
Vernon langsung menggeser kursi ketika aku datang menemuinya di sebuah restoran. Tidak lupa juga dirinya mengecup bibirku sebelum aku duduk. Itu bagus, semua berjalan seperti yang aku inginkan.
"Maaf ya, Viv, tiba-tiba aku mengajakmu makan siang, karena nanti malam aku ada rencana lain maka dari itu aku tidak bisa makan malam bersamamu." Ujar Vernon.
Aku hanya menyunggingkan sebuah senyum padanya untuk merespon perkataannya.
"Setelah makan, kita akan berkeliling Napoli sebentar, dan aku akan mengantarmu kembali ke hotel tapi setelahnya aku harus pergi. Kemungkinan akan pulang tengah malam. Apa tidak masalah?"
"Jika tahu seperti itu, aku tidak ikut ke sini bersamamu." Jawabku berdecak heran. "Tapi mau bagaimana lagi. Baiklah."
Vernon tersenyum dengan jawabanku yang terpaksa mengiyakannya.
Setelah itu makan siang kami disediakan. Hampir tidak ada pembicaraan yang berarti saat kami menikmati makan siang kami berdua. Hingga kami menyelesaikan sesi makan kami dan para pelayan menyingkirkan sisa makanan dan piring kosong dari meja.
Vernon mengeluarkan sebuah kotak merah yang aku sangat tahu apa isi di dalamnya.
"Sepertinya aku belum pernah memberimu hadiah." Ucap Vernon dengan kotak merah yang aku yakini berisi sebuah kalung terdapat di dalamnya.
"Besok itu ulang tahunmu, seharusnya aku yang memberimu hadiah." Jawabku membuatnya tertawa kecil.
Dua orang pelayan datang ke meja kami dengan membawa satu botol red wine dan gelas. Pelayan pria yang membawa dua gelas meletakkan gelas-gelas tersebut ke hadapan aku dan Vernon.
Namun tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Tatapan Vernon teralih pada pelayan wanita yang berdiri sedang menuangkan red wine ke gelasku. Hatiku langsung terasa kelu ketika melihat wajah pelayan wanita berambut pendek tersebut.
Ia adalah Wynetta.
Tapi tidak mungkin, Wynetta sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Pelayan itu sangatlah mirip dengan wanita yang dicintai Vernon hingga tanpa sadar Vernon terus menatap padanya.
Melihatnya membuat aku menahan air mata karena rasanya semuanya menjadi kacau ketika seorang wanita yang sangat mirip dengan Wynetta langsung mengalihkan tatapan Vernon dariku. Siapapun tidak akan bisa menahan rasa sakitnya ketika suami yang dicintai melihat pada wanita lain, dan itu yang aku rasakan saat ini.
"Silakan dinikmati, tuan dan nyonya." Ucap si pelayan yang mirip dengan Wynetta.
__ADS_1
Aku menahan napasku sesaat untuk mengatur emosiku ketika si pelayan wanita itu berjalan pergi setelah mengisi kedua gelas dengan red wine yang dibawanya. Semua rasa sakit yang membuat dadaku sesak ku tekan sedemikian mungkin agar aku terlihat tidak menyedihkan.
Tampaknya Vernon menyadari kalau diriku juga mengetahui apa yang dilihatnya. Ia kembali menatapku namun tanpa kata. Sepertinya dirinya masih sangat terkejut dengan kehadiran pelayan yang wajahnya sangat mirip dengan Wynetta, bahkan warna rambut cokelat dan mata hijaunya pun sama persis.
"Aku rasa aku akan kembali ke Sisilia sekarang. Kau bisa menikmati waktumu di sini." Ucapku memberikan sebuah senyum kecut pada Vernon.
Setelah mengatakan hal demikian aku beranjak dari dudukku dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban Vernon.
"Est, persiapkan semuanya, aku ingin kembali ke Sisilia sekarang juga." Seruku ketika melewati Esteban yang berdiri di dekat pintu keluar.
"Baik, nyonya." Jawab Esteban yang mengikutiku dari belakang dan membukakan pintu mobil untukku.
Di dalam mobil aku tidak bisa menahan air mataku lagi. Aku membiarkan air mataku keluar namun menahan isakan tangisku agar tidak terlalu memalukan jika di dengar Esteban maupun supir yang mengendarai mobil.
Kenyataan kalau Vernon tidak mengejar kepergianku membuat dirimu menjadi yakin kalau setelah aku pergi, ia pasti menemui pelayan tersebut. Pelayan yang sangat mirip dengan wanita yang tidak bisa dilupakan olehnya.
"Kau baik-baik saja, nyonya?" Esteban yang berada di kursi depan memberikan sapu tangannya padaku.
Dadaku terasa sangat sesak saat ini. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan pemuda itu dan hanya mengambil sapu tangan yang diberikannya untuk menghapus air mata yang tidak bisa aku hentikan.
Tidak butuh waktu lama aku sampai di Sisilia karena aku meminta untuk naik jet pribadi milik Arthur. Rasanya aku ingin cepat menjauh dari tempat dimana ada wanita itu di sana.
Penjaga di depan pintu langsung membukakan pintu untukku ketika hendak aku masuk. Namun langkahku terhenti karena sambutan dari seseorang yang tersenyum melihat kehadiranku.
"Kau sangat cantik sekali, Viv. Aku sangat menyesal kenapa kau tidak menikah denganku." Ujar Vegard menghentikan langkahku. "Kau menangis? Kenapa kau menangis? Apa kau terharu karena bertemu denganku lagi? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Ah, sayang sekali ya, kau kehilangan anakmu."
"Diamlah Veg! Aku sedang tidak ingin menanggapi semua perkataanmu." Seruku dengan tatapan kesal.
"Ada apa? Di mana Vernon? Wow, jangan bilang kalian bertengkar. Ya sepertinya memiliki seorang anak akan membuat kalian selalu dekat, tapi sekarang yang terjadi... eh, jangan bilang kalau saat ini dia sedang bersama wanita lain?"
Tak ada niatan untuk diriku meladeni ocehan tidak berguna Vegard sehingga aku lebih memilih melangkah untuk menaiki tangga. Namun tanpa aku kira, Vegard menarik lenganku dan mencoba untuk memelukku untung saja Esteban langsung mendorongnya hingga pria itu mundur ke belakang.
__ADS_1
"Sialan, berani sekali kau mendorongku?!" Geram Vegard pada Esteban. "Siapa bocah sialan ini?"
"Menjauhlah!" Seru Esteban hendak berjalan maju mendekati Vegard.
Aku memegang lengan Esteban untuk menahan pemuda itu agar tidak bertindak lebih jauh. Sepertinya ia tidak tahu siapa Vegard atau dirinya memang tidak memedulikan mengenai hal itu.
Esteban menahan langkahnya dan aku segera maju mendekati Vegard karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya. Ah, tidak, aku tahu ia pun tidak akan mengatakannya jadi aku hanya ingin memberitahunya sesuatu saja.
"Berani sekali kau mendorongku?!" Vegard masih saja kesal pada Esteban.
"Veg, aku tahu kalau aku bertanya padamu kau pun tidak akan menjawabnya." Ujarku yang berdiri tepat dihadapan Vegard dengan tatapan tajam. "Kalau begitu aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu saja mengenai sepuluh tahun lalu."
Wajah Vegard jadi tampak berubah, raut wajah marahnya pada Esteban seketika sirna setelah mendengar perkataanku.
"Aku tahu ketika itu kau bersama seorang wanita di kamar saat aku datang menghujani peluru pada kalian. Dan yang lebih mengejutkan lagi aku juga tahu kalau kalian tengah bercinta ketika aku masuk dan menembak wanita itu." Ucapku dengan sebuah senyum mengancam. "Sepertinya aku juga tahu siapa wanita itu."
Perasaanku menjadi sedikit lebih baik setelah mengatakan hal tersebut pada Vegard. Aku melangkah pergi menaiki tangga untuk menuju kamarku.
"Sebaiknya kau jangan sembarangan bertindak, Est. Kau tidak tahu siapa dia kan?" Ujarku pada Esteban ketika kami sudah berada di lantai kamar kami.
"Aku tidak mau tahu siapa dia. Itu tidak penting untukku. Aku hanya ingin menjagamu, nyonya. Itu prioritas utamaku." Jawab Esteban.
Keberadaan Esteban bersamaku rasanya membuat diriku menjadi lebih baik sekarang. Aku menahan air mataku agar tidak akan pernah menangis lagi setelah ini.
Perkataan Vernon ketika dirinya berusia 10 tahun pun membuat aku sedikit berpikir untuk menghadapi semuanya tanpa menangis.
Kau tidak akan menyelesaikan apapun hanya dengan menangis.
...–NATZSIMO–...
Yuk baca karya author lainnya.
__ADS_1
Kasih rate dan like untuk karya ini ya. Komen juga dipersilahkan.
Terimakasih.