
Di tempat lain, dalam waktu singkat Tuan Damar langsung mencari informasi perihal latar belakang Johan. tentu pria paruh baya itu tidak akan begitu mudahnya percaya. Ga*y? kasus ini memang cukup lumrah. Namun, bagaimana mungkin Sandra bisa bergaul dekat dengan seorang pria yang menyimpang tersebut.
"Ayah memanggil," ucap Tian pada sang istri yang sedang menangani seorang pasien.
Renata terperangah, bahwasannya Tuan Damar adalah sesosok orang yang tidak pernah menyetujui hubungan antara Renata dan Christian. bahkan keduanya di haruskan untuk hidup mandiri dengan cara menghadai kesulitan itu bersama lalu menikah tanpa adanya restu orang tua.
"Kau angkat saja, aku masih belum selesai." sahut Renata sambil melirik kearah pasiennya.
Tian mengiyakan ucapan sang istri, pria tersebut langsung keluar untuk menjawab panggilan Ayahnya. sedangkan Renata kembali melanjutkan pekerjaannya, sebagai seorang Dokter. yang sedang menangani konsultasi pasiennya.
"Perkembangan janinnya cukup baik, aku akan memberikan obat penguat kandungan. istirahat dan makanlah dengan teratur. jangan merugikan diri sendiri dan membahayakan calon anakmu." ucap Renata ramah pada pasiennya.
"Tidak!"
Spontan Renata yang sedang menuliskan resep obat pun langsung melirik kearah si pasien yang bernama Elis tersebut.
"Berikan aku obat penggugur kandungan." pinta Elis dengan wajah memucat penuh ketakutan.
__ADS_1
Seketika raut wajah Renata berubah. mulutnya sedikit terbuka dengan bola mata yang membulat. sulit di percaya, ini adalah pertemuan keduanya degan Elis. Namun, Renata tak menyangka jika kali ini kedatangan Elis adalah untuk membunuh janin yang msh ada dalam perutnya.
"Kau waras?" tanya Renata terpelohok.
"Jangan beromong kosong, penuhi apa yang aku inginkan. dan aku akan memberikan mu uang!" tegas Elis penuh penekanan.
Glek... kenapa Renata baru menyadarinya. usia Elis yang ia tulis baru saja 19 tahun. jika di pikir kembali, kala itu Renata masih menjalani statusnya sebagai seorang mahasiswa pada seusia tersebut.
"Aku mohon, Dokter. tolong bantu aku!" Elis merengek meraih tangan Renata. "kau adalah seorang perempuan, tentu hanya kau yang bisa mengerti tentang hal ini." imbuh Elis lirih.
Renata menggelengkan kepalanya, ia menarik tangannya perlahan dari Elis sambil berkata. "Aku juga sedang hamil, bagaimana mungkin aku membantu seseorang untuk membunuh anaknya sendiri?"
Renata tahu apa yang Elis khawatirkan. kemungkinannya adalah, Ayah dari anak tersebut tidak ingin bertanggung jawab. atau Elis tak berani mengambil resiko, jika masa mudanya harus di akhiri dengan beban yang sangat memalukan. baik itu untuk dirinya sendiri maupun juga untuk keluarga.
"Apa Ayahnya tidak ingin bertanggung jawab?" Renata menyodorkan segelas air pada Elis, mencoba menenangkannya.
"Aku tidak memberitahukan hal ini padanya. dia pasti tidak menginginkannya, sama sepertiku. bagaimana dengan masa depanku? orang tuaku pasti akan membunuhku jika mereka semua tau." Elis menjelaskannya dengan sangat begitu rinci, hingga membuat Renata kembali mengingat masa sulitnya saat memperjuangan kandungan dan suaminya. awalnya saat Renata hamil, ia juga berpikir demikian. Namun, Christian memilih dirinya dan bersedia menentang keluarga demi bayi tersebut.
__ADS_1
"Pulanglah, beri tahu dia yang sebenarnya. jika ia menolak, maka kau harus memaksanya agar bertanggung jawab. soal keluarga, aku yakin mereka akan melakukan yang terbaik. kau hanya perlu meminta maaf dan mengakui segala kesalahanmu pada mereka." ujar Renata memberi saran.
"Semudah itu?" sejenak Elis menajamkan tatapannya kearah Renata. "Apa kau akan bertanggung jawab jika keluarga ku melakukan sesuatu yang buruk terhadapku?"
Renata mengerutkan dahinya, di lihat dari cara bicara Elis. sepertinya ia adalah seorang gadis pembangkang. cara bicaranya cenderung menyebalkan yang sukses membuat Renata geram. "Kenapa aku harus bertanggung jawab? itu sudah menjadi resiko mu. berani berbuat harus berani tanggung jawab. aku tidak pernah menyuruh kekasihmu untuk menghamili mu." celetuk Renata sebal secara terang-terangan.
"Hey... kenapa kau?"
"Sudahlah, kau hanya membuang waktuku. pengguguran kandungan adalah suatu tindak kejahatan. jika semua orang tahu, klinik ini bisa di tuntut." cetus Renata yang kembali membuat Elis meloloskan air matanya.
"Hanya Aku dan kau yang tahu, aku mohon." pinta Elis memaksa.
"Tidak! dan tidak akan pernah!" tegas Renata menolak.
Sementara itu, di ruangan lain. Tian mendapat beberapa pertanyaan dingin dari Ayahnya perihal sang adik. pria itu memang sempat mendengar scandal tentang Sandra saat masih bekerja sebagai seorang Direktur di rumah sakit milik Ayahnya. Namun, Tian tak menyangka jika gosip tersebut benar adanya. dan Tian sendiri mengklaim, jika Helen meninggal akibat tak kuat menahan sakit hati yang di deritanya.
"Kau jangan besar kepala karena aku menghubungimu! tujuanku hanya untuk menanyakan masalah Sandra. jangan berpikir lebih!" ucap Tuan Damar pada Christian lalu memutuskan panggilannya secara sepihak tanpa memberikan Tian kesempatan untuk membicarakan masalah personalnya.
__ADS_1
Ya, tindakan berani Christian memang patut di acungi jempol. ia meninggalkan pekerjaan dan keluarga hanya demi seorang wanita. meskipun begitu, Tian sama sekali tidak menyesalinya. kenyataannya hidupnya berjalan cukup bahagia. Renata sukses dengan rumah praktiknya. dan keduanya kini sedang menunggu kelahiran bayi pertama mereka.
Senyum kecut Tian tercipta. pria itu menghela nafas panjang setelah menerima perlakuan buruk dari Ayahnya. sejenak Tian memijat pelipisnya, lalu berkata. "Kenapa sangat sulit untuk menjadi seorang pria yang bertanggung jawab? aku hanya tidak ingin mengecewakan Renata setelah dia sudah berkorban banyak hal untukku."