
Walau aku semakin membaik namun aku masih belum bisa berjalan jauh ataupun pergi meninggalkan kamar. Hal itu yang membuatku terus berada di dalam kamar.
Tidak ada yang bisa aku lakukan, setiap hari hanya menonton televisi. Apalagi setelah Vernon mengambil handphone-ku, aku semakin merasakan kebosanan saat ini.
"Acara televisi jam segini tidak ada yang menarik." Aku mematikan televisi dan setelah itu membanting remote ke atas tempat tidur sampingku. "Dimana Vernon? Sudah dia hari dia tidak datang dan hanya menyuruh pelayan mengurusku. Dasar sialan, dia juga membawa handphone-ku." Jika mengingat hal itu membuat diriku menjadi sangat kesal.
Aku berpikir untuk keluar dari kamar saat ini. Sepertinya aku harus membiasakan diri dengan berjalan agar rasa sakit di perutku semakin tidak terasa. Dengan perlahan aku langsung bergegas turun dari tempat tidur dan melangkah.
Memang masih terasa sakit namun aku rasa sekarang aku akan mulai berjalan keluar kamar untuk mengurangi rasa bosanku.
Aku berjalan keluar kamar dengan sangat perlahan. Ketika melewati sebuah balkon yang tirai dan pintunya terbuka, Alec dan Sesya sedang berbicara di sana.
"Ses, kau di sini?" Tegurku sambil berjalan hendak keluar balkon. "Kau juga di sini, Alec?"
"Viv, kau sudah bisa berjalan?" Sesya langsung berjalan keluar dan menghampiriku. Merangkul lengan kiriku untuk membantuku berjalan.
"Sebaiknya kau tidak turun dari tempat tidur, Viv. Kau masih belum sembuh." Seru Alec dengan wajah tampak khawatir padaku.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tatapku pada kedua orang tersebut. "Ses kenapa kau tidak langsung menemuiku? Alec, kau juga kenapa beberapa hari ini kau tidak menemuiku?"
"Se—sebenarnya aku juga baru kembali setelah beberapa hari berada di Genoa." Jawab Alec. "Vern sudah pulang atau masih berada di sana?"
"Kau pergi dengannya?" Tanyaku.
"Ya, kami pergi bersama tetapi dia pulang lebih dulu kemarin karena ada sesuatu yang ingin dia urus. Aku pikir saat ini dia ada di sini." Ujar Alec. "Sepertinya dia tidak ada di rumah ini."
"Ya, dia belum kembali." Jawabku. "Di Genoa ada urusan apa? Kenapa kalian berdua ke sana?"
"Ada bisnis kecil yang baru dibuat Vernon." Jawab Alec. "Ses, sebaiknya bawa kembali Vivian ke kemarnya. Kau masih tampak pucat Viv. Kau harus terus istirahat dan berada di atas tempat tidur. Jangan turun dari tempat tidurmu dulu sebelum sembuh."
"Baiklah." Jawabaku merasa senang dengan perkataan Alec yang terdengar sangat memperhatikan diriku.
__ADS_1
Sesya memapahku berjalan kembali masuk ke dalam kamarku. Aku sedikit penasaran dengan apa yang Sesya dan Alec bincangkan tadi. Aku bertanya tetapi mereka tidak menjawab petanyaanku tadi.
"Kau dan Alec membicarakan apa, Ses?" Tanyaku ketika kami berjalan menuju kamarku.
"Hhmm, Alec hanya bertanya mengenai siapa desainer terbaik gaun pengantin. Dia ingin membuat pakaian pengantin yang indah untuk Oliv." Jawab Sesya.
Mendengarnya membuat diriku menjadi bersedih. Walau aku tahu Alec dan Olivia akan tetap menikah namun aku tidak bisa menahan rasa cemburuku mengenai hal yang baru saja diucapkan Sesya padaku. Alec memang pria yang baik, walau dia tidak mencintai gadis yang akan dinikahinya tampaknya dia tetap ingin yang terbaik untuk gadis yang akan menjadi istrinya itu.
Sepertinya karena kebaikan Alec pada Olivia, aku harus menahan rasa cemburuku, saat ini atau pun nanti ketika mereka berdua sudah menikah.
"Viv, kau baik-baik saja?" Tanya Sesya memecahkan lamunanku. "Kau pasti merasa cemburu kan?"
"Tidak, aku tidak cemburu." Jawabku berbohong.
Aku membuka pintu kamar dan segera masuk ke dalam. Sesya membantuku berbaring dengan perlahan. Karena jalan lumayan banyak perutku yang terluka menjadi semakin sakit.
"Sebaliknya kau hentikan menyukai Alec, Viv." Seru Sesya duduk di sisi tempat tidur di samping kiriku. "Seharusnya mau tidak berhubungan dengannya, jika nanti kamu sering melihat Alec dan Olivia bersama, kau pasti akan sangat terluka."
"Jangan menyebutnya lumpuh. Itu terdengar sangat tidak sopan." Protes Sesya dengan dahi yang mengerut. "Gadis itu lumpuh juga karena ulah kakakmu sendiri."
"Setidaknya biarkan aku memanggilnya seperti itu agar aku tidak terlalu cemburu pada gadis itu." Ucapku setelahnya membuang napas panjang.
"Aku menghubungimu terus tetapi kenapa nomer handphone-mu terus saja tidak aktif?" Tatap Sesya.
"Vernon membawa handphone-ku, sepertinya dia ingin agar aku merasa kebosanan sendirian berada di dalam kamar." Jawabku sambil membaringkan tubuhku. "Ses, pinjami aku handphone-mu, aku benar-benar sangat bosan berada sendiri di kamar."
"Ya, ini kau bisa menggunakannya, nanti aku akan membeli handphone yang baru." Sesya memberikan handphone miliknya padaku. Dia memang sahabatku, tanpa pikir panjang dia langsung memberikannya begitu saja tanpa berpikir terlebih dahulu. "Hidupmu penuh dengan penderitaan." Nada bicara Sesya terdengar seperti sedang mengejek diriku.
"Kau ini, ya!!" Kesalku.
"Viv, apa kau sudah tahu kalau ternyata Vernon bukan anak kandung keluarga Skjoldbjærg?" Tanya Sesya dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Ya, aku sudah tahu. Apa aku belum pernah memberitahumu?" Aku balik bertanya. "Tapi dari mana kau tahu?" Aku menatap Sesya heran dari mana dia tahu hal tersebut.
"Aku mendengar Alec yang sedang menelepon. Sepertinya, Vernon sedang mengajukan kepindahan kewarganegaraannya." Ujar Sesya menerangkan.
Mendengarnya aku tidak terlalu terkejut karena Vernon memang dipercaya oleh pamannya untuk melanjutkan perannya sebagai pemimpin tertinggi di Camorra.
"Ya, aku sudah bisa menduganya. Pamannya pasti memintanya untuk menggantikan dirinya di dunia mafia Camorra." Jawabku.
"Itu berarti apa La Nostra dan Camorra bersatu?" Tanya Sesya. "Itu akan membuat kelompok mafia lainnya akan semakin merasa terancam."
"Aku tidak mengerti, bagaimanapun pernikahan kami bukan bertujuan untuk menyatukan dua klan mafia tersebut sejak awal." Ucapku yang tidak pernah memikirkan hal tersebut sebelumnya. "Hubungan Arthur dan Vernon juga tidak baik. Aku rasa tidak ada tujuan seperti itu."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul Vernon dari luar. Sesaat dia terdiam karena melihat keberadaan Sesya yang bersamaku di dalam.
"Baiklah, Viv, aku pulang dulu ya. Cepatlah sembuh." Ujar Sesya sambil memelukmu dan setelah itu berjalan menuju pintu. "Vern, aku pulang dulu."
Vernon hanya tersenyum simpul pada Sesya dan segeranya berjalan masuk setelah menutup pintu. Aku hanya menatap kedatangannya yang sudah dua hari ini entah melakukan apa.
"Sepertinya kau tidak terlalu merasa bosan." Ujar Vernon sambil menuang air putih di gelas yang ada di bupet di hadapan tempat tidur, lalu meneguknya. "Percuma saja aku menyita handphone-mu."
Vernon berjalan dan memberikan handphone-ku padaku, akupun mengambilnya dengan segera. Jika tahu begini seharusnya aku tidak meminjam handphone Sesya tadi.
"Kau dari Genoa? Setelah itu kau kemana? Alec mencarimu tadi." Ujarku pada Vernon yang terus menatap padaku dengan berdiri di samping tempat tidur.
Vernon duduk di sisi tempat tidur sebelah kananku. Aku langsung bisa mencium bau sampanye di tubuhnya. Sepertinya dia baru saja meminum sebotol sampanye hingga dirinya setengah mabuk sekarang.
"Kau mabuk?"
Tanpa aku kira Vernon langsung menarikku ke pelukannya. Aku berusaha mendorongnya karena luka di perutku terasa sedikit sakit, namun Vernon tidak membiarkan aku menolak pelukannya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar, Viv." Pinta Vernon berbisik di telingaku.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...