Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 52


__ADS_3

Nicko terpaku, pandangannya sama sekali tak teralihkan menatap sebuah nisan yang bertuliskan nama Marina.


"A... apa ini, Karina?" tanya Nicko terbata.


Karina melirik santai, senyum cantiknya terukir dengan tangan yang mengelus lembut nisan tersebut. "Ibuku, apalagi? kau ingin menemuinya bukan?"


"Tapi..." Nicko menelan salivanya dengan bersusah payah. sulit untuk di bayangkan, ia bahkan baru mengetahui jika orang yang ingin dirinya temui ternyata sudah meninggal. "kenapa kau mengatakan jika... jika..."


"Dia memang tahu segalanya, aku pikir. tak perlu bercerita, dia pasti mendengar tangisan dan keluhan ku meskipun berada jauh di sana." pungkas Karina dengan ekspresi datar.


Nicko menghela nafas panjang, entah dalam hal ini ia haru merasa senang ataupun bahagia. bahwasannya, sebelum ini terjadi. Nicko sangat ketakutan, jika dirinya akan sulit mendapat restu dari Ibunya Karina. Namun, itu semua jauh dari ekspetasinya.


"Mendekatlah," titah Karina pada Nicko yang masih terlihat sangat terkejut.


Nicko mulai mendekati Karina perlahan, ia berdiri sejajar dengan sang empu dengan bibir yang masih terbungkam.


"Ibu, aku datang lagi. kau pasti sudah tahu siapa pria ini," Karina melirik kearah Nicko sambil menyeringai. "Hukuman seperti apa, yang akan kau berikan pada pria yang sudah menyakiti putrimu ini?" imbuh Karina senada bercanda.


Nicko mendengus, bibirnya mengerucut dengan dahi yang mengerut menatap wajah Karina. "Ayolah, itu sangat berlebihan. ucapan mu benar-benar membuatku merinding. bagaimana jika Ibumu benar-benar menyulitkan ku, tentu kau sendiri yang akan rugi." celetuk Nicko menyahut sebal.


"Hah?" Karina mengubah ekspresi wajahnya seketika, "Rugi? aku?" Karina terkekeh, "Dasar pria pengecut, aku hanya bicara dengan sebuah nisan saja kau langsung ketakutan! bersyukurlah, jika saat itu aku yang meninggal maka aku akan langsung menjadi hantu dan menyeretmu ke neraka karena sudah melukai perasaanku!"

__ADS_1


Nicko menggelengkan kepalanya, ia langsung meraih tangan Karina dan menggenggamnya dengan sangat erat. "Tidak! aku tak akan membiarkan itu terjadi!" sejenak Nicko mengalihkan sorot matanya kearah nisan, lalu mengarahkan tangan Karina yang ia genggam di atas nisan tersebut. "Di hadapan makam Ibumu, aku bersumpah. akan membahagiakanmu dan menyerahkan sisa hidupku hanya untuk dirimu!" ucap Nicko bersumpah penuh keyakinan.


Karina tak langsung merespon apa yang Nicko lakukan, lalu di detik berikutnya. wanita itu langsung menarik tangannya, kemudian berkata. "Aishh, kau sangat berlebihan. tak bisakah kau mengatakan itu di dalam hatimu sambil menabur bunga untuk menarik perhatian Ibuku?!" gerutu Karina sambil melirik ke kiri dan ke kanan.


"Baiklah, kita akan mempersingkat ini. katakan, kapan Ibumu meninggal, dan kenapa kau tidak pernah membahas ini sebelumnya?"


"Untuk apa aku membahas ini denganmu sebelumnya? ini terjadi dua tahun yang lalu. saat itu aku bahkan masih sangat membencimu!" sahut Karina spontan.


Nicko menghela nafas panjang, ia menatap Karina penuh ketulusan lalu mengelus indah rambut panjang wanita tersebut. "Terima kasih," ucapnya sambil membawa tubuh Karina kedalam pelukan.


"U... untuk apa?" tanya Karina kikuk, saat wajahnya menempel tepat di dada bidang Nicko dengan tubuh yang terdekap.


"Kau benar, aku terlalu baik untukmu. kenapa kau masih berani mengejar ku? kau nikahi saja para jala*ng yang ada di club-mu. kenapa harus aku?" sahut Karina dingin dengan sorot mematikan.


Nicko tak langsung bisa mencerna apa yang Karina katakan. Namun, saat melihat tatapan kesal Karina padanya. ia langsung sadar dan mengerti tentang apa yang Karina ucapkan, "Untuk apa aku menikahi para jal*ang?" Nicko mengalihkan sorot matanya, sambil berpikir untuk mencari pembenaran. "Apa kau pikir, pria sepertiku sudi untuk menyentuh sesuatu yang sudah di sentuh oleh orang lain." Nicko melepaskan bahu Karina, dan menyentuh kedua bahunya. "Aku orang pertama yang menyentuhmu, dan aku akan bertanggung jawab." imbuhnya meyakinkan.


Satu alis Karina terangkat, dahinya mengerut jijik setelah mendengar pernyataan Nicko yang menurutnya hanya berisikan omong kosong. "Kau pikir aku percaya?"


"Aku bersumpah," Nicko mengarahkan tangan Karina ke atas kepalanya, "aku..."


Duart... Karina dan Nicko tersentak, saat tiba-tiba saja suara gemuruh terdengar cukup lantang.

__ADS_1


"Aku..."


"Itu cukup membuktikan, jika kau sedang berbohong. bahkan alam saja tidak mempercayaimu, jadi bersikap apa adanya dan sewajarnya. jangan membuatku muak! kau paham?" sela Karina kesal sambil melotot tajam.


Nicko terpaku, ia langsung merapatkan bibirnya sambil menganggukkan kepala dengan cepat. meskipun Nicko berkata jujur sekalipun. siapa yang akan percaya? Karina sendiri memang tahu. selama itu, Nicko selalu mengikutinya kemanapun wanita itu pergi. Karina hanya tak suka, pada sikap Nicko yang sering kali sangatlah berlebihan demi untuk mendapat perhatiannya.


"Baiklah," Nicko memekik hingga sukses membuat Karina terkejut. "Sebagai hadiahnya, aku akan memberikan banyak keturunan untuk Ibu mertuaku."


"Apa?" Karina menatap heran kearah Nicko.


"Aku tidak ingin mengulangnya, tapi aku yakin. malam ini pasti berhasil." celetuk Nicko percaya diri.


Bibir Karina bergetar, "A... apa yang kau rencanakan?" tanyanya kikuk.


"Ini sebuah kejutan, persiapkanlah dirimu." Nicko memangkas jaraknya, meraih daun telinga Karina. "Aku suka warna merah, kenakanlah itu saat sedang bersamaku nanti malam."


Entahlah, Karina memilih untuk tidak mengerti apapun. sedangkan menurutnya, segala yang Nicko ucapkan mengarah pada hal-hal yang berbau mesum.


"Dasar! kau berani mengatakan itu di depan nisan ibuku!" Karina mendorong tubuh Nicko perlahan, "Dasar pria mesu*m" umpat Karina kemudian berlalu.


"Mesum?" Nicko mengerutkan dahinya, seolah tak mengerti tentang apa yang Karina ucapkan. "Hey... apa maksudmu?" pekiknya mengejar sang empu

__ADS_1


__ADS_2