
Saat membuka mata di pagi hari, aku merasa seperti dunia berputar-putar. Dan tenggorokanku merasa tidak enak saat ini, sehingga aku langsung bergegas ke kamar mandi dan muntah. Tidak ada yang aku muntahkan dan hanya air karena sejak kemarin aku tidak bernafsu untuk makan sehingga tidak makan malam.
Sepertinya diriku memang tidak sedang baik-baik saja saat ini. Aku bergegas mengambil handphone di meja samping tempat tidur, hendak menghubungi Renata. Kemarin dia tidak ada karena itu aku yang merasa kurang sehat kemarin belum diperiksa.
"Ada apa, Viv? Ini masih terlalu pagi." Ujar Renata di ujung telepon.
Aku bisa mendengar kalau saat ini Renata bersama Arthur karena terdengar suara Arthur yang sedang meracau karena terganggu dengan teleponku. Itu berarti Renata sudah ada di rumahku dan saat ini dirinya di kamar kakakku.
"Ren, datanglah ke kamarku. Aku merasa sangat kacau saat ini."
Tidak butuh waktu lama, Renata datang bersama dengan Arthur yang tampak khawatir padaku. Karena khawatir Arthur datang hanya memakai celana tidurnya dan bertelanjang dada sedangkan Renata hanya memakai jubah handuk.
"Ada apa Viv?" Tanya Arthur yang bergerak mendekatiku yang berbaring.
Seketika aku merasakan mual sekali lagi dan secepatnya berjalan ke kamar mandi dan kembali muntah. Rasanya sangat menyakitkan karena tidak ada yang bisa aku muntahkan karena tidak ada apapun di perutku. Luka tembak ini juga jadi terasa nyeri.
"Viv, apa kau salah makan?" Tanya Renata yang berdiri di belakangku sambil mengusap-usap punggungku yang sedang muntah di wastafel.
Segera aku mencuci mulutku untuk menjawab pertanyaan Renata tersebut. Arthur yang berdiri di ambang pintu kamar mandi juga menatapku dengan tatapan cemas.
"Sejak kemarin aku hampir tidak makan apapun karena tidak nafsu makan, tidak mungkin aku keracunan makanan." Jawabku sambil berjalan keluar dan duduk di atas tempat tidurku lagi. "Sebenarnya sejak dua minggu ini aku tidak nafsu makan dan hanya sedikit makan. Tapi sejak kemarin rasanya kondisiku lebih buruk."
"Ada apa dengannya, Ren? Cepat periksa dia." Seru Arthur yang berdiri di samping tempat tidur.
Renata duduk di sisi tempat tidur dan menatapku dengan lekat. Aku bisa melihat jika dirinya sudah dapat mengetahui apa yang terjadi padaku karena tidak ada tatapan khawatir dari wajahnya. Itu sangat aneh.
__ADS_1
"Kapan terakhir kali kau menstruasi?" Tanya Renata.
Pertanyaannya sangat mengejutkan aku, begitu juga dengan Arthur yang langsung mengernyitkan dahinya. Walau aneh, aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku menstruasi.
"Aku tidak ingat." Jawabku karena hampir tidak pernah aku memperhatikan hal sepele seperti itu. "Mungkin bulan lalu."
"Apa maksudnya, Ren?" Tanya Arthur bingung.
"Ada kemungkinan kau hamil." Jawab Renata memperlihatkan senyumnya.
"Apa?" Aku sangat terkejut dengan jawabannya. "Itu tidak mungkin, Ren."
Aku tidak bisa mempercayai perkataan Renata begitu saja. Itu suatu yang mustahil, bahkan aku sama sekali tidak pernah memikirkannya kalau aku akan hamil.
"Kau bilang waktu itu kalau Vernon memaksamu bercinta, kan?" Tatap Renata.
"Sialan si berengsek itu." Kesal Arthur yang terlihat marah karena mendengar Vernon memaksamu bercinta dengannya. "Sebaiknya bawa Vivian ke rumah sakit Ren, jika benar dia hamil, gugurkan saja. Mereka berdua akan berpisah tidak mungkin dia melahirkan anak si berengsek itu."
Mendengar perkataan Arthur aku menoleh padanya. Perkataannya tidak bisa aku terima, tidak mungkin aku mengugurkan anakku. Bagaimanapun jika aku benar hamil ini juga anakku. Namun aku tidak ingin mengatakan hal apapun saat ini.
"Baiklah, sekarang baru jam enam pagi, nanti jam sepuluh kita akan ke rumah sakit, Viv." Ujar Renata bangkit berdiri dan memegang lengan Arthur yang masih tampak kesal. "Sekarang kau istirahat dulu saja, aku akan meminta pelayan membawakan makanan untukmu. Perutmu tidak boleh kosong, itu akan membuatmu merasa lebih sakit saat muntah."
Sekarang perasaanku menjadi tidak karuan. Aku menjadi takut saat ini. Jika aku benar hamil maka semuanya menjadi buruk. Kami berdua akan berpisah dan itu yang sejak awal aku harapkan, namun entah kenapa setelah aku tidak bertemu dengannya selama sebulan ini, itu membuat aku menjadi tidak ingin kami berpisah. Di tambah dengan keadaanku sekarang. Kalau aku benar hamil, aku tidak ingin berpisah dari Vernon.
Mendengar perkataan Arthur tadi membuat aku menjadi takut. Dia tampak serius saat mengatakan mengenai mengugurkan kandunganku. Aku tidak ingin melakukannya tetapi jika aku dan Vernon berpisah tampaknya aku harus melakukannya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu, Viv?" Renata kembali masuk ke kamarku setelah aku terbangun kembali dari tidur singkatku. Saat ini hampir jam sepuluh pagi.
"Aku rasa sudah lebih baik setelah sarapan dan meminum vitamin tadi. Sehabis tidur sebentar aku juga jadi merasa sudah sehat." Jawabku sambil beranjak duduk. "Sepertinya kau salah Ren, aku tidak hamil."
Renata tertawa mendengar ucapanku. Aku berkata seperti itu dengan sengaja agar kami tidak perlu ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Arthur meminta Renata untuk langsung menggugurkannya jika benar aku sedang hamil. Dan aku tidak ingin itu terjadi. Tampaknya Renata tahu maksud aku berkata seperti itu.
"Apa kau tidak ingin mengugurkannya?" Tanya Renata setelah duduk di sisi tempat tidur memandangku. "Kau tahu? Sejujurnya akupun tidak ingin melakukannya, justru aku merasa sangat senang kalau kau benar hamil, Viv. Tapi kalau kau berpisah dengan Vernon lebih baik kita ikuti perkataan kakakmu.
Aku tidak langsung menjawab karena masih bingung memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan saat ini. Sejujurnya saat ini yang aku inginkan adalah bertemu dengan Vernon, namun sepertinya dia juga sudah tidak peduli padaku. Dia tidak menjawab semua teleponku kemarin, dan pesanku juga tidak dibacanya.
"Viv, jangan berpisah dengannya." Ucap Renata.
Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan yang semakin lama suaranya semakin keras. Pintu kamarku tidak tertutup sehingga dengan jelas suara itu terdengar bahkan beberapa penjaga berlarian menuju sumber suara.
"Ada apa?" Tanyaku bingung.
"Suaranya dari luar, seperti suara helikopter." Jawab Renata.
Aku dan Renata segera keluar mengikuti beberapa penjaga yang tampak berlari menuju taman depan rumah dengan membawa senjata. Saat aku keluar dari rumah aku melihat sebuah helikopter baru saja mendarat dan baling-balingnya masih berputar sementara sebelum perlahan mulai berhenti membuat deruan angin yang besar.
Arthur berdiri yang paling dekat ke arah helikopter bersama beberapa penjaga yang sudah siap siaga dengan senjata mereka. Aku dan Renata berjalan mendekat pada Arthur.
Saat yang bersamaan seseorang turun dari helikopter yang baling-balingnya hampir berhenti berputar. Melihat sosok yang turun itu membuat aku menyunggingkan sebuah senyum tanpa aku sadari.
"Maaf Art, tamanmu yang indah jadi rusak." Seru Vernon sambil membuka kacamata hitam yang dipakainya.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...