
"Nona, berikan senjata itu padaku." Pinta Pablo dan seketika air mataku keluar begitu saja. "Nona tidak perlu menggunakan senjata untuk hal apapun."
"Aku tidak akan bisa menyelesaikan apapun dengan menangis." Ucapku lirih.
"Ada apa ini?" Alec datang dan melihatku dengan wajah yang terkejut. "Pablo, bawa Vivian pergi."
"Ayo nona." Seru Pablo mengambil senjata laras panjang yang masihku bawa dan langsung memegang pundakku berjalan keluar.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian berdua—"
"Alec, dia tertembak." Dari suaranya aku bisa tahu kalau orang yang memotong perkataan Alec adalah Vegard. "Kau baik-baik saja?"
"Nona, beristirahatlah. Semua akan baik-baik saja. Kau tidak salah apapun." Ujar Pablo padaku yang terus menundukkan kepala ketika berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. "Kau tidak perlu khawatir."
Itu semua adalah kelanjutan mimpiku waktu itu. Saat diriku menembakan ruangan dengan senjata laras panjang yang aku bawa. Kelanjutan mimpi itu hadir di dalam mimpiku ketika aku berada di Venesia, dan beberapa kali juga aku memimpikan ingatanku yang terlupakan.
Saat ini aku masih berada bersama dengan Renata di dalam kamarku di rumah Arthur. Baru saja aku menanyakan sesuatu hal pada Renata mengenai sesuatu hal yang tidak aku ingat.
"Junior yang mengenalkan aku pada Vernon adalah wanita itu. Dia adalah Wynetta." Jawab Renata.
Mendengar jawaban Renata membuat aku berpikir sejenak. Jika seperti itu berarti Renata mengenal Wynetta. Semuanya menjadi rumit saat ini.
"Seberapa dekat hubunganmu dengan Wynetta, Ren?" Tanyaku. "Dulu dia adalah tunangan Art bukan?"
"Ya, tapi mereka tidak pernah saling mencintai." Ujar Renata.
"Apa maksudmu? Aku pikir hubungan Arthur dan Vernon merenggang karena wanita yang dicintai Vernon menjadi tunangan Arthur."
"Tidak, yang terjadi bukan seperti itu." Renata yang semula tidak menatapku menoleh padaku. "Kau tidak perlu memikirkannya lagi sekarang. Semua itu sudah berlalu."
"Karena sudah berlalu aku ingin tahu semuanya." Jawabku dengan tatapan tajam dan menahan lirihku.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul Arthur.
"Ren, aku mencarimu kemana-mana, sedang apa kau di sini? Kita harus cepat ke Milan, nanti malam casino baru akan buka." Seru Arthur dengan raut wajah kesalnya yang selalu menghiasi dirinya. "Viv, kau masih di sini? Aku pikir kau sudah pulang?"
"Viv, kembalilah... Kami akan pergi ke Milan saat ini." Ujar Renata.
__ADS_1
"Kau ingin kami antar? Di mana bocah itu?" Tanya Arthur menanyakan keberadaan Esteban. "Katakan padanya dia bisa kembali ke sini karena kau sudah tidak membutuhkannya."
"Esteban akan tetap bersamaku." Jawabku sambil berjalan keluar kamar. "Sebaiknya kalian berdua segera menikah." Lanjutku tanpa menoleh ataupun menghentikan langkah.
Di dalam perjalanan kembali ke rumahku sekarang, aku memikirkan semua perkataan Renata yang untukku malah semakin membuat aku memiliki tanda tanya besar.
Arthur bertunangan dengan Wynetta. Ia bersahabat dengan Vernon yang mencintai Wynetta. Tapi bukan karena itu hubungan mereka rusak karena sejak dulu Arthur mencintai Renata. Lalu apa karena kejadian aku yang membunuh Wynetta yang menyebabkan persahabatan mereka berakhir? Sepertinya memang begitu.
"Nyonya, di depan sana ada toko roti yang rasa rotinya sangat lezat, sebaiknya nyonya mencicipinya. Aku yakin nyonya akan menyukainya." Seru Esteban melihatku dari spion di depannya.
"Baiklah, belikan beberapa untuk yang lainnya juga." Jawabku.
Esteban menghentikan mobil di depan toko roti yang dimaksud dan memintaku untuk menunggu saja di dalam mobil.
Sambil menunggu tidak ada yang aku lakukan, aku hanya memperhatikan sekitar yang hanya beberapa orang yang berlalu lalang. Sisilia adalah kota yang tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan Milan, Roma, ataupun Venesia. Tetapi udara dingin sepertinya membuat jalanan semakin lengang.
Cukup lama aku menunggu Esteban kembali. Pandanganku langsung teralihkan melihat ke arah pintu masuk toko roti ketika Esteban keluar dan tidak sengaja menyenggol seorang wanita berambut cokelat dengan potongan agak pendek.
"Maafkan aku." Ucap Esteban pada wanita itu.
"Nyonya harus mencobanya selagi hangat." Ujar Esteban sambil meletakan roti-roti itu ke kursi di sampingnya dan memberikan aku satu roti Pane Casareccio yang masih mengepulkan uap panas padaku.
"Aromanya lezat sekali." Aku menerimanya dan menyesap roti tersebut sebelum menggigitnya.
"Itu roti yang paling lezat di toko itu." Seru Esteban sambil menjalankan mobil.
Ketika melewati toko roti itu, aku menoleh ke dalam pintu kaca dan melihat wanita yang tadi Esteban tabrak berdiri di depan etalase dengan menoleh ke arah pintu.
Entah kenapa aku seperti mengetahui siapa wanita itu. Walau tidak terlihat jelas sehingga membuat aku tidak yakin, namun melihatnya membuat rasa kelu di hatiku.
"Bagaimana nyonya?" Tanya Esteban membuat pikiranku teralihkan ketika memikirkan wanita yang aku lihat. "Kau baik-baik saja kan, nyonya?" Esteban yang melihat padaku melalui spion tampaknya mengetahui diriku yang sedang memikirkan sesuatu dengan perasaan tidak enak saat ini.
Aku menatap spion pada Esteban segera dan memulas senyum padanya. Aku tidak ingin memikirkan hal yang untukku sesuatu yang mustahil, jadi aku tidak ingin melanjutkan apa yang baru saja terlintas dipikiranku saat melihat wanita tadi.
"Benar, ini sangat lezat." Jawabku masih tersenyum. "Mungkin setelah ini aku akan memintamu untuk membelinya terus."
"Tenang saja, aku pasti akan membelikannya saat nyonya memintanya mau pagi-siang atau malam sekalipun. Ya tengah malam saat nyonya memintanya akan aku suruh mereka membuka toko rotinya atau menyuruh mereka membuatkannya untukmu." Ujar Esteban dengan tersenyum.
__ADS_1
Aku tertawa kecil mendengar ocehannya.
"Atau aku akan mulai belajar membuat roti khusus untuk nyonya." Lanjut Esteban yang masih menyetir.
Tidak berapa lama kami sampai. Olivia menyambutku di ruang tamu. Saat ini Vernon berada di rumah karena mobil yang biasa ia gunakan terparkir di tempatnya.
"Kau sudah kembali, Viv?" Olivia mendorong kursi rodanya mendekat padaku yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Ya. Kau sendirian? Alec tidak datang?" Tanyaku bersikap ramah pada adik iparku.
Setelah rasa cintaku pada Alec pudar sekarang aku merasa harus bersikap baik padanya, bagaimanapun Olivia adalah gadis yang malang karena ulahku juga.
"Bukannya dia ke Milan bersama dengan Arthur—kakakmu?" Olivia balik bertanya.
"Iya kau benar." Ucapku. "Oliv, aku membeli beberapa roti. Kau bisa menikmatinya karena rotinya sangat lezat."
Tanpa di minta Esteban memberikan sekantong roti pada Olivia. Gadis itu langsung tersenyum dengan berterimakasih.
"Vern ada di ruangannya kalau kau mencarinya." Ujar Olivia.
"Ya, aku juga ingin memberikan roti ini padanya."
Setelah itu aku melangkahkan kakiku menuju ruangan suamiku biasa berada saat di rumah, ya tentunya selain di kamar kami. Dua orang anak buahnya berjaga di depan pintu ruangan tersebut.
Ketika aku hendak melangkah mendekat pintu dan ingin membukanya tiba-tiba mereka berdua menghadangku. Hal itu membuatku merasa heran.
"Maaf nyonya, kau tidak boleh masuk." Seru salah satu dari mereka.
Perkataannya itu membuat aku terkejut. Memang hampir tidak pernah aku masuk ke dalam ruangan kerja Vernon. Seingatku aku baru sekali masuk ke dalam, itu pun saat aku datang hendak menghentikan Vernon yang ingin menembak Arthur sebelum kami menikah dan sekali ketika aku mendengar dirinya menembak seseorang, itupun aku tidak masuk ke dalam ruangan itu.
Tapi kenapa aku di larang masuk?
Tiba-tiba pintu terbuka dan keluar Vernon untuk menemuiku. Ia tersenyum padaku dan langsung memberikan kecupannya ke bibirku.
"Kau sudah kembali?" Ujar Vernon sambil merangkulku. "Ayo kita ke kamar, sayang." Vernon mencium sisi keningku sambil mengajakku berjalan meninggalkan depan pintu ruang kerjanya.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1