Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 54


__ADS_3

Menghabiskan waktu seharian di rumah sakit memang sangatlah melelahkan. bukan hanya harus memiliki tenaga ekstra, kecerdasan dan sikap cepat tanggap Karina juga wajib di perhitungkan. meskipun terbilang sulit, Karina sangat menyukai pekerjaan. setiap harinya ia akan di pertemukan dengan para pasien yang memiliki berbagai macam keluhan.


Hidung Karina merona di sertai rasa gatal yang luar biasa, ia mulai merasakan nyeri di bagian kepalanya. "Astaga, Aku tidak bisa mengurus diriku sendiri." gumam Karina menarik laci untuk mengambil obat berjenis asetaminofen yang populer untuk meredakan sakit kepala, flu ringan, serta demam.


"Karina..."


Wanita cantik itu mengerjap, ia tersentak kaget sampai tidak sengaja menjatuhkan sebutir obatnya setelah Sandra tiba-tiba saja datang.


"Dimana pria itu? pria yang kau benci tapi pada akhirnya kalian kembali menjadi sepasang kekasih." tanya Sandra mencecar, untuk mengantisipasi jika dalam ruangan tersebut hanya ada dirinya dan juga Karina.


"Kekasih?" Karina berdecih, sambil menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri bahkan tidak tahu, apa kami berdua pantas di anggap sebagai pasangan kekasih?!" sambung Karina murung.


Sandra meraih wajah Karina, mencoba mengenali ekspresi kesedihannya. "Kenapa? apa kalian masih belum berbaikan?"


"Entahlah," Karina memijat pelipisnya yang terasa sangat pusing. "Aku juga tidak mengerti, ini jauh lebih rumit dari pertengkaran."


Sandra sama sekali tidak mengerti apa yang sedang Karina ucapkan, "Kenapa kau sangat berbelit-belit. langsung saja pada intinya, kalian kembali atau tidak?" tegas Sandra mendesak kesal.


"Tidak tahu, dia tidak mengatakan apapun. dia hanya bilang mencintaiku, tapi tidak pernah memintaku kembali untuk menjadi kekasihnya! dia menjanjikan pernikahan, tapi sampai sekarang semua itu masih belum ia buktikan!" ujar Karina menjelaskan.

__ADS_1


Sandra menghela nafas panjang, sepertinya hubungan Karina dan Nicko memang belum menemukan titik terang. sebagai seorang yang belum pernah merasakan atau berada di posisi Karina, gadis itu lebih memilih diam dan enggan berkomentar.


"Aku harus bagaimana?" Karina merengek, ia terlihat prustasi dan merasa tidak nyaman menjalani hubungan tersebut, "Aku ingin meminta kejelasan. tapi itu terkesan, akulah yang terlalu berharap padanya."


Seringai misterius Sandra tercipta, meskipun awalnya enggan berkomentar. Namun, pada akhirnya ia tak tahan juga. "Kau berharap pada pria yang pernah membuatmu kecewa," sejenak Sandra terkekeh lalu kembali melanjutkan pembicaraannya. "Aku mengingat sesuatu, beberapa hari yang lalu. ada seorang wanita yang menceramahi Renata agar ia tak terlalu menaruh rasa percaya pada pria. ku pikir, kau sudah termakan ucapan mu sendiri," imbuh Sandra dengan suara terendah tersenyum kecut.


Karina mengangguk seolah tak menampik, "Hatiku memang tidak tahu diri. seseorang datang padaku untuk menyembuhkan penyakit, aku justru malah mencari penyakit. bodoh!"


"Yes, aku setuju. rumah sakit ini tidak menyediakan obat untuk penyakit cinta, jadi berhati-hatilah." sahut Sandra memainkan mimik wajahnya senada meledek.


"Ahhhh, pria ini benar-benar membuatku gila." pekik Karina memelas


Sandra melirik kearah Karina, "Kau harus tahu ini," ia mendekatkan dirinya meraih daun telinga Karina. "Dugaan ku benar, Nyonya Helen. maksudku, Nona Helen. ia menulis pesan ancaman dalam surat wasiat itu."


Sandra sebelumnya memang sudah sangat yakin, jika Karina tidak akan pernah mempercayai hal ini. Namun, itu semua benar adanya. dan Sandra harus memberi tahu Karina perihal ketakutannya.


"Berikan padaku, dimana kau menyimpan suratnya?" pinta Karina bertanya.


Sandra menggelengkan kepala dengan wajah memucat, "Aku sudah tidak menyimpannya. Tuan Johan mengambil paksa dariku, beruntung aku sudah sempat membaca isi pesannya."

__ADS_1


"Lalu?" Karina menajamkan tatapannya seolah penasaran.


"Kau tidak khawatir? Ancaman adalah salah satu tindakan kriminal, aku tidak akan tinggal diam!" celetuk Sandra ketakutan.


"Kau akan melaporkan ini pada polisi? orang yang sudah meninggal?" sejenak Karina terdiam dengan ekspresi datar. ia lantas terkekeh kegelian melihat kegelisahan Sandra yang tidak masuk akal, "Bagaimana bisa? kenapa kau sangat bodoh." timpal Karina mengejek.


"Lupakan!" cetus Sandra kesal sambil berdecak.


Melihat ekspresi Sandra, Karina langsung memiringkan senyumnya ia meraih bahu Sandra lalu menepuk bahu itu perlahan seolah menenangkan. "percayalah, Helen adalah wanita yang baik. ucapannya memang sedikit tajam, tapi dia sangat perhatian dan peduli terhadap semua orang yang ia kenal."


"Termasuk aku?" tanya Sandra kikuk.


Karina mengangguk, "Tentu saja, kau ini kan Dokternya. aku yakin, setelah semua kerja kerasmu. dia pasti merasa sangat berhutang padamu,"


Sandra memelas, ucapan Karina justru semakin membuatnya takut. Sandra kembali di ingatkan dengan tindakannya yang tak bertanggung jawab. berkencan di jam pemeriksaan, tidak pernah ada dalam keadaan darurat saat Helen berada dalam kondisi kritisnya.


"Cukup," Bibir Sandra bergetar di sertai mata yang menggenang. "Aku... aku buruk," lirihnya merasa bersalah.


"Kenapa?" Karina lantas di buat bingung dengan sikap aneh yang tiba-tiba saja Sandra tunjukan. "Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Pria itu benar, aku... aku sangat buruk," Sandra langsung memecah tangisan begitu ingatannya langsung tertuju pada semua kecerobohannya. "Aku bukanlah seorang Dokter, aku ini buruk." isak Sandra histeris.


LIKE KOMEN DAN VOTE...


__ADS_2