
Napasku tertahan untuk beberapa saat ketika mendengarkan semua perkataan Vernon. Bahkan aku menutup mata saat dirinya berbisik dan memberikan kecupannya padaku.
Akan tetapi aku tidak bisa menahannya lagi sekarang. Dengan segera aku bangkit berdiri dan langsung menciumnya. Aku menahan diriku untuk tidak melakukannya, namun itu sangat sulit karena bagaimana pun aku sudah menyadari kalau diriku mencintai Vernon saat ini.
Vernon membalas ciumanku. Ini adalah ciuman pertamaku dengannya setelah aku menyadari rasa cintaku pada Vernon. Cukup lama kami berciuman hingga aku tersadar dengan apa yang aku lakukan. Secepatnya aku mendorong Vernon untuk berhenti menciumku.
"Aku tidak mau kembali padamu." Jawabku dengan tatapan tajam. "Enam bulan yang lalu aku sudah memutuskan semuanya dan kau menyetujuinya, karena itu aku tidak mau kembali padamu."
Vernon yang berdiri tidak terlalu jauh dariku terus menatapku lekat. Wajahnya terlihat biasa saja ketika aku menolak keinginannya.
"Kau benar, aku wanita yang mengerikan. Aku sudah hidup bebas di sini tanpa pernah memikirkanmu dan tak sekalipun aku merasakan kesedihan setelah kehilangan anakku. Aku selalu tertawa bahagia menikmati hidupku saat ini. Lalu kenapa aku harus kembali padamu?"
"Karena kau mencintaiku." Jawab Vernon, tatapannya serius padaku yang berdiri hanya satu meter darinya.
Mendengarnya aku mendengus karena sepertinya ia lupa mengenai perkataannya yang akan meninggalkan diriku saat aku mencintainya.
"Ada apa? Apa kau berpikir kalau aku lupa dengan perkataanku yang akan meninggalkanmu saat kau mencintaiku?"
Aku mengalihkan pandanganku karena Vernon seperti bisa membaca apa yang aku pikirkan. Mataku hanya terarah ke lantai bawah menghindari tatapannya.
"Yang terjadi sekarang kaulah yang pergi bukan aku yang meninggalkanmu." Ujar Vernon. "Kita akan tetap bersama sampai kau melahirkan anakku atau aku yang meninggalkanmu. Itu yang akan terjadi."
"Kenapa aku harus mendengarkanmu?" Tanyaku dengan menatap tajam.
"Karena aku adalah suamimu." Jawab Vernon setelah itu berbalik. "Sampai sidang perceraian belum memutuskan perpisahan kita secara resmi kau tetap istriku. Besok kita akan kembali ke Sisilia, bersiaplah untuk itu sayang." Sambil berkata demikian Vernon berjalan pergi keluar.
Aku kembali duduk di kursi setelah kepergiannya. Sebuah senyum tersungging diwajahku, bagaimana tidak, melihat kehadiran Vernon yang datang menemuiku membuat dinding pertahanan yang belum bisa aku dirikan dengan kokoh sudah runtuh seketika hanya dengan melihat dirinya.
Rasa rinduku padanya membuat pendirianku goyah hanya mendengar semua perkataannya. Ya, aku rela terkekang agar bisa bersama dengannya, bahkan aku rela dia menyakitiku demi selalu berada disisinya.
"Sekarang bagaimana, Viv?" Nenekku yang masuk langsung melontarkan pertanyaannya padaku.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke Sisilia besok... Bersama dengannya." Jawabku setelah itu meminum teh hangat yang ada dihadapanku.
"Apa nyonya akan kembali padanya?" Tiba-tiba Esteban masuk dan bertanya seperti itu padaku.
"Ya, aku akan kembali padanya." Ucapku menoleh pada Esteban yang berdiri lumayan jauh, di depan pintu masuk.
"Seharusnya kau tidak kembali padanya, nyonya. Dia terlihat tidak akan membuatmu bahagia. Tetaplah di sini, aku akan menemanimu." Lanjut pemuda berambut cokelat dan memiliki mata abu-abu menatapku.
"Est, jangan ikut campur pada keputusannya. Kau masih terlalu kecil untuk mengerti dan kau bukan siapa-siapa." Seru nenek dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Esteban berjalan mendekat ke arahku dan duduk di kursi yang tadi Vernon duduki, dihadapanku. Wajahnya terlihat kesal, sepertinya dia benar-benar sangat membenci Vernon.
Di bandingkan dengan Vernon, aku lebih lama bersama pemuda itu sehingga aku bisa mengerti apa yang saat ini dirinya rasakan. Selama enam bulan kami selalu bersama, dan aku sudah menganggap Esteban seperti adikku dan rasanya dia juga menganggapku kakaknya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara nyonya dan suami nyonya, tapi melihat perlakuannya padamu terlihat kalau dia tidak mencintai nyonya. Seharusnya dia mengambil handphone nyonya dan bukan malah menginjaknya. Aku tidak akan membiarkan nyonya kembali padanya." Ujar Esteban dengan raut wajah kesalnya.
Aku hanya tersenyum menanggapi semua perkataannya. Ini pertama kalinya aku melihat rasa kesalnya selama ini.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku sedikit mengejek.
"Aku akan membawamu pergi." Jawabnya dengan senyum.
"Ya, kau bisa melakukannya tapi sebelumnya kau harus mengganti kostummu agar itu tidak menjadi halanganmu saat membawaku pergi." Ucapku sambil berjalan ke arah kamar dan masuk.
"Kostum ini tidak akan membuat aku kesulitan melakukannya, nyonya." Seru Esteban sedikit berteriak dengan nada kesal karena aku mengejeknya mengenai kostum karnaval yang masih ia kenakan.
Di dalam kamar, aku memikirkan semua perkataan Vernon tadi. Semuanya terasa membuat aku senang saat ini. Kehadirannya, kata-katanya dan bahkan ciumannya. Aku sudah memutuskan akan hidup bersama dengannya lagi, walau apapun yang akan terjadi.
Kali ini aku akan membuatnya mencintaiku, aku akan membuatnya bertekuk lutut dihadapanku. Aku akan membuatnya melupakan wanita bernama Wynetta dan membuang semua kenangan mengenai wanita itu di dalam dirinya.
"Ya, aku akan menjadikanmu milikku sepenuhnya, Vernon suamiku."
__ADS_1
Hari berlalu begitu cepat dan memang itulah yang aku inginkan. Sudah tidak sabar diriku untuk kembali bersama dengan Vernon ke Sisilia. Aku sudah tidak bisa menahan diriku untuk membuat Vernon mencintaiku.
"Nyonya, saat kau kembali ke rumah itu, bagaimana denganku?" Tanya Esteban yang berdiri di ambang pintu kamarku ketika aku mempersiapkan semua barang-barangku.
"Kembalilah ke rumahmu, aku akan memberikan banyak uang agar kau bisa kuliah seperti yang pernah kau bilang padaku. Kau ingin menjadi seorang dokter kan? Aku akan membiayai semua kebutuhanmu." Jawabku setelah itu menoleh pada Esteban. "Kau senang sekarang?"
"Tidak, aku tidak senang." Ujar Esteban. "Aku tidak akan kuliah karena aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan ikut ke rumah itu dan menjagamu."
"Kau tidak perlu melakukannya lagi. Aku tidak perlu dijaga di rumah itu, aku bisa menjaga diriku sendiri dan lagi aku juga bersama dengan suamiku. Bahkan saat disinipun kau tidak menjagaku karena tidak pernah sesuatu terjadi padaku." Ujarku diiringi tawa kecil.
"Aku akan menjagamu dari suamimu, aku yakin dia pasti akan menyakitimu. Kau selalu berwajah murung ketika memikirkannya saat di sini." Seru Esteban yang bersandar di ambang pintu dengan tangan yang terlipat. "Kau pasti kesepian saat tidak mendengar ocehanku setelah enam bulan ini selalu mendengarnya."
Aku semakin tertawa mendengar perkataan pemuda itu. Ia benar-benar pemuda yang keras kepala.
"Aku akan menghubungimu sesekali saat ingin mendengarkan ocehanmu." Senyumku.
Tidak berapa lama terdengar suara helikopter mendarat di halaman. Itu pasti Vernon. Dengan segera aku berjalan melewati Esteban yang masih berdiri di ambang pintu kamar, dan keluar.
Vernon turun dari helikopter setelah baling-balingnya berhenti berputar dan berjalan ke arahku. Ia memulas senyum pada diriku yang hanya menatap kehadirannya.
Esteban yang membawa koperku sudah berada di belakangku dan nenek masih berada di teras rumah melihat pada kami.
"Kau sudah siap pulang?" Tanya Vernon saat berada dihadapanku.
Tiba-tiba aku merasakan seseorang memegang pundakku dari belakang dan aku tahu kalau dia adalah Esteban. Melihatnya ekspresi wajah Vernon berubah tidak menyenangkan menatap pada Esteban yang berada dibelakangku.
"Nyonya, aku akan ikut bersamamu. Tuan Arthur memintaku untuk menjagamu dan aku akan melakukannya." Ucap Esteban yang maju berdiri agak mendekat pada Vernon.
...–NATZSIMO–...
Untuk Visual Esteban bisa dilihat di bab Visual Character setelah di revisi ya atau follow akun IG author @natzsimo.author
__ADS_1