
Suara kicau burung di pagi hari membangunkan diriku. Cahaya matahari menyelinap masuk dari celah tirai jendela di kamar yang tidak tertutup rapat, dan mengarah tepat ke mataku.
Dengan tanganku aku mencoba menghalau cahaya yang menusuk mataku saat ini. Aku bisa merasakan bagaimana kepalaku yang terasa amat sangat berat.
Jika mengingat apa saja yang terjadi semalam, rasanya semua itu hanyalah sebuah mimpi. Aku bahkan tidak mengingat apapun lagi setelah diriku mengatakan mengenai rahasiaku dan Alec pada Olivia.
"Akhirnya kau bangun juga." Terdengar suara Vernon di arah pintu yang aku punggungi.
Aku membalikan tubuhku untuk melihat ke arahnya yang sedang duduk di sofa dekat pintu masuk dengan segelas wine.
Sejujurnya aku berharap Vernon tidak ada ketika aku bangun. Hari juga sudah sangat siang sekarang.
Tidak ada yang aku katakan, aku memperhatikan tubuhku yang saat ini tidak memakai apapun. Itu benar-benar membuat aku bingung karena aku tidak mengingat apapun setelah aku menaiki tangga.
"Apa kau lupa dengan apa yang terjadi semalam?" Tanya Vernon seperti bisa menduga apa yang aku pikirkan.
Aku sama sekali tidak ingin menjawabnya dan memilih untuk beranjak masuk ke kamar mandi. Namun tanpa aku duga, Vernon mengikutiku masuk. Ia langsung menarik lenganku dan membalikkan tubuhku hingga menghadapnya.
"Apa itu benar?" Tanya Vernon dengan tatapan tajam padaku. "Apa kau bercinta dengan Alec disaat dia dan Oliv Sudan berencana menikah? Apa itu berarti kau mengkhianatiku waktu itu?"
Aku tersenyum pada Vernon untuk menjawab pertanyaannya.
"Ya, karena pria yang aku cinta adalah Alec. Dialah pria yang membuatku ingin bunuh diri waktu itu." Jawabku.
Vernon langsung mencengkram wajahku dengan tatapannya yang sangat marah, namun aku menepis tangannya dan mendorong tubuh Vernon.
"Kau tidak harus semarah itu padaku disaat kau juga mengkhianatiku sekarang." Jawabku.
"Apa maksudmu?" Tanya Vernon.
"Aku tahu kemarinpun kau bersama pelayan yang sangat mirip dengan wanita yang sangat kau cintai itu kan? Wanita yang wajahnya terpampang dengan jelas di ruangan di mana kau sering menghabiskan banyak waktu di sana!!" Seruku dengan penuh emosi.
__ADS_1
Vernon terdiam dan tidak mengatakan apapun untuk membantah apa yang aku ucapkan. Itu membuat aku mengerti kalau semua yang aku ucapkan adalah benar.
"Pergilah, tinggalkan aku sendiri saat ini. Kau marah padaku karena aku bercinta dengan pria yang saat itu aku cintai. Tapi kau membiarkan wanita yang kau cintai dulu mengkhianatimu walau kau tahu itu benar." Ujarku dan langsung masuk ke bath up.
Aku mencoba tidak melihat pada Vernon yang masih menatap diriku. Tampaknya ia terkejut karena aku mengatakan hal tersebut.
Sesuatu yang waktu itu bahkan ia katakan di dalam tidurnya. Sesuatu mengenai pengkhianatan Wynetta padanya.
Selesai berendam cukup lama, aku keluar sesudah membersihkan diriku. Vernon sudah tidak ada di kamar, entah pergi kemana. Aku pun tidak ingin memikirkannya. Biarkan saja jika ia ingin menatap foto Wynetta di ruang kerjanya, atau aku juga tidak peduli sekalipun ia pergi menemui pelayan itu.
Menjelang sore hari, aku memilih menghabiskan waktu di balkon tempat biasanya. Kepalaku masih sangat berat sehingga aku memilih hanya meminum jus jeruk dan menikmati sore hari yang hari ini tampak cerah.
Handphone-ku berdering dan aku langsung menjawab sebuah telepon dari Alec.
"Viv, kenapa kau mengatakan pada Olivia mengenai kita yang pernah bercinta waktu itu?" Suara Alec langsung terdengar sebelum sempat aku mendekatkan handphone-ku ke telinga. "Vernon sangat marah, dia membatalkan pernikahannya dan ingin membunuhku."
"Tidak, dia tidak akan membunuhmu. Pergilah ke rumah Arthur, kakakku akan melindungimu dari kemarahan Vernon." Jawabku dengan santai langsung menutup teleponnya.
"Est." Panggilku tanpa menoleh ke belakang.
Esteban yang berdiri di dalam ruangan langsung ke luar dan mengambil posisi berdiri di sampingku.
"Apa yang terjadi padaku semalam? Aku tidak mengingat apapun lagi setelah aku menepis tanganmu saat di tangga." Ujarku merasa penasaran.
"Nyonya kehilangan kesadaran dan tuan Vernon membawa nyonya ke kamar namun sebelum masuk kamar, nyonya terbangun dan berjalan masuk ke kamar dengan menahan muntah." Jawab Esteban.
Setelahnya dapat dipastikan lagi kalau aku langsung memuntahkan semua yang aku minum hingga akhirnya aku melepas semua pakaianku sebelum tidur.
"Apa kau tahu di mana Olivia saat ini?" Tanyaku.
"Sejak semalam nona Olivia mengurung diri di kamar setelah pernikahannya dibatalkan tuan Vernon, dan nanti malam aku dengar dia akan kembali ke Oslo."
__ADS_1
Segera aku melangkahkan kakiku menuju kamar Olivia. Setelah perkataanku yang membuat pernikahannya batal, aku ingin mengatakan sesuatu pada wanita itu.
Olivia melihat kehadiranku dengan membuang mukanya segera dari tatapanku. Aku berjalan mendekati tempat tidur di mana ia duduk bersandar di atasnya.
Sejenak aku hanya berdiri menatap Olivia yang wajahnya menoleh ke samping menandakan dirinya tidak ingin berkata apapun padaku.
Itu jelas saja, siapapun pasti akan membenci wanita yang bercinta dengan calon suaminya. Akupun bisa mengerti mengenai hal tersebut, karena saat ini aku pun merasakannya. Karena itu aku tidak akan meminta maaf padanya. Bagaimanapun waktu itu yang terjadi adalah diriku yang bercinta dengan pria yang aku cintai. Dan tidak ada penyesalan saat aku melakukannya.
"Oliv, aku tahu sejak lama kau mencintai Alec. Bukan begitu?" Aku mulai berbicara walau sepertinya Olivia akan sulit mengatakan apapun padaku. "Sejak sepuluh tahun lalu kau mencintainya, benarkan?"
Tidak ada perkataan apapun yang keluar dari Olivia. Sejujurnya aku juga tidak berharap ia akan menjawab pertanyaan yang jawabannya itu sudah aku ketahui, karena aku melihat ketika dirinya menyatakan cintanya pada Alec sepuluh tahun lalu. Namun saat itu Alec menolaknya dengan mengatakan jika dirinya mencintaiku.
"Kau tahu? Sebelum menikah dengan Vernon aku mencintai Alec. Aku selalu menganggap dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Tapi ternyata semua itu salah."
Aku menahan napas sesaat sebelum melanjutkan semua perkataanku. Ada hal lain yang lebih penting yang ingin aku katakan pada Olivia saat ini. Ah, bukan perkataan tetapi sebuah pertanyaan.
"Semuanya berubah setelah aku menikah dengan Vernon dan sepertinya perkataanmu waktu itu yang mengatakan kalau diriku mencintai Vernon sejak dulu yang membuat aku tersadar kalau itu benar." Ucapku.
Perkataanku itu membuat Olivia menoleh padaku. Ia menatapku dengan matanya yang memerah, memancarkan rasa sedihnya.
"Katakan kalau itu benar, Oliv." Seruku dengan suara bergetar.
"Apa maksudmu? Apa yang benar?" Tanya Olivia yang akhirnya membuka mulutnya. "Aku tidak mengerti tujuanmu mengatakana semua itu padaku."
"Sepuluh tahun lalu, aku berada di rumahku bersama seorang gadis seusiaku. Aku hendak mengajaknya ke kamarku ketika dirumahku mengadakan pesta pertunangan Arthur. Tapi sebelum kami sampai, terdengar suara sepasang wanita dan pria yang sedang bercinta. Mereka merencanakan sesuatu. Aku dan gadis itu mendengar semuanya." Ujarku dengan tatapan tajam pada Olivia. "Mereka merencanakan untuk membuat suatu kecelakaan yang disengaja demi tujuan si wanita. Aku tidak bisa ingat apa tujuan wanita itu. Tapi bisa kah kau memberitahuku, Oliv?"
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
"Aku tahu kau mengingatnya... karena gadis yang bersamaku itu adalah dirimu, Olivia." Jawabku.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1