Pelarian Karina

Pelarian Karina
Episode 67


__ADS_3

Cukup mengejutkan memang. Karina sendiri tak menyangka jika Johan benar-benar menjadikan Sandra sebagai kekasihnya. kepergian Helen bahkan belum genap satu bulan lamanya. akan tetapi Johan sudah berani mengambil resiko, demi memenuhi keinginan terakhir wanitanya tersebut.


Yang membuat Karina semakin geli adalah, saat Sandra secara terang-terangan menghindarinya. alasannya cukup sepele, Sandra tak ingin Karina berpikir jika rumor yang beredar itu adalah fakta. karena sebelumnya, Sandra juga tak menyangka jika hal ini akan terjadi.


Karina tak ingin ambil pusing, itu hak mereka berdua. justru dengan adanya Sandra, Karina berharap jika wanita tersebut dapat mengurangi beban kesedihan Johan yang telah di tinggalkan oleh Helen sebelumnya.


"Seharusnya saat itu aku membiarkanmu mati!" jerit Bibi Pey penuh kemarahan.


Karina terperangah, pandangannya tertuju pada Lili yang menangis berlari menghampirinya. di sudut koridor, juga ada Nicko yang baru saja keluar saat mendengar suara teriakan dan lemparan barang yang berhasil mengundang rasa penasarannya untuk melihat apa yang terjadi.


"To... tolong, dia akan membunuhku." isak Lili memeluk Karina dari belakang, mencari perlindungan.


"Kemari kau anak sia*lan!" pekik Bibi Pey kesal.


"Bibi, tenang. kita bicarakan masalah ini baik-baik, tolong jangan membuat Lili takut." ucap Karina memberi pengertian, sambil melindungi Lili yang berada tepat di belakang tubuhnya.


Pandangan Bibi Pey teralihkan pada Nicko yang merangkul bahunya. pria tampan tersebut sepertinya cukup memahami situasi, ia lantas membantu Karina untuk melerai kemarahan Bibi Pey dan membawanya masuk kedalam apartemen.


Sejenak Karina menghembuskan nafas lega. tubuhnya berpaling ke arah Lili, membalas pelukan gadis belia tersebut sambil menghapus air mata dan mengelus punggungnya. "Tenanglah, semua akan baik-baik saja. katakan padaku, apa yang terjadi?" ucapnya penuh kelembutan bertanya.


"Papa..." lirih Lili menangis berat hingga langsung membuat Karina tertegun.


Air mata Lili benar-benar tak terbendung, kesedihan dan rasa frustasinya benar-benar dapat Karina rasakan. sungguh, Lili nampak seperti Karina di waktu seusianya. saat Karina merindukan belaian dan kasih sayang dari Ayahnya.


"Baik, kita bicara di dalam." imbuh Karina sambil membawa tubuh Lili melangkah masuk menuju apartemennya.

__ADS_1


Padahal baru tadi pagi Karina bersama dengan gadis tersebut. saat dirinya melepaskan infus yang ia pasang semalam dan memeriksakan keadaan Lili setelah hendak melakukan tindakan percobaan bunuh diri. syukurlah, Lili bisa sedikit meredam rasa kesedihannya. saat Karina berhasil memberikan ketenangan pada gadis tersebut.


Karina meraih tangan Lili, dan melihat keadaan luka semalam yang telah ia jahit. "Sepertinya luka mu sudah cukup membaik. kau ingin menambah sayatannya?"


Bibir Lili bergetar, pernyataan dan tawaran Karina berhasil membuatnya terperangah. "A... apa maksudmu?" tanya Lili terbata.


"Ini..." Karina menunjuk sebuah bagian kecil yang menonjol di pergelangan tangan Lili. "jika menyayatnya di sebelah sini, aku pastikan kau akan langsung meninggal. itupun jika lukanya dalam." imbuh Karina santai dengan ekspresi datar.


"Ka... kau bersekongkol dengan Ibuku untuk melenyapkan aku tanpa adanya tuduhan pembunuhan?" Lili tersenyum getir, "Apa kau tahu kenapa aku melakukan hal itu? ini semua karna aku merasa sangat tertekan!" pekik Lili memecah kembali tangisannya.


Karina berdecak, sambil menggelengkan kepalanya menatap Lili dengan sorot misterius. "Berapa usiamu?" tanya Karina pada Lili.


"Untuk apa kau mengetahuinya? masalah datang tidak mengenal usia! kau bersikap santai karna tak pernah ada di posisiku!" gerutu Lili terisak.


"I... ibuku terus saja menyuruhku belajar, ia akan memarahiku jika nilaiku buruk. wanita itu tidak lebih baik dari teman-temanku!" sahut Lili spontan.


Karina meletakan sebuah pisau buah pada telapak tangan Lili sambil berkata. "Hanya perkara belajar saja kau sampai ingin bunuh diri? bukankah kemarahan ibumu itu adalah hal wajar? baiklah, apa teman pengertianmu itu dapat membayar seluruh tagihan sekolahmu? memberimu asupan makanan setiap hari? menerima sikap keras kepalamu?" Karina mengelus rambut pajang Lili perlahan, "usiamu masih belasan tahun, anggaplah ibumu sebagai temanmu."


"Kau memihaknya, karena kau sama sekali tidak memiliki teman!" celetuk Lili menatap tajam hingga langsung membuat Karina terkekeh.


Karina merasa tertantang saat Lili terus saja menyudutkannya. padahal usia mereka cukup terpaut jauh. sebagai seorang yang berpengalaman, ocehan Lili justru membuat Karina semakin kegelian. "Aku punya teman sepertimu, aku juga sangat percaya pada temanku. dan kau tahu apa yang ia lakukan padaku setelah itu?" Karina mendekatkan wajahnya ke daun telinga Lili, kemudian berbisik. "dia menipuku, dia menjadikanku jaminan atas hutang yang ia pinjam!"


Lili membulatkan matanya, mulutnya sedikit terbuka dengan bibir yang mengatup setelah mendengar pengakuan Karina. "A... apa kau sangat kaya? mu... mungkin ia tidak mempunyai pilihan." respon Lili terbata.


"Sejauh apapun kau pergi. pada akhirnya ibumu-lah yang akan tetap bersamamu, berada di sampingmu." Karina meraih tangan Lili dan menggenggamnya menegaskan pandangan, "percayalah Lili. ibumu hanya ingin sesutau yang terbaik. usiamu masih sangat kecil untuk mengerti kerasnya dunia. siklusnya adalah, hari ini kau membutuhkan teman, menginjak usia dua puluhan kau akan di mabukan oleh cinta dan pasangan. di usia matang, yang kau butuhkan hanya uang. maka dari itu, kau harus menjamin pendidikanmu mulai dari sekarang. Ibumu hanya ingin yang terbaik untukmu. kau lihat ayahmu, ia berada jauh di luar kota hanya untuk mencukupi kebutuhan dan biaya hidupmu! tapi di sini kau malah bersikap keras kepala. tidak kah kau sudah membuat mereka kecewa?"

__ADS_1


"Aku... aku..." Lili kembali meloloskan air matanya.


"Jangan menyulitkan diri sendiri, Lili. aku pernah berada di usiamu. Namun, kau jauh lebih beruntung dariku." timpal Karina meyakinkan.


Lili mengerucutkan bibirnya penuh penyesalan, "Ma... maaf," lirihnya merasa bersalah.


"Pergilah temui ibumu, jangan anggap ia sebagai musuh. kau harus memperlakukan ia dengan baik, layaknya kau peduli pada teman-temanmu." tegas Karina sambil melepaskan pelukan.


Lili mengangguk, ia langsung beranjak melangkah keluar melewati Nicko yang sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu sambil menguping. "Dasar remaja tengi*k," umpat Nicko kesal dengan suara terendah menatap kepergian Lili yang berlari untuk menemui ibunya.


Bukan tanpa alasan Nicko berkata demikian. sebelumnya ia memang menaruh rasa curiga pada Bibi Pey. tetapi setelah mengetahui faktanya, Nicko benar-benar berhasil di buat kesal dengan tingkah dan sikap Lili yang terbilang masih labil.


"Kenapa berdiri di luar?" tanya Karina heran dengan ekspresi datar mendekati kekasihnya.


Nicko memalingkan tatapan, ia melangkah memasuki ruangan sambil menarik lalu memeluk Karina dan berkata. "sepertinya kekasihku sudah sangat cocok untuk menjadi ibu." celetuknya menggoda Karina.


"Tidak!" Karina mendorong Nicko perlahan yang telah menghimpitnya, "jangan memeluk, aku sedang berkeringat."


"Baiklah," spontan Nicko langsung mengangkat tubuh sang empu hingga membuat Karina terperangah. "Ayo kita bersihkan tubuh indahmu bersama,"


"Nicko! turunkan aku! apa yang kau lakukan!" Karina memberontak saat Nicko membawanya ke kamar mandi.


"Ustt..." Nicko menutup pintu kamar mandi, "jangan berisik, kau bisa membuat tetangga penasaran." imbuhnya memaksa Karina.


LIKE KOMEN DAN VOTENYA....

__ADS_1


__ADS_2