Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 50


__ADS_3

Sandra menyerahkan sebuah surat wasiat yang ia simpan kepada Johan. tatapan kesal Sandra terus mengarah pada pria yang lebih terlihat tenang dari sebelumnya.


Johan memang sempat terus mendesak dan meminta paksa surat tersebut dari Sandra. Namun, Sandra tak kunjung memberikannya walaupun ia sering kali berprasangka buruk terhadap Helen yang sudah menuliskan surat tersebut.


"Terima kasih, kau sekarang bebas. aku tidak akan mengganggumu lagi." ucap Johan santai tersenyum tipis.


"Benarkah?" sahut Sandra mengangkat satu alisnya.


"Kenapa? apa kau kesal karena aku terus meminta suratnya?" sejenak Johan melirik ke kikir dan ke kanan sambil berpikir. "Aku hanya tidak suka kau mengatakan sesuatu yang buruk terhadap, Helen. itu sebabnya aku memaksa." tukas Johan gugup.


Sandra terkekeh, tatapannya semakin menajam dengan sorot mengintimidasi. "Kau yakin? tapi sayangnya aku sudah membaca surat tersebut! dan yang kau ucapkan sekarang adalah kebohongan." pungkas Sandra hingga langsung membuat Johan membulatkan matanya seketika seolah terkejut.


***


Nicko tarus memperdalam ciuman, meraup bibir Karina dan mendesak lidahnya agar wanita itu pasrah menerima ciumannya. tangan Nicko terus bergerak memasuki celah pakaian Karina. Nicko bahkan membuka kancing kemeja ketat yang Karina kenakan dan memasukan tangannya kedalam penyangga dua gundukan untuk memainkan benda tersebut penuh rasa gemas.


"Tidak-tidak, ini tidak benar! lepasmm..." tolak Karina yang langsung mendapat respon spontan dari si pria.


Seluruh tubuh Karina bergejolak. ia terjebak, antara menolak atau menikmati. Nicko benar-benar sudah membuatnya tidak karuan dengan keadaan tubuh yang terhimpit.


"Hustt..." Nicko menghentikan aksinya menatap dua bola mata indah Karina. "Jangan berisik, apa kau sengaja ingin mengundang semua tetangga untuk melihat hal ini?" imbuh Nicko yang langsung membuat Karina menghentikan teriakannya.

__ADS_1


"Ba... baik, tapi lepaskan aku."Karina masih saja berusaha, mendorong tubuh Nicko agar terlepas darinya, "jangan gila, Nicko. apa kau akan menyeretku kedalam masalah yang sama lagi seperti dulu!"


Nicko terkekeh, pria itu justru semakin memperkuat dekapannya mengelus wajah Karina, "Aku sudah mengatakan, kita akan menikah. kenapa kau sangat keras kepala!"


Plak... Karina melayangkan tamparan keras ke wajah Nicko dalam keadaan mata yang menggenang. "Apa ini semua salahku, jika aku kesulitan untuk mempercayaimu kembali?" setetes air mata Karina mengalir keluar dari pelupuknya, "Apa kau pikir aku bisa mempercayai pria yang pernah membodohi ku?"


Nicko tertegun, ekspresi wajah genitnya berubah seketika setelah Karina mendaratkan tamparan dan mengatakan hal tersebut. "Tapi saat itu, kau sendiri yang mengatakannya. jika kau mencintaiku, kau tidak ingin aku tinggalkan. dan kau juga ingin aku kembali mengejar mu." ujar Nicko menjelaskan.


"Jika hal itu benar, apa aku harus menyerahkan harga diriku lagi padamu? lalu setelah itu kau akan mengecewakanku lagi? apa sebenarnya arti cinta bagimu? hanya mendengar ku mengatakan cinta saja. kau sudah ingin meniduri ku? bahkan yang sebelumnya saja belum sepenuhnya bisa aku lupakan, dan sekarang kau sudah akan mempermainkan diriku lagi!" lirih Karina terisak.


"Karina, tidak seperti itu." Nicko langsung memeluk Karina dan mencoba menenangkannya. "Aku sudah berjanji akan menikahi mu, aku..."


"Sebelumnya juga kau mengatakan hal itu, kau berjanji akan menikahi ku pada saat pertama kali kita melakukannya," Karina memecah tangisannya. "Tapi kau berbohong, kau menganggap hubungan kita hanya permainan."


"Oke, besok bawa aku untuk menemui ibumu. jangan menangis, aku akan membuktikan keseriusanku di hadapan Ibumu secara langsung." ujar Nicko penuh kelembutan mengelus punggung Karina.


Karina terdiam, tangan lemahnya mulai bergerak dan melingkar membalas apa yang Nicko lalukan. Karina memeluk Nicko dan menyembunyikan wajahnya di atas dada bidang pria tersebut. hingga Nicko bisa merasakan kehangatan air mata Karina menembus kain kemejanya.


"Maaf, aku telah membuatmu takut." sambung Nicko tulus sambil mengelus.


Lamanya jarak juga terputusnya akses, membuat Karina dan Nicko sulit untuk memahami diri masing-masing. meskipun keduanya sempat menjalin hubungan, kemisteriusan Nicko sering kali memancing kesalahpahaman. begitupun sebaliknya, rasa gengsi Karina bahkan sering membuat Nicko kebingungan.

__ADS_1


Karina mengeratkan pelukannya, kehangatan dari dekapan yang Nicko berikan berhasil mengobati rasa rindunya. perlahan Karina mebdongak, menatap sendu wajah tampan Nicko dengan sorot mata redup.


"Jangan menangis," Nicko menyeka lembut air mata yang membasahi pipi Karina. "Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan pernah membuatmu kembali terluka."


"Buktikan!" lirih Karina spontan.


"Baik, aku akan menepati janjiku." ucap Nicko mengangguk, di akhiri kecupan singkat yang pria itu darat-kan pada pucuk kepala Karina.


Mereka terus memeluk satu sama lain, tak lebih dari itu. larut dalam kenyamanan, Nicko berhasil membuat Karina terlelap dalam dekapannya. sambil memandang wajah cantik Karina, pria itu terus berpikir.


Entah bagaimana caranya Nicko bisa menggilai Karina. setiap kali melihat wanita tersebut menangis, Nicko langsung merasa bersalah dan tak berdaya. Nicko pernah berjanji, jika dirinya tak akan pernah membuat Karina menjatuhkan air mata guna menebus seluruh penderitaan yang Karina derita.


Namun, semua itu terus saja terjadi karena kecerobohan Nicko yang tak pernah berhasil, untuk mengerti apa yang Karina inginkan.


"Maaf, sayang." batin Nicko penuh rasa sesal.


Hanya itulah yang bisa Nicko lakukan, menuturkan kata maaf dengan segenap ketulusan hatinya. Nicko sendiri sulit untuk memaafkan dirinya, jika mengingat hal bodoh yang pernah ia lakukan terhadap Karina.


Di paksa dewasa oleh keadaan. di harapan dan hidupnya pernah di hancurkan oleh seorang pria yang berstatuskan ayah. lalu, dengan mudahnya Nicko menambah beban yang Karina rasakan dan menamah kehancuran tersebut menjadi dua kali lipat.


"Aku akan membahagiakanmu, Karina. kehancuran dan rasa sakit mu sekarang adalah tanggung jawabku. aku bersumpah atas diriku, jika aku akan membahagiakanmu. meskipun harus menentang kelurga sekalipun." batin Nicko penuh keyakinan menyematkan janji.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONG, SEMANGATKU TERGANTUNG KOMENTAR KALIAN.


__ADS_2