PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
PERPISAHAN


__ADS_3

"Aku tidak akan kemana pun, Art!!" Seruku dengan kesal.


Saat ini aku berada di kamarku di dalam rumah yang aku dan Arthur tempati. Arthur terus saja memaksa diriku untuk mau pergi ke Kanada dan sementara waktu tinggal disana. Dengan tegas aku menolak, aku tidak ingin pergi kemanapun aku akan tetap berada di negaraku sendiri.


"Jangan memaksaku, aku tidak akan mendengarkan perkataanmu!!" Aku yang duduk di atas tempat tidur menatap kesal pada Arthur.


"Kau masih saja keras kepala seperti ini." Kesal Arthur yang bertolak pinggang dengan wajah yang kesal menatapku. "Dengan susah payah aku membawamu kembali. Sebaiknya kau mendengarkan perkataanku!!"


"Aku sudah terbebas dari Vernon, jadi biarkan aku menikmati waktuku di rumahku ini. Kau hanya perlu menambah penjagaan di rumah. Aku juga tidak akan keluar rumah karena lukaku masih belum sembuh benar." Jawabku dan langsung berbaring.


"Art, sudah biarkan Viv tinggal disini." Ujar Renata yang baru saja masuk. "Kondisinya juga belum terlalu bagus. Aku yang akan merawatnya disini." Renata memegang lengan Arthur dan membuat Arthur menurunkan lengannya dari pinggang.


"Terserah kau saja, jangan salahkan aku lagi untuk hal apapun yang terjadi padamu." Ucap Arthur setelah itu berjalan keluar dari kamarku.


"Sejak awal memang semuanya salahmu, bodoh!!" Aku berteriak dengan kesal hingga perutku terasa sakit dan membuatku menjadi meringis.


"Kau baik-baik saja, Viv?" Tatap Renata yang berjalan mendekatiku dan duduk di sisi tempat tidur. "Kau pucat."


"Aku tidak baik-baik saja sejak menikah dengan pria itu." Gumamku kesal.


Renata menyingkap bajuku dan melihat luka di perut yang masih terbalut plester transparan. Dia menyentuhnya sehingga aku meringis kesakitan lagi.


"Singkirkan tanganmu, Ren!! Ini menjadi semakin sakit karena pria sialan itu!!" Ujarku masih dengan rasa kekesalan saat mengingat Vernon yang memaksaku bercinta dengannya.


"Apa yang dilakukan Vern? Bukankah dia merawatmu?" Tanya Renata. "Nilainya tertinggi saat di Fakultas Kedokteran dulu, hanya merawat luka seperti ini itu pasti tidak ada apa-apanya untuknya bahkan dia bisa merawat luka tembaknya dengan sangat baik hingga cepat sembuh."


"Apa katamu? Vernon lulusan kedokteran?" Aku terkejut saat mendengar apa yang diucapkan Renata. Itu sesuatu hal yang tidak pernah aku duga. Pantas saja Vernon melakukan semuanya sendirian saat merawatku, dia juga melakukannya dengan sangat baik. "Aku sangat tidak percaya."


"Ya, kami kuliah bersama saat di Harvard dulu. Dia adalah yang terbaik." Jawab Renata.

__ADS_1


"Benarkah? Itu sangat tidak mungkin." Aku mendengus tidak percaya mendengar sesuatu hal yang mustahil. "Untuk apa dia kuliah kedokteran jika sekarang menjadi seorang mafia?"


"Hhmm, aku tidak tahu kenapa." Renata tersenyum seperti biasanya. "Lalu apa yang dilakukan Vern hingga luka ini terasa sakit lagi?"


"Dia memaksaku bercinta dengannya." Jawabku kesal hingga aku berteriak menumpahkan rasa kesalku sekarang. "Aku benar-benar membencinya."


Anehnya, Renata malah tertawa mendengar perkataanku dan melihat rasa kesalku. Mendengar tawanya membuat aku semakin kesal dibuatnya.


"Aku akan membunuhmu kalau kau terus tertawa, Ren!!" Ancaman menatap kesal Renata.


Renata menghentikan tawanya dan menahan bibirnya untuk tidak tersenyum saat melihat kemarahanku.


"Jadi sekarang kau dan Vern sudah berpisah, Viv?" Tanya Renata.


"Aku harap seperti itu. Aku sudah sangat menderita hidup dengannya. Lukaku ini juga karena dirinya, seharusnya dia tidak mengajakku ke pesta waktu itu."


"Lukamu itu salah dirimu sendiri, kau tidak mendengarkan perkataan kakakmu dan malah berlari masuk karena mengkhawatirkan Vernon kan?"


"Sepertinya kau sudah mencintainya lagi, Viv." Renata menahan senyumnya saat berkata seperti itu padaku. "Aku yakin kalian tidak akan berpisah secepat itu."


"Apa maksudmu?"


Renata beranjak turun dari tempat tidur dan berdiri. Dia menunjukan sebuah senyum yang dibuat-buatnya padaku. Aku menjadi semakin kesal melihat tingkahnya itu.


"Ren, sepertinya kau memiliki hubungan yang dekat dengan Vernon?" Tanyaku mencoba menyelidiki ekspresi wajah Renata.


"Ya, kami dekat karena kami kuliah bersama dulu." Senyum Renata. "Viv, aku akan mengganti plestermu, aku akan meminta pelayan membelinya dulu." Setelah berkata seperti itu Renata berjalan pergi keluar dari kamar.


Aku menghela napas dalam-dalam sepeninggalan Renata. Sekarang aku merasa lelah dan ingin tidur sejenak sebelum Renata datang lagi. Namun belum sempat aku memejamkan mata, pintu kamar terbuka lagi.

__ADS_1


Kali ini Alec datang dengan membawa sebuah tas besar. Dia tersenyum padaku, melihat kehadirannya membuat diriku menjadi melupakan rasa lelah yang sempat terasa.


"Aku datang untuk membawakan barang-barangmu, Viv." Ujar Alec berjalan mendekatiku dan meletakan tas besar yang dibawanya ke bawah. "Ini handphone-mu." Alec menyodorkan handphone milikku dan milik Sesya yang ada padaku.


"Terimakasih." Jawabku memulas senyuman pada pria yang aku cintai setelah menerima kedua handphone tersebut. "Alec, aku sangat senang. Akhirnya aku akan berpisah dengan Vernon."


"Itu sesuatu hal yang bagus." Ucap Alec seraya duduk di sisi tempat tidurku.


Aku beranjak duduk segera dengan bantuan Alec, namun tanpa aku duga Alec langsung menciumku. Ya, kami berciuman dan aku menyukainya.


"Aku dan Vernon akan berpisah, apa kau juga akan menghentikan rencana pernikahanmu dengan Olivia?" Tatapku dengan harapan mendapatkan jawaban yang aku inginkan.


"Maaf Viv, sepertinya aku tidak bisa menghentikan rencana pernikahan itu." Jawab Alec. "Tidak ada alasan untuk aku menghentikannya."


"Alasan? Apa aku tidak bisa jadi alasannya?" Ujarku dengan sedikit rasa kekecewaan saat mendengar perkataan Alec.


"Bukan begitu. Semuanya sudah direncanakan, aku tidak bisa begitu saja menghentikan pernikahan itu sekarang." Alec menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya dan menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku ingin menghentikannya tapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Kau mengerti kan?"


Sejujurnya aku tidak mengerti sama sekali dengan perkataannya. Seharusnya dia langsung menghentikan pernikahan tersebut jika Alec benar-benar ingin bersama denganku. Namun tidak ada yang bisa aku katakan saat ini, rasa kecewaku membuat aku menjadi enggan mengatakan apapun pada Alec sekarang.


"Viv, aku harap kau mengerti dengan posisiku saat ini. Aku juga ingin bersama denganmu dan ingin menghentikan rencana pernikahannya tapi ini semua sudah direncanakan dan melibatkan kedua keluarga." Ujar Alec mencoba meyakinkan diriku untuk mengerti. "Tapi kau tenang saja, acara pernikahannya diundur sekarang."


"Diundur?" Tanyaku. "Padahal sudah tersisa tidak lebih dari dua bulan kan?"


"Vernon yang memintanya, dia ingin fokus untuk menguasai Genoa karena itu dia memintaku untuk mengundur pernikahan itu." Jawab Alec dengan sebuah senyum. "Dan beberapa hari lagi Vernon akan pergi ke Genoa untuk berada disana dalam waktu yang tidak bisa ditentukan, paling cepat satu bulan. Itu kabar yang bagus kan?"


Aku tidak bisa membalas senyum Alec karena tiba-tiba saja aku memikirkan perkataan Arthur pada Vernon tadi.


Semoga saja kau tidak terbunuh nanti.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2