PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
KAU HANYA TAWANANKU


__ADS_3

Kenyataan kalau Alec mencintaiku sekaligus dirinya yang akan menikah dengan Olivia membuat diriku sangat bersedih. Aku sangat mencintainya sejak dulu. Alec adalah cinta pertama dan aku juga yakin kalau dia merupakan cinta terakhir di dalam hidupku. Jika seperti ini mungkin lebih baik Alec tidak menciumku hingga aku mengetahui bagaimana perasaannya.


"Ini sangat menyakitkan Ses, aku tidak mungkin bisa menerimanya." Ucapku pada sahabatku Sesya.


Aku langsung pergi menemui Sesya setelah mengetahui apa yang akan terjadi. Aku selalu menceritakan apapun pada sahabatku itu. Dia satu-satunya manusia di bumi yang selalu menjadi tempatku mencurahkan isi hatiku. Dan hanya Sesya juga yang mengetahui seberapa besar cintaku pada Alec selama ini.


"Seharusnya kau tidak perlu sesedih itu, Viv. Walau Alec tidak menikah dengan Olivia pun kau tetap tidak bisa bersama dengannya. Kau sudah menikah dengan Vernon. Kau sudah menjadi istri pria lain juga." Jawab Sesya yang duduk di sampingmu, sedangkan aku sedang berbaring di tempat tidurnya dengan tidak bersemangat.


"Aku yakin pernikahan aku dan Vernon tidak akan bertahan lama. Kami tidak saling mencintai. Dia juga masih sangat mencintai wanita itu. Jadi semakin lama aku yakin dirinya juga tidak akan kuat menikah denganku. Lambat laun dia pasti akan meminta berpisah dariku. Di tambah aku selalu menghindarinya."


"Ayolah, Viv. Vernon tidak mungkin melepaskanmu. Walau kalian tidak saling mencintai dia tetap akan mengurungmu dalam ikatan itu. Sejak awal dia hanya ingin membalas perbuatan Arthur. Jadi jangan harap Vernon akan melepaskanmu. Dia akan menyiksamu dalam hubungan pernikahan kalian. Dia tidak akan menceraikanmu." Ucap Sesya.


Semua perkataan Sesya memang benar. Vernon hanya ingin menyiksaku dan dia sudah berhasil melakukannya. Aku sangat tersiksa karena tidak bisa berbuat apapun. Pria yang aku cintai akan menjadi adik iparku. Itu sangat buruk sekali.


Aku membenamkan wajahku ke bantal dan berteriak kesal dengan rasa sedih yang luar biasa. Bahkan aku tak mampu mengeluarkan air mataku untuk menumpahman kesedihan di hatiku.


"Viv, kau hanya punya satu cara untuk membuat dirimu tidak bersedih lagi."


Ucapan Sesya membuat diriku menoleh padanya, dan segera bangun dari posisi tidur. Duduk menatap Sesya karena penasaran dengan apa yang akan dikatakannya agar aku tidak bersedih.


"Aku rasa hal ini tidak buruk juga."


"Cepat katakan cara apa yang kau maksud?" Tanyaku tidak sabar.


"Lupakan Alec dan buat dirimu mencintai Vernon. Kau juga harus membuat Vernon jatuh cinta padamu." Sesya mengatakan hal yang tidak mungkin itu dengan sebuah senyum.

__ADS_1


"Itu sesuatu hal yang tidak mungkin." Ujarku dengan kesal. Aku menyesal mendengarkan perkataan Sesya dengan sangat serius. Aku tidak ingin melupakan Alec apalagi sampai mencintai pria seperti Vernon.


"Tidak mungkin bukan berarti mustahil kan?" Tatap Sesya. "Lalu apa ada cara lainnya? Apa kau punya cara yang lebih baik dari yang aku katakan tadi? Apa kau mau terus membiarkan rasa sedihmu mengganggu hidupmu?"


Keputusasaan menyerang diriku saat ini. Aku menjatuhkan diriku kembali dan berbaring dengan membuang napas.


"Aku dan Alec akan berselingkuh. Kami bisa melakukannya karena sepertinya setelah mereka menikah Alec akan tinggal di rumah Vernon."


"Ya, kalian bisa melakukannya. Tapi sampai kapan kalian menyembunyikan hubungan kalian nanti?" Tanya Sesya. "Itu malah akan semakin menyiksa dirimu, Viv."


Itu benar. Aku dan Alec bisa saja menjalin hubungan gelap setelah ini. Tapi mau sampai kapan itu terjadi? Aku akan semakin menderita ketika melihat dirinya bersama Olivia nanti.


"Aku sangat menyesal kenapa sejak dulu aku tidak mengatakan perasaanku padanya."


"Aku rasa itu juga sesuatu yang aneh. Jika Alec menyukaimu sejak dulu, kenapa dia juga tidak pernah mengatakannya padamu? Dia punya jutaan kesempatan melakukannya karena hampir setiap hari kalian bertemu. Dia adalah sahabat Art, seharusnya dengan mudah kalian menjalin hubungan sejak dulu. Keluarga kalian juga bersahabat kan?"


Lagi-lagi semua perkataan Sesya benar. Lima tahun lalu Alec menciumku. Aku yakin jika saat itu dia sudah menyukaiku. Tapi kenapa dia tidak mengatakan kalau dia menyukaiku agar kami bisa menjalin hubungan? Ini sangat aneh.


Semua rasa sedihku tetap tidak bisa menghilang dari pikiran dan hatiku walau aku sudah berusaha. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan untuk diriku sendiri agar aku baik-baik saja.


Vernon menatap kehadiranku saat aku memasuki kamar kami. Ia sedang memakai celana saja dan tidak memakai baju karena dirinya baru saja selesai mandi. Aku berjalan mendekatinya karena ada hal yang ingin aku tanyakan padanya. Sesuatu hal yang sebenarnya tidaklah penting.


"Dari mana saja kau? Sebentar lagi waktunya makan malam. Keluarga Alec akan datang. Cepat bersiap—"


"Vern, apa ada kemungkinan kita akan berpisah?" Tatapku yang berdiri tepat di hadapan Vernon. "Kita tidak saling mencintai. Bukankah lebih baik jika kita tidak melanjutkan hubungan ini?"

__ADS_1


Vernon tertawa mendengar perkataanku. Aku tidak heran dengan reaksinya. Semua yang aku katakan juga memang lucu. Sejak awal dia menikahiku hanya karena kesalahan Arthur padanya. Dia hanya ingin membuat aku menderita.


"Ada apa? Ini baru dua hari kita menikah. Apa kau sudah tidak kuat?"


"Ya, aku tidak kuat. Aku ingin kita berpisah. Aku tahu kau pun tidak ingin menikah denganku, karena itu kau juga menderita kan?"


"Dengarkan, bodoh!!" Seru Vernon memegang tangan kiriku dan mengangkatnya ke atas dengan kasar. "Aku tidak peduli dengan penderitaan yang aku rasakan, karena aku sudah lama menderita karena kakakmu. Aku hanya peduli pada penderitaanmu, karena tujuanku memang ingin membuatmu menderita agar kau dan kakakmu itu mengerti bagaimana penderitaanku selama ini. Aku tidak mungkin melepaskanmu begitu saja. Ini masih terlalu awal untukmu menyerah."


"Kau tidak akan mendapatkan apapun dengan menyiksaku. Wanita itu tidak akan kembali hidup. Kau akan terus hidup dalam penderitaan. Sebaiknya hentikan pernikahan ini, dan relakan wanita itu pergi. Kau bisa mulai mencintai wanita lain—"


"Diamlah!!" Geram Vernon menekan wajahku dengan tangan kirinya. "Kau tidak berhak mengatur apa yang ingin aku lakukan. Kau hanya tawananku, kakakku memberikanmu padaku untuk aku siksa."


Tiba-tiba Vernon mendorongku ke atas tempat tidur dan langsung menjeratku dengan tubuhnya yang berada di atasku. Tatapannya saat ini menunjukan rasa marah. Tapi aku tahu rasa marah itu terbentuk karena rasa sedih dan penderitaannya selama ini.


"Ya, baiklah. Kau bisa menyiksaku sesuka hatimu. Tapi itu tetap tidak akan merubah apa yang kau rasakan. Melainkan kau akan semakin menambah penderitaanmu. Kau akan terus tenggelam dalam penderitaan karena rasa sedihmu kehilangan Wynetta, wanita yang kau cinta." Ucapku dengan tatapan dingin. "Hanya penderitaanmu yang bertambah, Vern."


Vernon terdiam melihatku dari posisinya yang berada di atasku. Semakin lama tatapan marahnya meredup menatapku. Dan saat ini aku bisa melihat pancaran rasa sedih dari matanya. Sejak awal saat pertama kali dia membawaku ke kamar ini, aku sudah melihat rasa sedih itu terpancar dari matanya.


Vernon beranjak turun dari atasku dan duduk di sisi tempat tidur dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, hingga usapannya berakhir di kepala.


Aku pun turun dari tempat tidur dan hendak berjalan ke kamar mandi. Namun tiba-tiba Vernon menarikku dan langsung menciumku.


Aku membiarkan dirinya menciumku karena kali ini Vernon melakukannya tanpa mengekang tubuhku. Setelah melepaskan ciumannya, Vernon menatapku dengan raut wajah yang tak pernah aku lihat sebelumnya.


"Aku mencintaimu, Viv." Ucap Vernon.

__ADS_1


__ADS_2