjadi?"


"Ayolah! kau tidak mengerti? disini tidak sedikit orang datang untuk menyembuhkan penyakit dengan berbagai macam keluhan. untuk keluarnya pun hanya ada dua kemungkinan, dalam keadaan sehat yang bisa dikatakan sebagai keberhasilan. ataupun meninggal, dalam artian tidak terselamatkan. singkatnya begini, mereka sedang memproduksi anak, untuk mempertahankan ekosistem. sakit, meninggal, dan hamil lagi, begitu saja seterusnya."


"Cihh..." Johan berdecih, "Kau banyak bicara, bahkan aku tidak bisa mencerna apa yang kau maksud dan pikirkan."


"Apa kau tidak pernah di mabuk cinta? mereka bebas melakukan apapun selama itu tidak merugikan." ujar Sandra menjawab.


Johan berpikir, sepertinya ini bukan kali pertama ia menaruh rasa curiga terhadap Karina. semua ini pernah terjadi sebelumnya, entah itu kapan. Johan masih samar untuk mengingatnya.


"Kau..." Johan menunjuk kesal, sambil mengeratkan giginya menatap Sandra dengan sorot mematikan. "seharusnya kau di tempatkan di rumah sakit jiwa!"


"Sebagai Dokter?" Sandra melipat tangannya menyeringai.

__ADS_1


"Sebagai pasien! kau sama gilanya dengan Karina!" pekik Johan menghardik hingga membuat Sandra langsung melebarkan bola matanya dengan mulut yang sedikit terbuka.


Sandra mendelik tajam dengan bibir yang mengerucut. "Pergi sana, Karina tidak akan keluar secepat itu. jika ada sesuatu akan aku sampaikan padanya,"


Johan terpaku, pria itu langsung memutar bola matanya seolah berpikir untuk memberikan jawaban atas apa yang Sandra ucapkan.


"Kenapa diam?" Sandra menaruh kecurigaan. "Apa kau..."


"Jangan sembarangan bicara! kau mudah sekali berburuk sangka pada orang lain!" gerutu Johan menyela.


"Aku ini sangat peka, aku tidak sedang berburuk sangka!"


"Permisi..."


Sandra melirik kearah perawat yang baru saja datang menghampirinya, "Apa?"


"Maaf, kau menghalangi jalanku." ucap pwraeat tersebut kikuk.


"Dokter Karin..."


"Astaga," Sandra langsung menahan gagang pintu seolah tak mengijinkan perawat tersebut untuk memasuki ruangan Karina.


Perawat itu nampak keheranan, ia melirik kearah Johan yang sedari tadi sudah memucat memalingkan wajahnya. "A... ada apa?"


"Kau dilarang masuk!" tegas Sandra penuh penekanan.


"Ke... kenapa?"


"Apa kau ingin di pecat? situasi di dalam sangatlah darurat. kau sangat tidak sopan." ujar Sandra memperingati.

__ADS_1


Perawat itu mengangguk cemas, "Aku tahu. itu sebabnya aku datang."


"Untuk apa? kau tidak akan membantu apapun. kau harus menunggu sembilan bulan untuk menerima hasilnya!" sahut Sandra dengan cepat menjelaskan.


Perawat itu sedikit membuka mulutnya seolah terkejut. "Selama itu? Astaga pasti lukanya sangat parah."


Sandra dan Johan saling melirik setelah mendengar pernyataan perawat tersebut.


"A... apa kau bilang? luka?" tanya Sandra terbata.


Perawat itu mengangguk, "Dokter Karina, memintaku untuk mengambil ini."


Sandra langsung merebut sesuatu dari tangan perawat itu untuk mencari tahu apa maksud dari semua ucapannya, "Salep ini? untuk cidera bukan?"


"I... iya, Dokter Karina datang dengan kekasihnya. kakinya terkilir." tutur perawat itu menjelaskan.


"Apa?" Johan mengerutkan dahinya menatap kearah perawat dengan ekspresi terkejut, ia lantas membuka pintu ruangan tersebut berdiri diantara Sandra dan si perawat.


Karina terlihat jelas sedang duduk bersandar sambil meringis di atas ranjang besi. sedangkan Nicko, ada di sebelah wanita tersebut mengelus-elus pergelangan kaki Karina. kedua orang tersebut langsung melirik ke satu arah yang sama, setelah Johan, Sandra, dan perawat sedang berdiri menatap mereka dengan ekspresi yang berbeda.


"Dokter, kau baik-baik saja." ucap perawat cemas menghampiri.


"Kenapa lama sekali, kaki ku sangat sakit." rengek Karina memelas.


Sandra melangkah masuk, dengan ekspresi heran. "Karina tadi kau... itu, aku, perlahan? terlalu di tekan?"


Karina mengangguk lalu melirik kearah Nicko dengan sebal. "Dia memijat ku terlalu kasar, ia menekannya sampai kakiku lebam."


Sandra menelan salivanya dengan bersusah payah. sedangkan Johan, menghembuskan nafas panjang, merasa lega setelah mendengar penjelasan yang Karina berikan.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTENYA...


__ADS_2