
Alec bungkam, ia tidak langsung menjawab karena Vegard berada di sini juga. Bagiku itu adalah hal yang bagus. Namun aku tidak bisa menunggu lama lagi.
"Est, berikan pistolmu." Pintaku menengadahkan tangan kiriku pada Esteban yang berdiri tidak jauh di dekatku.
"Nyonya, sebaiknya—"
"Berikan saja!!" Seruku menyambar apa yang ingin dikatakan Esteban.
Dengan sangat terpaksa Esteban memberikan pistol miliknya padaku. Aku langsung tersenyum ketika menerimanya.
"Baiklah Alec, aku minta padamu sekali lagi. Jawab semua pertanyaanku itu." Aku menatap dengan dingin pada Vernon. "Atau aku sendiri yang membunuhmu?"
"Viv, kau tidak bisa menembaknya." Ujar Vegard yang berdiri di dekat pintu.
"Aku bisa melakukannya karena aku tahu Alec adalah mata-mata Sacra Unita. Bukan begitu, Vern? Ah, aku rasa Arthur belum memberitahumu." Ucapku dengan penuh keyakinan.
Itu benar. Mata-mata yang di maksud oleh Arthur sewaktu membawaku kembali ke rumahku adalah Alec. Bahkan Alec lah yang membocorkan pada Sacra Unita mengenai Vernon dan aku yang berada di kapal pesiar. Tanpa sengaja dan tidak berpikiran apapun aku menjawab pertanyaan Alec ketika dirinya meneleponku dengan maksud ingin menemuiku di kamar hotel sewaktu di Genoa. Karena itu Sacra Unita menyerang kapal pesiar tersebut di saat Vernon membawa sedikit anak buahnya di kapal itu.
Vernon tertawa kecil mendengarnya. Dan itu membuat aku yakin kalau sebenarnya dirinya pun mengetahui hal tersebut.
"Alec, apa kau tahu sesuatu?" Tatapku pada Alec yang masih melihat padaku terus menerus. "Sepertinya kakakku dan dia masih bersahabat. Mereka berdua menipumu. Dan aku yakin sekali Art lah yang menyerahkanmu padanya."
Mendengar apa yang aku katakan membuat Alec menatap Vernon dengan wajah terkejut. Ya, selama ini yang ia tahu kalau Arthur dan Vernon bermusuhan setelah kejadian sepuluh tahun lalu. Namun aku juga baru mengetahui hal itu setelah Vernon berhasil menangkap Alec tadi.
Ternyata memang benar, satu-satunya orang yang tidak pernah berbohong padaku hanyalah Renata. Ia selalu memberitahuku semuanya.
"Jadi jawab pertanyaanku Alec." Ucapku sambil mengarahkan pistol yang aku bawa pada Alec.
Alec semakin tampak ketakutan. Ia melihat pada Vegard sejenak lalu menatapku.
"Wynetta. Dialah wanita yang bercinta dengan Vegard di kamar itu." Jawab Alec.
Vernon tetap tidak merubah ekspresinya walau dirinya mendengar jawaban Alec. Kemungkinannya hanyalah satu kenapa ia tidak tampak terkejut. Vernon sudah mengetahui hal itu.
"Veg, kemarilah." Seruku menoleh pada Vegard yang sudah menunjukan raut wajah takutnya. "Baiklah, kalau kau tidak mau ke sini, aku yang akan mendekatimu."
__ADS_1
Dengan perlahan aku berjalan mendekati Vegard.
"Katakan padaku apa yang direncanakan wanita itu?" Tanyaku ketika tiba di dekat Vegard. "Aku tahu dia berencana bunuh diri dengan menjadikan aku pelakunya, tapi rasanya itu tidak mungkin kan kalau dia hanya bunuh diri?"
Vegard tersenyum, sepertinya ia tetap tidak akan mengatakan apapun padaku. Itu tidak masalah untukku.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin bicara juga." Ujarku dan langsung mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.
Tidak berapa lama terdengar suara keributan dari luar. Aku tahu siapa mereka karena baru saja aku menghubungi seseorang yang aku minta datang.
Tidak berapa lama muncul kakakku tercinta dari balik pintu bersama Renata dan pelayan yang mirip dengan Wynetta.
Setelah kemarin aku melihatnya saat di Napoli aku meminta anak buah La Nostra untuk memata-matai pelayan tersebut. Bahkan mereka memberikan aku beberapa foto saat Vernon menemui pelayan itu di restoran.
Setelah aku merasa yakin akan sesuatu aku menghubungi kakakku Arthur mengenai suatu kebenaran.
Vernon tampak terkejut dengan kedatangan Arthur bersama pelayan itu. Ia terus menatap pada si pelayan yang memasang wajah bingung.
"Veg, katakan padaku siapa wanita ini?" Aku menoleh pada Vegard yang masih berada di dekatku.
"Aku akan langsung menembakmu kalau kau tidak menjawab!!" Seruku sudah siap menarik pelatuk ke arah wajah Vegard.
"Wynetta." Jawab Vegard. "Dia adalah Wynetta. Dia tidak mati, tapi dia pergi dengan semua rencana yang dibuatnya untuk menghindari La Nostra. Dia yang bertunangan dengan Arthur tidak ingin menikah dengannya karena dirinya mencintai seorang pria asia."
"Apa yang kau katakan?" Tatap si pelayan pada Vegard. "Aku tidak mengerti maksud dari semua ini. Aku tidak tahu siapa kalian."
"Kau tidak perlu berbohong Wyn." Seru Vegard. "Kau ingin kembali pada Vernon setelah pria asia itu mati karena penyakitnya. Kau menghubungiku untuk mengetahui situasi di sini. Kau tidak perlu berbohong apapun lagi. Kau mengganti identitasmu setelah pergi agar La Nostra yang merupakan tunanganmu tidak mencarimu."
"Tutup mulutmu, Veg!!" Kesal si pelayan yang ternyata adalah Wynetta.
Aku menyunggingkan sebuah senyum mendengar dirinya tanpa sadar membongkar identitasnya sendiri.
Terlihat wajah gusarnya seketika dengan menatapku. Aku menoleh pada Vernon yang masih mematung tanpa ekspresi. Tampaknya dirinya sangat terkejut mengenai hal tersebut.
"Baiklah, aku hanya ingin mengetahui semua itu." Ucapku menurunkan pistol dari arah Vegard.
__ADS_1
"Viv, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menjadikanmu kambing hitam, semua itu karena aku merasa hanya itu yang bisa aku lakukan." Ujar Wynetta padaku.
"Tidak masalah, aku tidak rugi apapun dengan semua hal yang kau lakukan." Jawabku dengan sebuah senyum. "Minta maaflah pada Oliv, karena ulahmu dia harus menderita seumur hidupnya duduk di kursi roda."
Untukku setelah semuanya aku ketahui, tidak ada lagi yang ingin aku harapkan. Ditambah melihat Vernon yang tidak mengatakan apapun. Aku tidak mengerti apa dirinya sudah mengetahui semua itu atau belum. Namun yang pasti aku tidak melihat rasa kebenciannya pada Wynetta saat ini.
"Art." Panggilku mendekati Arthur. "Jangan bunuh Alec. Bagaimanapun aku tetap tidak ingin dia mati."
Setelah berkata demikian aku mengembalikan pistol yang ada di tanganku pada Esteban lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Aku sudah tidak ingin melanjutkan apapun lagi sekarang. Semuanya membuat aku muak.
"Viv, kau baik-baik saja?" Tanya Renata yang menghampiriku ketika aku hendak naik tangga.
Aku berhenti dan menatap Renata dengan sebuah senyum.
"Ya Ren, aku baik-baik saja." Jawabku.
Renata hanya mengusap punggungku dengan memulas senyum juga.
Setelahnya aku kembali melangkah untuk ke kamarku secepatnya. Ada hal yang ingin aku lakukan setelah ini. Semuanya sudah aku pikirkan sejak kemarin dan sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat untukku.
"Est." Panggilku ketika kami baru sampai di atas tangga.
"Ada apa nyonya?" Tanya Esteban yang masih selalu setia menemaniku.
"Apa benar sangat indah? Maksudku Castelluccio tempatmu berasal." Ujarku masih melangkahkan kaki.
"Ya, menurutku tempatku itu sangat indah, nyonya." Jawab Esteban yang berjalan disampingku.
"Sebentar lagi adalah musim semi, sepertinya aku ingin melihat dataran hijau yang dihiasi bunga poppy, violet, dan rapeseed. Bisakah kau menjadi pemandu wisataku saat di Castelluccio?" Aku menghentikan langkahku dan menoleh dengan sebuah senyuman pada pemuda yang selalu bersamaku.
Esteban tersenyum menjawab keinginanku.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1