Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 74


__ADS_3

Sandra mengerutkan dahinya, menatap Karina dengan ekspresi wajah yang tak biasa. "Apa dia gila? dia terus tersenyum sambil memandang layar ponselnya," batin Sandra heran bertanya-tanya.


Sebuah pesan romantis terus Karina dapatkan. berisi kejutan-kejutan kecil yang Nicko kirimkan. mulai dari laci kerja yang di penuhi manisan, sampai hiasan bunga mawar segar.


"Apa kau sedang kasmaran?" tanya Sandra duduk tepat di hadapan Karina.


"Tebak saja,"


"Cihh..." Sandra berdecih, "Kau sangat kekanak-kanakan!"


"Biarkan saja, aku memang sulit untuk jatuh cinta. sekalipun aku bisa, aku selalu mencintai orang yang sama!"


"Jangan bilang kau..."


"Iya," Karina menyela ucapan Sandra, senyum kebahagiaannya sama sekali tak memudar meskipun Sandra terus mengecohnya. "Kami akan menikah," imbuh Karina memelankan nada bicaranya dengan wajah merona.


Spontan Sandra membuka mulutnya, matanya membulat lebar setelah mendengar pengakuan tersebut dari Karina. ini memang terdengar aneh, karena sebelumnya Karina terus menjelekkan Nicko di hadapannya.


Bayang-bayang kebersamaan manis yang Karina lakukan bersama Nicko terus muncul. Rona kebahagiaan Karina sama sekali tak meluntur. jika sebelumnya Karina di kenal sebagai dokter judes dan pemurung. sekarang Ia justru selalu melempar senyum cantiknya, setiap kali berpapasan dengan seseorang di hadapannya. entah itu dokter lain, perawat, maupun pasien yang senantiasa menggunakan jasanya.

__ADS_1


"Astaga, apa itu artinya sekarang kau telah menjilat ludah mu sendiri?"


"Mau bagaimana lagi? aku tidak bisa menahannya lagi? lagi pula itu semua sudah terjadi. Aku tahu dia bersalah, tidak ada pembenaran untuk sebuah kesalahan. Namun, bukankah seseorang layak mendapatkan kesempatan? terlebih, Nicko benar-benar sudah sabar menungguku selama bertahun-tahun. Dia benar-benar membuatku gila, kebencian dan rasa cintaku padanya seolah berperang, saling mengalahkan."


Sandra memasang ekspresi jengah, begitu mendengar kalimat-kalimat yang Karina lantuntkan. dalam istilah jaman sekarang, hal itu sering kali disebut dengan kata lebay.


Di tempat lain, Johan merasa harga dirinya sudah terbabat habis. bagaimana tidak, setelah malam itu. malam dimana Ayahnya Renata tak sengaja melihat kesalahpahaman mereka berdua. karena merasa terpojok, Renata pun tak segan mengatakan jika Johan adalah pria dengan keterbelakangan hasrat se*xual yang menyimpang.


"Jika hubungan ini terus berlanjut, apa yang harus aku jelaskan? Sandra sangat gila. Mengapa ia mengatakan jika aku adalah pria yang tidak normal kepada Ayahnya?" Johan berkacak prustasi, sambil memandang setumpuk pekerjaan yang harus ia kerjakan.


Kesan Johan di hadapan Ayah Sandra sudah terlanjur buruk. Ia bahkan sudah di cap sebagai pria yang menggelikan. membayangkannya saja sudah membuat Ayah Sandra merinding ketakutan.


"Kau pasti sedang memperhatikan ku di samping, Tuhan." Mata Johan menggenang, ia membelai gambar cantik Helen dengan tatapan nanar. "Apa kau puas? aku bahkan sudah memenuhi keinginan terakhirmu. kau bahagia?" setetes air mata Johan jatuh, mengalir membasahi wajah tampannya. Ingatannya terus tertuju pada kenangan manis yang Helen tinggalkan. saat gadis itu mabuk tak berdaya dan Johan senantiasa membantunya. Saat dimana Helen menangis, merasa frustasi akan kekejaman hidupnya. Johan dengan senang hati memberikan pelukan hangat penuh ketenangan kepadanya.


Secara garis besar, Johan memang belum bisa merelakan kepergian Helen. Ia masih terikat dengan perasaan lamanya, meskipun kini Renata telah ia jadikan sebagai kekasihnya.


"Sayang..." Sandra membuka spontan pintu ruangan kantor Johan, hingga membuat pria itu tersentak seketika, menjatuhkan selembar foto Helen di tangannya.


Ekspresi wajah Sandra berubah pias, sorot mata tajamnya terus mengarah pada sang kekasih yang saat itu sedang berdiri mematung memandanginya.

__ADS_1


"Sa... Sa..."


Sandra melangkah pelan mendekati Johan, ia membungkuk seraya meraih selembar foto tersebut.


"A... aku bisa jelaskan," imbuh Johan terbata. ia terlihat takut, saat Sandra menatapnya dengan sorot kecewa.


Hal ini sudah sering kali terjadi. Sandra merasa sangat tidak di hargai dan hanya di manfaatkan oleh Johan yang menjadikan gadis itu sebagai objek untuk memenuhi keinginan terakhir Helen.


"Astaga..." Sandra menghela nafas panjang, ia mencoba menahan air matanya agar tidak berjatuhan. bukankah ini menyakitkan? setiap kali Sandra mengajak Johan untuk mengakhiri hubungan, pria itu selalu menolaknya. Akan tetapi, di sisi lain sikapnya selalu membuat Sandra kecewa.


"Sandra aku..." Johan mencoba meraih tangan Renata, tetapi gadis itu langsung menepisnya.


"Jangan sentuh aku!" Sandra berkaca-kaca, baru saja ia memaafkan kesalahan Johan lantaran pria itu terlihat kaku di hadapan semua orang. padahal sudah jelas-jelas, sekarang keduanya adalah pasangan.


"Harus berapa kali aku jelaskan, aku butuh waktu."


"Berapa lama lagi? Sikapmu yang begini seolah sedang mempermainkan, ku!" pekik Sandra kehilangan kesabarannya.


Bahkan Johan sendiri tak tahu, bagaimana perasaanya terhadap Sandra. di sisi lain, ia belum bisa merelakan Helen. Namun, ia juga tak tega melihat Sandra terus merengek merasa di manfaatkan olehnya.

__ADS_1


__ADS_2