
"Viv, kau baik-baik saja?" Alec menatapku sesaat ketika mobil berhenti karena lampu merah. "Maksudku, aku akan menikah dengan Oliv—"
"Tidak, aku tidak baik-baik saja." Jawabku tanpa menatap Alec. "Kau tahu aku mencintaimu—"
"Aku juga mencintaimu." Jawab Alec dengan cepat.
Perkataannya terdengar sangat jelas sekarang, dan itu membuatku semakin merasa sakit dihatiku. Kenapa dia baru mengatakannya sekarang? Seharusnya sejak dulu dia bilang itu padaku.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Alec kembali menjalankan mobil setelah aku tak menjawab ataupun menanggapi perkataannya. "Apa tidak masalah aku menikah dengan Olivia—"
"DIAMLAH ALEC!! KAU HANYA MENGATAKAN SESUATU YANG ANEH, KAU INGIN MENIKAH DENGANNYA TAPI BARU SAJA KAU MENGATAKAN CINTA PADAKU!!" Aku berteriak sangat kesal pada Alec. Semua yang dikatakannya tidak masuk akal saat ini. "Kenapa kau menikah dengannya?" Aku bertanya dengan tidak berani menatapnya langsung.
Sepanjang perjalanan Alec tidak mengatakan apapun lagi padaku dan kami tetap diam hingga kami sampai di rumahku, maksudku rumah orang tuaku.
Rasa kesalku membuat langkahku sangat lebar setelah keluar dari mobil Alec. Aku tidak ingin melihatnya lagi sekarang. Itu akan membuat aku marah bercampur sedih.
Berada di kamarku membuat diriku menjadi lebih nyaman. Aku membaringkan diriku, mencoba untuk menikmati hariku saat ini. Hari-hari yang biasanya aku lewati dengan berbaring seharian di kamarku saat membolos kuliah.
"Aku merindukan diriku yang dulu." Ucapku sambil berbaring telungkup.
Tidak berapa lama pintu kamarku diketuk. Dengan malas aku membuka pintunya dan melihat Renata berdiri dengan sebuah senyum senang melihat diriku.
"Sepertinya kau semakin terlihat bahagia, Viv." Ujar Renata.
Aku mendengus kesal mendengarnya. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu setelah kemarin aku berniat mengakhiri hidupku dengan meloncat dari ketinggian. Kekasih kakakku Renata memang gadis bodoh. Tidak heran Arthur yang suka bersenang-senang dengan para wanita itu setuju bertunangan dengannya. Pasti dengan sangat mudah Arthur menipu Renata.
"Alec akan menikah dengan adik Vernon, dengan begitu keluarga Gustavson akan benar-benar menjadi kerabat La Nostra." Seru Renata mengikuti aku masuk ke dalam kamar. "Itu kabar yang bagus bukan? Dengan begitu La Nostra benar-benar akan menguasai segala aspek di negara ini."
__ADS_1
Aku mulai tersadar mendengar perkataan Renata. Keluarga Renata adalah keluarga bangsawan Canossa yang menguasai bidang kesehatan karena memiliki banyak rumah sakit besar di Italia bahkan Renata yang bodoh itu sebenarnya adalah seorang lulusan kedokteran walau dirinya lebih memilih menjadi seorang budak cinta kakakku, Arthur. Sedangkan keluarga Alec adalah keluarga pengacara yang namanya sangat besar di negara ini. Alec menikah dengan Olivia pasti juga karena bisnis.
"Kau tahu, tadinya aku berpikir jika kau dan Alec akan menikah nantinya, tapi ternyata kalian malah akan menjadi saudara ipar. Itu sangat lucu kan?" Renata terkekeh dan itu membuatku kesal melihatnya. "Hari ini apa kau mau menemaniku berbelanja?"
"Ren, aku ingin menikmati hariku tanpa mendengar ocehan bodohmu. Kau bisa pergi dengan teman-temanmu." Jawabku ketus. "Di mana Art? Aku tidak melihatnya."
"Dia sedang pergi ke Milan katanya ada sesuatu yang penting untuk dikerjakannya." Jawab Renata. "Karena itu aku jadi bosan."
"Kenapa kau tidak ikut dengannya? Dia pasti sedang bersenang-senang dengan wanita lain disana." Ucapku kesal pada tingkah Renata yang bodoh. "Kalian sudah bertunangan lebih dari tujuh tahun, seharusnya kalian sudah menikah."
"Kau benar juga ya, baiklah aku akan meminta Art untuk menikah." Jawab Renata dengan tersenyum. "Tapi memangnya apa yang berbeda jika kami menikah? Asalkan aku bersama dengannya, kami tidak perlu menikah."
Aku hanya membuang napasku mendengar perkataan Renata. Tapi aku tidak heran dia berkata seperti itu. Mungkin karena dia juga tahu kalau Arthur sering bersenang-senang dengan para wanita sehingga dia sendiripun tidak ingin segera menikah.
"Baiklah, kau istirahat saja. Aku akan pergi berbelanja sekarang dan langsung pulang ke rumahku." Ucap Renata. "Viv, sepertinya Vernon itu adalah pria yang baik. Dia juga sangat tampan ya walaupun bagiku Arthur lebih tampan. Jadi sebaiknya kau harus mulai mencintainya."
"Apa maksudmu?" Aku menatap Renata kesal mendengar perkataannya.
Mendengar perkataan Renata yang agak berbisik padaku membuat aku menatapnya langsung. Itu sesuatu hal yang untukku sangat aneh. Semua orang tahu jika mereka berdua adalah musuh setelah perbuatan Arthur yang membunuh Wynetta, wanita yang dicintai Vernon.
"Ren, apa kau tahu bagaimana Art membunuh wanita yang dicintai Vernon? Dan kenapa dia menbunuhnya?" Tanyaku berharap Renata tahu dan mau mengatakannya padaku.
"Kenapa ya? Aku juga tidak tahu tentang itu." Jawab Renata dengan senyum. "Aku akan bertanya pada Art nanti, apa dia akan jawab ya?"
Sepeninggalan Renata aku jadi kembali memikirkan ucapannya tadi mengenai Arthur yang menganggap Vernon adalah sahabat. Aku juga kembali mengingat dengan perkataan Alec yang bilang kalau Vernon hanyalah anak angkat keluarga Skjoldbjærg. Semuanya menjadi rumit saat ini.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku yang masih duduk di sisi tempat tidurku menoleh pada kehadiran Alec di ambang pintu. Aku tidak mengira jika dia masih ada di rumahku karena aku berpikir jika tadi Alec langsung pulang setelah mengantarku, apalagi Arthur sedang tidak ada di sini.
__ADS_1
"Ada apa Alec? Art bukannya sedang ke Milan? Aku pikir kau sudah pergi." Ujarku dengan tidak melihat ke arah Alec.
Alec menutup pintunya dan berjalan ke arahku. Dia berdiri di hadapanku yang masih duduk, sesaat kami bertatapan tanpa kata. Aku tidak tahu apa tujuannya menemuiku saat ini.
"Viv, aku sudah bilang kalau aku juga mencintaimu." Ucap Alec. Tatapannya lekat padaku seolah ingin meyakinkan aku mengenai perkataannya.
Namun aku tidak mengerti kenapa dia berkata seperti itu dengan penuh penegasan padaku sekarang. Itu semua sudah tidak penting lagi, walau kami saling mencintai, kami tidak bersama. Itu adalah sebuah ironi bagi kami berdua.
"Kau mendengar aku kan?"
"Lalu apa, Alec?" Tatapku dengan berkaca-kaca. "Apa yang berbeda sekarang dengan kau mengatakannya? Tidak ada!! Aku tetap istri Vernon dan kau akan menjadi adik iparku dengan menikahi Olivia."
"Itu semua tidak penting, yang terpenting kau tahu kalau aku mencintaimu, dan aku juga tahu kalau kau mencintaiku." Seru Alec. "Pernikahan hanya sebuah ikatan yang dibuat, tapi perasaan cinta kitalah yang paling penting."
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu" Aku bangkit berdiri menatap Alec dengan air mata yang menetes. "Kau ingin menyembunyikan hubungan kita?"
Tanpa aku duga Alec mencium sambil mendekap tubuhku. Aku tak mampu menolaknya karena pun sebenarnya aku juga ingin menciumnya. Namun itu semakin membuat aku bersedih. Kami berciuman dengan rasa cinta kami tapi kami tidak bisa bersama.
"Aku sangat mencintaimu, Viv." Bisik Alec dan setelahnya menjatuhkan aku ke tempat tidur dengan menciumku lagi.
Kami berciuman di atas tempat tidurku dengan penuh cinta dan gairah yang sudah lama kami rasakan satu sama lain. Alec mulai mencium leherku dan aku sangat menikmati cumbuannya. Hingga akhirnya kami terlena dengan semua rasa cinta kami dan dengan sadar kami melakukan hubungan yang tidak seharusnya kami lakukan.
Tubuh Alec yang mendekapku dengan rasa cintanya membuat tubuhku seperti melebur dengan rasa nikmat yang diciptakan olehnya. Aku tidak mengira jika bercinta dengan orang yang dicintai akan membuat diriku senyaman ini. Ini sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan saat bercinta dengan Vernon.
"Aku mencintaimu, Viv. Kita bisa menyembunyikan semua ini." Ucap Alec yang mendekapku ketika kami sedang menyatu.
Aku memeluk tubuhnya yang tak berpakaian apapun, mendekapnya erat. Aku tidak ingin ini semua berakhir. Aku ingin kami tetap menyatu seperti sekarang ini dan menyatakan rasa cinta kami. Aku menikmati setiap gerakan cinta yang diberikan Alec dengan mendesah ke telinganya.
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu, Alec."
...–NATZSIMO–...