
"Dia melanggar janjinya," Sandra terus memperhatikan Christian dari balik pintu ruangan direktur. seringai misterius Sandra tercipta, saat gadis itu melihat dengan jelas bagaimana sang kakak sedang bercumbu mesra dengan Renata.
"Ayolah, kalian berdua itu terlalu keras kepala dan penurut. untuk apa menjalani semua ini jika kalian tertekan dan tidak pernah bahagia?"
Ucapan Renata kembali melintas dalam pikirannya. Sandra merasa sangat bodoh, selama ini Christian terus saja menuntut dan mengatur dirinya dengan memberikan ancaman keras jika pria itu akan mengadu jika Sandra tak mematuhinya. lalu apa ini? hubungan Christian dan Renata bahkan juga di tentang keras oleh orang tuanya. tetapi, kenyataannya Christian tetap menjalani hubungan tersebut meskipun sepertinya di lakukan dengan cara diam-diam.
"Baik, aku mengerti." batin Sandra mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan sang kakak.
Renata melepaskan bibirnya dari Christian. tatapan redupnya terus mengarah pada mata indah si pria lalu berkata. "Kali ini, aku tak ingin kau berbohong." ucapnya disertai belaian tangan yang mengelus wajah Christian.
Christian mengangguk. Namun, anggukan tersebut seolah tak berarti. raut wajah Christian terlihat tidak begitu meyakinkan, atau lebih tepatnya sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Bagaimana jika aku kehilangan harta dan jabatan ku sekarang? aku bahkan akan kesulitan untuk menghidupi mu, nanti. kau tentu tahu bagaimana Ayahku?" tukas Christian cemas.
Apalah arti harta dan jabatan untuk Renata. pada kenyataannya, wanita tersebut cukup puas dengan pencapaiannya sekarang. tabungan Sandra juga sudah cukup banyak untuk persiapan jika suatu saat dirinya akan di depak oleh ayahnya Christian.
"Asal kau hidup bersama ku, tidak meninggalkanku. aku tak ada masalah jika kau bukanlah pria bergelimang harta dan tak memiliki gelar sekalipun." sahut Renata pengertian, meyakinkan.
Sepertinya, Christian pun memiliki tekad yang sama dengan adiknya. ia ingin meninggalkan sesuatu yang menekannya. pria itu juga tak ingin hidup terus-terusan dengan begitu banyak tekanan. ia tak ingin terus di kendalikan oleh ayahnya. karena sejatinya Christian adalah seorang pria yang bebas menentukan pilihan untuk masa depannya.
"Aku akan menikahi mu," Christian membalas belaian Renata. "Jangan mabuk lagi, kau harus menjaga bayi kita agar tetap baik-baik saja." ucapnya penuh kasih sayang sambil mengelus perut Renata.
Keduanya saling melempar senyuman dan pada akhirnya saling memberi kecupan kasih sayang. Ya, Renata sedang mengandung anak dari Christian. itu sebabnya, saat pria tersebut berniat menyusun rencana untuk meninggalkannya. Renata langsung memberontak, dan tidak terima meskipun wanita itu tahu alasan di balik Christian melakukan hal konyol tersebut.
__ADS_1
***
Karina merapatkan bibirnya, ia kembali mengingat kejadian itu pagi tadi. "Astaga, kenapa dia membahasnya. memalukan," batin Karina memelas.
"Karina apa kau pingsan?" tanya Nicko menarik paksa selimut yang menutupi wajah Karina.
"Tidak, jangan di lepas," pekik Karina menutupi wajahnya dengan tangan.
"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Nicko penasaran meraih tangan Karina guna menatap wajahnya.
"Hentikan, kenapa kau sangat agresif." pekik Karina menolak paksa.
Nicko menghela nafas kasar, pria itu lantas melepaskan tangannya dari Karina dan berhenti memaksanya. Namun, Nicko memiliki cara lain, pria itu justru malah ikut terbaring satu ranjang bersama Karina sambil berkata. "Begini saja, ranjang ini sempit jangan menggeser,"
"Ke... kenapa begini?" Karina berusaha membuka selimut yang menutupi wajahnya sekarang. sebab, wajah Nicko sudah berada tepat di depan matanya, dalam keadaan tertutup selimut.
"Bukannya kau tak ingin membukanya?"Nicko semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Karina hingga kini, jarak wajah tersebut hanya terpaut beberapa senti saja.
"Nicko, buka..." Karina menarik selimut tersebut dengan bersusah payah. Namun, Nicko bersikeras menahannya.
"Tenanglah," Nicko memperdalam tatapan berusaha memperdaya sang empu dengan sorot mata misteriusnya. "Apa kau tak merindukan aku?" imbuhnya bertanya sambil menggoda.
Karina begitu mudah untuk Nicko taklukan saat dirinya sadar dan menginginkan pria tersebut. wanita itu bahkan sempat berpikir dikala dirinya menyesali tindakan pasrahnya tersebut. Karina merasa dirinya terhipnotis. cinta dan kegilaan Nicko berhasil membuat Karina tak berdaya.
__ADS_1
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nicko, dengan maksud menagih janji yang Karina ucapkan semalam di kala mabuk.
Tanpa menyadari apapun, Karina spontan menggelengkan kepalanya. bibirnya bergetar disertai wajah yang semakin memanas dan merona.
"Karina, aku ingin menemui Ibumu." ucap Nicko penuh keseriusan.
"Hah?" sejenak Karina menggeser kepalanya, mencoba menciptakan jarak agar nafas mereka tak saling beradu. "u... untuk apa?"
"Untuk..."
"Tunggu," Karina menyela ucapan Nicko dengan ekspresi wajah kikuk. "sebelum menjawabnya, ayo lepaskan aku dulu. bagaimana jika ada yg melihat? mereka pasti akan salah paham."
Nicko terkekeh, kecemasan Karina sukses membuat dirinya semakin gemas. sejenak pria itu mencubit halus hidung mungil Karina lalu menjawab, "Aku adalah orang yang sangat berhati-hati. pintunya bahkan sudah ku kunci," tukas pria itu sambil membelai.
"Tapi..."
Nicko langsung menghentikan ucapan Karina dengan cara meletakan telunjuknya di atas bibir lembut wanita tersebut. "Tidak ada alasan, cepatlah sembuh. setelah ini, ada sesuatu yang harus kau dan aku bereskan."
"A... apa?" tanya Karina terbata.
"Kau akan mengetahuinya, setelah keadaanmu membaik." sahut Nicko yang seketika langsung membuat naluri penasaran Karina mencuat.
LIKE KOMEN DAN VOTE, KOMEN BANYAK AKU UP CEPET😂
__ADS_1