
Setelah membersihkan diri dan bersiap. Karina lantas mendekati Nicko yang masih terbaring lemah di atas ranjang, lalu mengecupnya singkat. "Aku akan kembali, jemput aku sore nanti," ujarnya berpamitan.
Nicko hanya tersenyum, meskipun masih sangat merindukan Karina. pria itu mengalah membiarkan Karina pergi ke rumah sakit untuk bekerja.
"Aku mencintaimu," pekik Nicko menatap Karina yang mulai menjauh dari pandangannya.
"Aku juga," sahut Karina di ambang pintu berteriak.
Katakan saja, jika suasana hati Karina saat ini sedang baik-baik saja. bebannya seketika berkurang, ia merasa seperti kembali pada masa lalu saat wanita tersebut baru menjalin hubungannya dengan Nicko. dimana saat itu hanya ada kerinduan, kasih sayang, dan rasa cinta yang terus bergejolak setiap harinya.
Baik Nicko dan Karina, mereka sudah bisa merasakan ketulusan masing-masing. dari mulai Nicko yang terus memperjuangkan cintanya dan Karina yang ingin ikut berjuang untuk mendapat simpati dari keluarga kekasihnya tersebut. mereka terus saja saling meyakinkan, saling memberikan tempat kenyamanan, tak lupa Nicko terus menyematkan dukungan untuk Karina yang mungkin saja akan mendapat sedikit kesulitan.
Sesaat, sebelum Karina akan melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi. wanita cantik itu langsung mengurungkan niatnya, saat pandangannya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Karina memang tidak begitu mengenal wanita tersebut. Namun, ia ingat betul jika wanita itu adalah istri dari sang Ayah. alasan atas kehancuran hidupnya.
"Tak..."
"Tunggu," Karina tak sempat menghentikan taksi yang melintas di hadapannya, karena tangannya langsung di raih oleh wanita paruh baya tersebut. "aku ingin bicara padamu."
Apa yang harus Karina katakan? bagaimana Karina menanggapi wanita yang menjadi penyebab masa lalu kelamnya.
"Aku tahu kau membenciku, tapi kita harus bicara." ujarnya dengan sorot mata dingin.
__ADS_1
Karina mengerjap, baru saja ia bisa melupakan sejenak beban dalam hidupnya. Namun, dalam sekejap kabut menyakitkan itu kembali menyelimuti Karina. luka yang berusaha Karina sembuhkan, kini harus kembali basah lantaran penyebab luka tersebut muncul tepat di hadapannya.
"Jika itu menyangkut Tuan Arman, saya sibuk." Karina melepaskan tangannya perlahan, menolak halus.
Wanita paruh baya itu tertegun. ia sendiri tidak pernah membayangkan, jika hari ini benar-benar akan terjadi. "Ayahmu ingin menemui mu," ucapnya yang seketika langsung mengubah ekspresi wajah Karina.
"Ayahku sudah meninggal!" sahut Karina cepat dengan wajah dan mata yang memanas
Wanita paruh baya itu tertegun, tatapan tajamnya terus mengarah pada Karina. entah apa yang ada dalam pikiran wanita tersebut.
"Jika tidak ada hal lain, biarkan aku pergi." ujar Karina dingin memalingkan tubuhnya, setetes air mata Karina mengalir. pada akhirnya, ucapan tersebut harus kembali keluar dari mulutnya saat Karina menganggap jika sang Ayah benar-benar sudah tiada dalam hidupnya.
"Karina..."
"Berikan Arman kesempatan, ia terus mencari mu dan Maria, bahkan... bahkan aku sudah sering mengunjungi rumah Ibu kalian."
Mendengar pernyataan tersebut hanya membuat dada Karina semakin sesak. sepertinya wanita yang sedang menatap Karina dengan raut wajah penuh sesal itu tidak tahu, jika Marina, Ibu dari Karina sudah meninggal.
"Bahkan, meskipun ia berlutut di bawah kakiku, aku tidak akan pernah memaafkannya!" lirih Karina memecah tangisan, Karina melangkah mendekat. "terlalu banyak luka dan penghianatan yang Tuan Arman berikan! penyesalannya adalah hukuman yang tuhan berikan atas apa yang sudah ia perbuat!"
Wanita itu tertegun, sakit hati yang Karina rasakan begitu terlihat jelas. bahkan ucapan Karina memperlihatkan jika dirinya benar-benar sangat terluka.
__ADS_1
"Kau berhasil Nyonya, kau sudah menghancurkan hidupku dan keluargaku. kau mengambil Papa dari kami." sejenak Karina menyeka air matanya, mencoba terlihat tegar meskipun perasaannya benar-benar kesakitan. "aku sudah memutuskan hubungan dan menganggap Papa meninggal sejak saat dia memilih pergi bersamamu. kau tentu melihat bagaimana pria itu mendorongku saat aku ingin memeluk dan mencegahnya pergi. saat Kakakku marah dan dia justru malah menamparnya." Karina tersenyum getir memutar bola matanya, "Sia*l. aku menangis lagi setiap kali aku mengingat hal itu," imbuh Karina mengumpati dirinya sendiri.
"Katakan, bagaimana aku harus menebus kehancuran dan rasa sakitmu?" wanita paruh baya itu kembali meraih tangan Karina dan menggenggamnya. "usianya sudah semakin tua, ia ingin meminta maaf darimu sebelum ia pergi."
"Pe... pergi?"
"Operasi yang kau tangani, bukanlah yang pertama kali untuknya. sebelum itu, ia sudah sangat sering keluar masuk rumah sakit karena berbagai macam keluhan sakit." ujarnya menjelaskan pada Karina hingga langsung membuat Karina terpaku seketika.
Sulit untuk Karina menyimpan sedikit rasa iba meskipun penjelasan yang wanita itu berikan terdengar memprihatinkan. Karina sudah terbakar oleh kebencian, bahkan seorang Nicko saja harus berjuang selama lima tahun lamanya untuk mendapat maaf dari Karina.
"Aku tahu ini sulit untukmu, bagaimanapun dia adalah Ayahmu. kau harus memberikan kesempatan pada Arman di sisa hidupnya." ucap wanita itu memohon.
Karina tak kuasa menahan tangisnya, kemarahannya terlalu dalam. ia tak bisa menoleransi apa yang sudah Arman lalukan. bahkan Karina berpikir, kenapa baru sekarang Arman baru menyesali perbuatannya. di saat Marina sudah meninggal membawa luka yang Arman berikan.
"Maaf, aku tida bisa." Karina menggelengkan kepalanya penuh keyakinan untuk menolak bujuk wanita tersebut.
"Karina! bagaimanapun dia adalah Ayahmu!" tegas wanita itu mendesak Karina.
"Lantas, bagaimana dengan Ibuku? Ibuku sudah meninggal. ia pergi membawa sakit hati dan kebencian! apa kau pernah berpikir bagaimana sulitnya kehidupan yang Ibuku jalani? ia membesarkan ku tanpa Papa! ia mendidik aku dan Maria seorang diri, menghidupi dan mencukupi yang kami butuhkan tanpa bantuan siapapun! apa kau pernah berpikir, bagaimana sakit hatinya, lukanya perasaannya?" air mata Karina mengalir deras, tak habis pikir dirinya pada wanita yang berada tepat di hapapannya tersebut. sangat egois, dan hanya memikirkan Arman dan penyesalannya. "Bahkan penyesalan Papa saja tidak cukup untuk membayar air matanya yang jatuh setiap malam!" pekik Karina histeris penuh penekanan.
Wanita paruh baya itu mengerjap, genggaman tangannya pada Karina melonggar. air matanya terlihat jelas jatuh, saat Karina berhasil menamparnya dengan semua penjelasan yang Karina berikan.
__ADS_1
Rasanya percuma saja untuk memberikan penjelasan dan keyakinan pada Karina. alasan Dokter cantik itu untuk menolak terlalu kuat. siapapun akan bersikap sama seperti Karina. layaknya luka di atas luka, semua itu tak akan pernah sembuh dengan begitu mudah.
LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONGG....