
"Nyonya, bangunlah dulu. Tuan Skjoldbjærg memintamu untuk sarapan terlebih dahulu dan meminum vitamin."
Suara yang asing bagiku terdengar sehingga membuat aku membuka mata. Seorang pegawai wanita di hotel ini berjalan masuk dengan membawa nampan berisi sarapan untukku.
Sejujurnya aku masih merasa sangat malas untuk bangun karena aku merasakan sakit di kepalaku saat ini.
"Letakan saja nanti aku akan memakannya." Jawabku masih berbaring.
Vernon sudah tidak ada di ruangan ini. Kemungkinan dia sedang mengurusi segala sesuatu kepentingannya sebagai Camorra. Padahal saat ini baru jam tujuh pagi, kenapa dia selalu pergi pagi-pagj sekali?
"Maaf nyonya, apa anda ingin saya temani atau tidak perlu?" Tanya si pegawai wanita.
"Tidak perlu, kau bisa pergi." Ucapku tanpa melihat padanya karena masih menutup mata.
"Baiklah kalau begitu. Saya keluar dulu."
Dengan menghela napas aku membuka mata. Kepalaku sangat berat sekarang. Seketika aku merasakan mual dan sesegera mungkin bergegas ke toilet dan muntah di wastafel.
Begitu terasa menyakitkan ketika harus memaksa sesuatu keluar dari kerongkonganku. Selain itu walau sudah tidak terlalu sakit namun tetap saja aku masih bisa merasakan nyeri luka tembak di perutku.
Secepatnya aku membersihkan mulutku dan mencuci wajah dengan membasuhnya menggunakan air. Sejenak aku bercermin menatap pantulan diriku.
Mimpi semalam kembali terlintas dalam benakku. Aku lah yang menyebabkan kematian Wynetta. Aku yang membunuhnya. Itu membuat diriku menjadi sangat buruk sekarang. Entah apa alasan aku hingga mengendarai mobil dengan cepat dan tidak memedulikan Arthur maupun Alec yang mengejarku. Apapun alasannya aku tetap membunuh Wynetta.
"Viv..." Tiba-tiba terdengar suara Vernon bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
__ADS_1
Aku tidak menjawab dan hanya berjalan keluar dari toilet. Vernon yang baru saja melepas kaosnya menatap padaku. Saat ini dia sedang menyeka keringat di badannya menggunakan handuk kecil berwarna putih.
Ternyata Vernon belum pergi untuk mengurusi keperluannya. Dia baru saja selesai berolahraga saat ini.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Vernon menatapku yang kembali naik ke tempat tidur. "Kau terlihat sangat pucat. Kenapa belum sarapan?"
Tidak ada yang ingin aku katakan pada Vernon saat ini. Aku membungkam mulutku karena terlalu malas untuk mengeluarkan suara menanggapi perkataannya. Sedangkan Vernon terus berdiri di samping tempat tidur menatap padaku seperti menunggu aku menjawabnya.
"Aku rasa nanti malam, aku akan ke pesta itu." Ujar Vernon. "Kau ingin ikut atau hanya berada di kamar ini? Ya, sepertinya lebih baik kau tidak ikut dan tidur saja di sini. Aku akan pergi sendiri."
Vernon berjalan menjauh dari tempat tidur dan hendak masuk ke kamar mandi. Aku tetap saja tidak mengeluarkan suara.
"Sarapanlah, hari ini aku akan mengajakmu berkeliling Genoa. Ini pertama kalinya kau ke kota ini kan?" Vernon berhenti sebelum masuk ke dalam kamar mandi dan menoleh padaku.
Tanpa sadar aku kembali terlelap sejenak, hingga merasakan seseorang memegang tanganku dan membuat aku terbangun dengan terkejut. Ternyata Vernon yang selesai mandi dan masih bertelanjang dada duduk di sisi tempat tidur yang memegang lenganku untuk membangunkan aku.
"Kepalaku hanya sakit." Jawabku dengan menarik wajahku dari tatapan Vernon. "Biarkan aku istirahat sebentar lagi." Aku menarik lenganku dari tangan Vernon dan merubah posisi memunggunginya.
"Sarapanlah dulu dan minum vitamin." Ujar Vernon sambil berjalan mengambil handphone-nya yang dia letakan di meja sofa setelah itu menghubungi anak buahnya untuk menyuruh mereka membelikan obat sakit kepala dengan merek tertentu yang dikatakannya. "Dengarkan perkataanku, cepatlah sarapan. Kau akan membuat kondisimu semakin memburuk nanti."
"Aku ingin pulang." Ucapku. "Aku ingin pulang ke rumahku. Bisakah kau mengantarku? Tidak, tolong antar aku ke Venesia tempat kedua orang tuaku berada."
Vernon mendengus mendengar ucapanku. Tampaknya dia tidak habis pikir dengan permintaanku. Aku pun tidak yakin dengan keinginanku tersebut namun melihat Vernon saat ini membuat aku teringat dengan Wynetta yang aku bunuh.
"Jangan berulah, Viv!!" Seru Vernon mendekatiku. "Kau akan tetap di sini sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Duduk dan sarapanlah terlebih dahulu dan minum vitaminnya. Setelah obat sakit kepalanya datang minumlah. Setelah itu kita akan berkeliling Genoa agar suasana hatimu membaik. Kau harus menghirup udara segar."
__ADS_1
"Kenapa aku harus mendengarkan perkataanmu?" Tatapku sedikit kesal karena Vernon tidak mau mendengarkan permintaanku. "Kemarin kau ingin aku pulang kan?"
"Besok kita akan pulang bersama, tapi tidak ke Venesia." Jawab Vernon. "Kau harus mendengarkan aku karena dalam dirimu ada anakku." Vernon mengambil mangkuk berisi Ribollita, menu sarapanku dari meja samping tempat tidur. "Duduklah."
Sejenak aku menatap Vernon yang sepertinya siap untuk menyuapi aku yang enggan makan. Tetapi melihat usahanya membujukku membuat aku merasa menjadi tidak enak padanya. Bukan karena tidak ingin dia kecewa melainkan karena tidak ingin diriku semakin bersalah karena membunuh wanita yang dicintainya.
Vernon memegangiku ketika aku hendak duduk. Melihat dirinya yang tidak memakai baju membuat aku melihat bekas luka tembak di bahu kiri atasnya. Luka itu sudah sembuh dan hanya terlihat bekasnya saja. Itu sembuh dengan sangat cepatnya. Selama ini aku tidak pernah memperhatikannya walau sudah sangat sering dia tidak berpakaian di depanku.
Namun yang jadi fokusku saat ini adalah tato yang ada di rusuk kanan Vernon. Tato yang hanya berbentuk huruf W dengan ukuran yang cukup besar hingga memenuhi sisi kanan tubuhnya. Tanpa perlu berpikir lama, ketika pertama kali melihat tato itu pun aku langsung tahu jika itu adalah inisial dari Wynetta, wanita yang belum bisa dilupakan olehnya.
"Sudah cukup." Ujarku menolak suapan dari Vernon setelah suapan ketiga.
"Hanya tiga suapan tidak akan membuat anakku kenyang. Buka mulutmu lagi!!" Seru Vernon dengan sedikit ketus.
Aku menuruti perkataannya dan membuka mulut lagi. Namun saat makanan itu masuk, aku merasakan mual kembali dan langsung turun tempat tidur, berlari masuk ke toilet untuk muntah.
Makanan yang baru masuk tidak seberapa itu langsung keluar begitu saja. Padahal dengan susah payah aku menelan semua itu tadi.
"Kau tetap harus memakannya lagi." Ujar Vernon yang berdiri di ambang pintu kamar mandi menatap padaku. "Apa kau memikirkan sesuatu saat ini? Sudah aku katakan semalam kalau kau harus menjaga suasana hatimu agar kehamilanmu baik-baik saja."
Aku menoleh melihat Vernon setelah membersihkan mulutku. Rasanya aku ingin menangis saat ini, namun aku tidak akan melakukannya. Aku tidak ingin menunjukan air mata penyesalan pada Vernon.
"Cepatlah keluar—"
"Aku akan mendengarkan perkataanmu dari sekarang." Ucapku dengan tatapan serius pada Vernon. "Semua akan aku lakukan agar aku bisa melahirkan anakmu. Aku akan melahirkannya dan akan memberikannya padamu. Dia akan tinggal bersamamu. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau melepaskan aku. Aku tidak ingin hidup bersamamu lagi... sebagai istrimu, ataupun sebagai tawananmu."
__ADS_1
...–NATZSIMO–...