PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
AKU INGIN MATI


__ADS_3

Aku merasa segala hal semua yang berjalan di hidupku tidak berjalan dengan baik. Kenyataan bahwa diriku mencintai seseorang yang bukan milikku membuat hatiku sangat hancur. Aku juga ingin menghancurkan diriku, berada dalam neraka kehidupan yang akan membuatku tersiksa. Ya, aku sudah tidak memedulikan hidupku lagi. Bagiku, dunia sudah hancur ketika melihat Alec bercinta dengan Olivia. Tidak, semua sudah hancur ketika pria bernama Vernon hadir di dalam hidupku.


Tubuh kekar Vernon merengkuh tubuhku yang sudah tak memiliki tenaga. Sedikitpun aku tak bergerak, membiarkan Vernon berbuat sesukanya dengan menghujaniku dengan ciumannya. Dalam kungkungannya aku memasrahkan diriku padanya. ******* bibir Vernon membuat aku tak mampu berpikir apapun lagi.


Semua yang dikatakan Sesya benar. Aku harus menerima kenyataan hidupku. Aku sudah menikah dengan Vernon, meski aku tidak mencintainya. Alec pun akan menikah juga dengan Olivia. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menerima hal tersebut.


Tiba-tiba Vernon berhenti, dengan tatapan tajam menatapku. Dia mendengus menatapku dengan setengah senyumnya.


"Sudah aku bilang, aku tidak suka bermain-main dengan wanita mabuk." Ucap Vernon setelah itu beranjak turun dari atas tubuhku. "Kau benar-benar mabuk."


Setelah berkata demikian Vernon berjalan keluar meninggalkan diriku dalam kesendirian.


Air mataku tumpah ruah sepeninggalan Vernon. Aku membenci diriku yang sekarang. Dalam rasa sedih yang aku alami saat ini membuat aku tak mampu berpikir panjang. Bahkan Vernon pun meninggalkan aku saat ini.


Kepalaku terasa begitu berat ketika membuka mata. Cahaya lampu di kamar hotel tempatku bermalam membuat mataku sakit seperti tertusuk pisau. Aku mengusap mataku untuk membenarkan penglihatanku.


Vernon baru saja keluar dari kamar mandi saat ini dengan menggunakan handuk kimono. Aku tidak tahu jika dia berada di kamar ini atau pun tidur di sini juga.


Melihatnya mengingatkan aku akan kesedihan yang masih aku rasakan saat ini. Walau mabukku sudah hilang, rasa sedih di hatiku masih terasa dan malah semakin buruk. Membuatku tidak ingin melakukan apapun saat ini.


Aku tetap berbaring ketika Vernon menoleh pada diriku yang sudah terbangun. Dia tertawa kecil dengan sebuah seringai padaku. Mungkin saat ini di matanya aku sangat kacau dengan keadaanku saat ini. Aku tidak memedulikan apa yang dipikirkannya, toh memang aku sedang kacau.


"Cepat bangun, kita harus kembali ke rumah. Semua anggota keluargaku saat ini sudah ada." Seru Vernon.


Aku tetap tidak bergeming. Aku masih ingin berbaring dan tidak ingin melakukan apapun hari ini. Bahkan rasanya aku juga tidak ingin berbicara.

__ADS_1


"Kau mendengarku kan?" Vernon terlihat kesal menatapku.


"Vern, tinggalkan aku di sini. Biarkan aku sendirian dulu. Hari ini aku tidak ingin melakukan apapun." Akhirnya aku membuka mulut agar Vernon mengerti.


Vernon berjalan mendekatiku. Tangannya langsung mencengkramku yang masih berbaring tak berdaya. Aku bahkan hanya menatapnya datar dengan sebutir air mata jatuh dari kedua mataku.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat seperti ingin mati?" Tanya Vernon. Matanya menyiratkan sebuah rasa kekesalan padaku.


"Ya, apa kau bisa membunuhku sekarang?" Jawabanku membuat Vernon melepaskan cengkramannya.


"Kau sudah gila?"


"Jika ada kata yang melebihi kata gila, saat ini itulah yang aku rasakan." Ucapku dengan berbaring miring memunggungi Vernon yang berdiri di samping tempat tidur.


"Terserah apa katamu." Ujar Vernon berjalan mengambil pakaiannya dan hendak memakainya.


"Aku akan meninggalkanmu beberapa jam, tapi bersiap-siaplah, kita akan makan siang bersama keluargaku." Seru Vernon sambil memakai pakaiannya, sebuah kemeja putih dan celana panjang hitam. "Rencana pernikahan Olivia dengan Alec akan dibahas, kau harus ikut."


Mendengar perkataannya membuat aku mengeluarkan air mataku lagi. Entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Aku merasa kosong dipikiranku hingga memutuskan beranjak turun dari tempat tidur.


Aku bisa merasakan Vernon memperhatikanku ketika aku berjalan ke balkon kamar. Aku berdiri melihat keluar pagar pembatas yang tingginya hanya setengah dari tinggi badanku. Tiba-tiba pikiranku saat ini sangat buntu. Aku mencoba menaiki pagar pembatas untuk mengakhiri hidupku. Aku ingin mati saja.


Namun Vernon menarik tubuhku sebelum aku berhasil melakukannya. Dia merengkuhku dari belakang agar aku tidak berusaha melompat keluar pagar pembatas.


"Biarkan aku melakukannya!!" Seruku dengan terisak.

__ADS_1


Vernon membawaku masuk ke kamar dan mendorongku ke tempat tidur dengan kesal. Dia menatapku dengan ekspresi heran karena tidak percaya pada apa yang hendak aku lakukan tadi.


"Kenapa kau menarikku? Biarkan aku melompat!!" Ujarku dengan kesal juga karena dirinya menghalangi aku yang ingin mengakhiri rasa sedihku. "Sudah aku bilang, aku ingin mati!!"


"Diamlah!!" Seru Vernon marah. "Kenapa kau jadi ingin mati? Kenapa kau seperti ini?"


"Karena kau!! Kenapa kau hadir di hidupku? Kenapa kau mengacaukan hidupku? Kenapa kau harus merenggut kebebasanku?" Tanyaku dengan terisak. Ya, semua ini memang salah Vernon. Jika saja dia tidak datang dan memintaku untuk menjadi penebus dosa kakakku, hidupku masih akan berjalan seperti yang aku inginkan. "Kalau kau menghalangiku yang ingin mati, maka kau saja yang enyah dari hidupku!! Aku tidak ingin melihatmu di dalam sisa hidupku!!"


Vernon tertegun mendengar semua perkataanku. Aku yang terduduk di sisi tempat tidur menatapnya dengan segenap kebencianku padanya.


"Aku ingin kembali seperti sebelum kau datang. Aku ingin mengatakannya kalau aku mencintainya sejak dulu. Aku sangat mencintainya, seharusnya aku tidak menikah denganmu. Kehadiranmu mengacaukan segalanya. Ini sangat menyakitkan untukku." Aku mencoba menahan untuk tidak mengatakan apapun pada Vernon tapi rasanya tidak bisa. Aku ingin meluapkan kesedihanku pada orang yang membuat duniaku hancur berkeping-keping. Aku ingin dia tahu betapa sedihnya aku karena kehadirannya. "Aku tahu kau sangat membenciku dan ingin menghancurkan hidupku untuk balas dendam pada kakakku. Karena itu biarkan aku mati saja sekalian. Itu cukup adil bukan?"


Vernon tetap diam mematung mendengar luapan rasa sedihku. Dia hanya diam saja dan tidak menjawabku. Itu membuat aku semakin membencinya. Aku membenci keberadaannya saat ini.


"Pergilah, tinggalkan aku sendiri. Aku pastikan kau tidak akan melihatku lagi. Dendammu pada kakakku akan terbalas dengan kematianku. Aku rasa itu sepadan untuk membalas kematian wanita yang kau cintai."


Aku mulai beranjak turun dan mencoba berjalan kembali ke balkon. Aku ingin mengakhiri hidupku.


"Aku mencintaimu, Viv." Ucap Vernon.


Aku berhenti melangkah mendengar ucapan Vernon. Kemarinpun dia pernah mengatakan hal tersebut padaku.


Tiba-tiba Vernon menggapai tubuhku dan memelukku. Mendekapku sangat erat.


Apa maksudnya semua ini?

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2