Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 56


__ADS_3

"Tidak! aku tidak bisa," Johan terus memukul kemudi dengan tangannya. pandangan Johan terus tertuju menatap seorang wanita yang sudah berdiri di depan cafe menunggu kedatangannya.


Sandra, tanpa berpikir panjang langsung datang menuju cafe yang sudah Johan janjikan. gadis itu tak menaruh rasa curiga sedikitpun. ia justru malah berpikir, jika Johan akan meminta maaf untuk mewakilkan sikap buruk Helen terhadap dirinya.


"Pria ini benar-benar tidak waras! dia membodohi ku, sudah dua jam aku menunggu!" Sandra berdecak penuh kekesalan, "Aku bahkan langsung datang kesini setelah menyelesaikan pekerjaan."


"Dokter Sandra..."


Dokter cantik itu melirik ke sumber suara dengan bibir yang mengerucut, dengan cepat ia melangkah menghampiri Johan lalu berkata. "Kau bercanda? aku sampai pegal menunggumu dua jam!"


"Aku..."


"Baiklah, aku memaafkannya. kau tidak perlu khawatir, aku tidak menaruh dendam apapun terhadap Nyonya Helen." imbuh Sandra memotong ucapan yang hendak Johan katakan.


Bagaimana Johan bisa menghadapi Sandra. gadis tersebut bahkan tak kunjung memberikannya kesempatan untuk bicara. Sandra terlalu cerewet, sangat bertolak belakang dengan sikap dan kepribadian Johan.


"Helen, kau benar-benar menyiksaku!" batin Johan prustasi.


"Kah harus mentraktir ku makan." Sandra menarik dan membawa Johan masuk kedalam cafe, "sebagai hukuman karena kau sudah berani membuatku menunggu!"


Johan tertegun saat Sandra dengan santai menggenggam tangannya mencari sebuah meja kosong untuk mereka berdua tempati. entah apa yang ada dalam pikiran gadis tersebut. sungguh, Sandra bisa begitu mudahnya beradaptasi dengan seseorang yang baru ia kenal tanpa rasa kaku sedikitpun.


Sesaat setelah keduanya sudah memilih meja, mereka pun duduk. Sandra terlihat sibuk memilih pesanan, sedangkan Johan. ia masih saja berpikir untuk memulai dan menjelaskan maksud dan tujuannya datang mengajak Sandra bertemu.


"Aku tidak suka makanan murah, pastikan kau sudah mengisi dompetmu untuk mengajakku makan sekarang." celetuk Sandra di selingi tawa dan candaan.


Sebagai pria kaku, Johan hanya tersenyum kecut menanggapi candaan yang Sandra lontarkan.

__ADS_1


"Baiklah, giliranmu. aku sudah memilih apa yang aku inginkan," Sandra menyodorkan sebuah menu pilihan pada pria di hadapannya.


"Terserah kau saja, aku tidak pemilih." sahut Johan gugup.


"Baiklah," Sandra mengangguk, dan langsung memberi tahukan pesanan yang ia inginkan pada pelayan.


Sejauh ini, Sandra masih tidak menyimpan kecurigaan apapun. sikap santai Sandra berhasil membuat Johan tidak terlalu kesulitan untuk menanganinya, meskipun Johan merasa sangat gugup dan kebingungan.


****


Padahal Karina yang di kecewakan. Namun, entah kenapa sekarang ia justru merasa sangat bersalah karena sudah menyalahkan Nicko dalam segala hal. padahal pria yang sedang terlelap di sebelah Karina itu terlihat begitu tulus. usaha dan kerja kerasnya terus saja Nicko tunjukan demi mendapat kembali cinta dan kepercayaan Karina.


"Aku tidak menyesalinya, karena aku benar-benar sudah di bodohi oleh rasa cintaku padamu." Karina menyentuh lembut wajah Nicko lalu mengelus bibir manis pria tersebut, "Maaf, jika aku terus saja menyalahkan mu atas semua yang terjadi. kau baik, kau sudah bekerja keras untuk meyakinkan dan membuktikan ketulusan mu." tidak lupa, Karina mengecup bibir Nicko singkat hingga sukses membuat lelaki tersebut tersadar dari tidurnya.


"Bagaimana?" Nicko mendekap Karina memejamkan kembali matanya.


"Kau puas dengan pelayanan ku?" ujar Nicko berbisik senada menggoda.


Seketika wajah Karina merona, ia tersipu dengan kepala yang menunduk. ingatannya langsung tertuju pada bayang-bayang semalam. saat Nicko dengan sangat perkasa menggagahinya. seluruh tubuh Karina sampai terasa remuk, tenaganya di kuras habis oleh Nicko yang terus saja meminta lagi dan lagi setelah permainan ranjang itu dilakukan lebih dari satu kali permainan.


"Cukup, jangan membahasnya!" sahut Karina sebal menyembunyikan wajahnya.


"Kenapa?" Nicko meraih wajah Karina agar wanita itu menatapnya, "apa aku tidak memuaskan mu?"


Karina menggelengkan kepalanya dengan mata yang terpejam, "Aku malu, jangan di bahas!"


Nicko terkekeh. bagaimana ia bisa menghentikan ucapan konyolnya, sedangkan setiap gerakan tubuh Karina selalu sukses membuat tubuhnya kembali menegang.

__ADS_1


"Kau sangat menggemaskan, sayang." Nicko melemparkan pujian tulus, matanya bergerak mengabsen setiap sudut ruangan yang terlihat berantakan. bahkan di lantai, terlihat ****** ***** dan penyangga Karina yang Nicko lemparkan semalam kesembarang arah.


"Baiklah," Karina menatap Nicko penuh keseriusan. "katakan, seberapa kecewanya keluargamu padaku? apa yang harus aku lakukan untuk membuat mereka yakin?"


Nicko menggelengkan kepalanya, sebagai pria yang memiliki rasa pertanggung jawaban ia merasa Karina tak harus melakukan apapun. "Biarkan aku saja yang berusaha, itu sudah menjadi tugas dan kewajiban ku."


"Tidak, bagaimana pun itu adalah kecerobohan ku. kekecewaan ku terhadapmu sudah mengacaukan segalanya, aku tidak bisa berpikir jernih saat itu," mata Karina memanas. "Aku ingin berjuang bersamamu. aku ingin membuktikan pada keluargamu, jika aku ini pantas,"


Semburat senyum Nicko tercipta. kegigihan Karina berhasil membuat Nicko terpana. entah usaha apa yang akan Karina lakukan. Namun, melihat penyesalannya saja sudah lebih dari cukup bagi Nicko yang benar-benar mencintainya.


"Sebelum berjuang, kenakan pakaianmu. lalu kita bicarakan ini setelah sarapan," titah Nicko dengan ekspresi mencurigakan.


Karina terpaku, wanita cantik itu lantas sedikit menggeser tubuhnya sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya kikuk.


"Sa..."


"Jangan!" Karina langsung menolak spontan, sebelum Nicko melemparkan bujukan, "Kakiku sakit, aku sudah tidak memiliki tenaga. jangan macam-macam!" imbuhnya membentak.


Nicko berdecih, insting kejahilannya mulai datang. Nicko menggoda dan terus memberikan sentuhan belaian, hingga sukses membuat Karina merinding ketakutan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu, aku peringatkan. jangan mendekat!" Karina terus menggeser tubuhnya menjauhi Nicko yang seolah sudah siap untuk menikamnya.


"Ayolah, bagaimana aku bisa menghadiahi keturunan untuk ibumu jika kau terus menolak." Nicko semakin mendekat, mencoba menghimpit tubuh Karina sambil menakut-nakuti.


"Kau gila?" Karina meraih bantal dan memukulkannya pada Nicko yang terus mengintimidasinya. "psikopat, maniac." pekik Karina menghardik.


LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONG

__ADS_1


__ADS_2