
"Sayang, Karina mengatakan jika ia akan pulang ke rumah ini. haruskan kita memberi tahu Nicko?" tanya Maria pada Jade.
"Apa?" Anna berlari menghampiri sambil membawa boneka kesayangannya. "Aku ingin tidur bersama, Bibi."
Jade menghela nafas panjang melihat tingkah gaduh sang buah hati. pria itu menatap Anna kemudian berkata, "Jika ada Paman Nicko datang, kau harus diam di kamar. tidak boleh banyak bicara!"
"Kenapa?" tanya Anna memelas.
"Bagaimana Bibimu bisa menikah, jika kau terus memberi tahu keburukan Karina pada setiap pria yang mendekatinya?" sejenak Jade menghentikan ucapannya, "Nicko itu teman bisnis Papa. kau tidak boleh kurang ngajar padanya, kau mengeri?" imbuh Jade memperingati.
Sepertinya kedatangan Karina tersebut ada kaitannya dengan Nicko. ia tak ingin pria itu terus mengusik hidupnya. bahkan, jika tidak terikat pekerjaan. Karina bisa saja pergi untuk kembali melarikan diri.
Hampir 7 jam lamanya, Nicko terus terjaga di sebuah parkiran rumah sakit. pria itu sedang menunggu Karina dan memastikan jika tak ada satu orang pria pun yang mengganggu wanita tersebut.
Karina merasa jika hari ini terasa begitu melelahkan. ia di haruskan untuk melatih kesabaran, saat Nicko tak ada hentinya mengganggu dan memaksa untuk terus mengikutinya.
"Sayang, tunggu." pekik Nicko menghentikan mobil yang ia kendarai tepat di sebelah Karina.
Wanita itu melirik ke sisi kanannya perlahan kemudian berkata. "Kenapa kau masih disini?"
"Ayo kita pulang, aku sudah menunggumu." ucap Nicko sambil membuka pintu mobil, berdiri sejajar di samping Karina.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat keras kepala? aku sudah tak ingin melihat wajahmu. jangan pernah menggangguku!" tegas Karina penuh penekanan.
Bagi Nicko ini bukan yang pertama kali dirinya di usir oleh Karina. bahkan ucapan kasar dan tajam sering kali wanita itu lontarkan. Namun, Nicko menganggap hal itu pantas ia dapatkan. mengingat bagaimana Nicko dulu menyakitinya.
"Jangan uji kesabaran ku, lagi Nicko. kau kenapa aku sangat membencimu. jadi tolong, menyerahlah!" titah Karina memohon.
Nicko hanya tersenyum getir. tindakannya lebih mengarah ke obsesi. akan tetapi, sikap misterius Nicko berhasil membuat Karina sendiri heran. bisa saja usaha yang Nicko lakukan hanya didasari dengan rasa bersalah dan penyesalan. meskipun berulang kali Nicko mengungkapkan perasaannya dengan tulus. tidak menutup kemungkinan jika itu semua hanya untuk menghapus rasa sesal atas kematian bayi yang belum sempat Karina lahirkan.
"Aku heran, kenapa kau cenderung selalu mengikuti ku. apa sekarang kau bukan lagi seorang pembisnis? profesi mu sudah berubah menjadi seorang penguntit?"
Nicko terkekeh, Karina begitu terlihat menggemaskan. ekspresi dan sikap ini sama sekali tidak berubah, semuanya masih terlihat sangat natural seperti sebelum Nicko dan Karina menjalin hubungan.
"Aku pembisnis sayang, aku bisa melakukan apapun hanya dalam satu kali sentuhan. lagi pula jaman sudah secanggih ini, rapat bisa dilakukan melalui panggilan video." sejenak Nicko menghentikan ucapannya dan semakin mendekati Karina. "hidupku tidak rumit sepertimu, kau mempersulit dirimu sendiri, larut dalam masa lalu yang sudah aku sesali."
"Aku mencintaimu, aku menyesal. aku tidak akan pernah menyerah sebelum kau menerimaku kembali, kau dengar itu? hey..." teriak Nicko saat Karina memilih pergi manaiki taksi.
Karina tidak bisa menahan agar dirinya tak menangis setelah menghadapi Nicko. sering kali Karina berpikir untuk melupakan segalanya dan membuka hati untuk pria yang lain. akan tetapi hal itu tak pernah Karina lakukan. sebab, tidak ada jaminan jika pria lain tersebut tidak akan menaruh luka baru di hatinya.
"Papa, kenapa dia menangis?"
Karina menyeka air matanya saat wanita itu mendengar jika ada suara anak kecil di dalam taksi yang sedang ia tumpangi.
__ADS_1
"Itu privasi penumpang, sayang. kau tidak boleh mengganggu kenyamanan saat Papa sedang bekerja." sahut pria paruh baya pada sang buah hati sambil mengemudikan mobil.
"Kau mau ini?" seorang gadis kecil yang berusia sekitar lima tahunan menyodorkan sebuah tisu pada Karina dengan ekspresi polosnya.
Karina tersenyum ramah, ia langsung meraih tisu tersebut lalu berkata. "Kau tidak hanya cantik, tapi juga sangat pintar. siapa yang mengajarimu?"
"Papa," sahut gadis itu spontan melebarkan senyuman yang memperlihatkan gigi kecilnya.
"Ma... maaf jika anak saya sudah mengganggu kenyamanan. saya terpaksa harus membawanya," ujar pria paruh penuh kehati-hatian.
Karina mengangguk, ia justru berpikir. mungkin jika saat itu, Karina tidak mengalami keguguran. usia anaknya pasti sudah sebesar anak sopir taksi tersebut.
"Apa di rumah tidak ada yang menjaganya?" Karina mengelus kepala gadis kecil itu sambil sesekali mencubit ringan pipi gembulnya.
"Ibunya meninggal beberapa bulan yang lalu, kami adalah pelancong di kota ini. itu sebabnya aku tak bisa meninggalkan atau menitipkannya pada sembarang orang."
Karina tertegun, bibirnya bergetar saat air mata itu akan kembali menetes dari pelupuknya.
"Papa, kenapa dia menangis lagi?" tanya gadis kecil itu heran.
"Ma... maaf, aku tidak bermaksud..." lirih Karina merasakan kesedihan. Wanita itu tidak bisa membayangkan betapa sulitnya seorang ayah yang bekerja sebagai seorang sopir taksi berperan ganda dalam mengurus sekaligus mencari nafkah untuk menghidupi putrinya. lantas apa kabar dengan ayah Karina? kenapa dunia sangat tidak adil. seorang wanita harus pergi lebih cepat saat ia mendapat pendamping yang sempurna. sedangkan ibu Karina sendiri, wanita itu di berikan segalanya. Namun, harus gagal dalam menghadapi ujian rumah tangga.
__ADS_1
"Kenapa ayahku tidak seperti mu?" gumam Karina terisak memecah tangisan.
Kali ini Karina menghempas penilaiannya tentang semua pria itu sama. nyatanya di sekitar Karina masih begitu banyak pria baik yang tidak wanita itu sadari. semua itu terjadi bukan atas dasar keinginan Karina. jika saja Karina bisa lebih berhati-hati mungkin semua itu tidak akan terjadi.