
Arthur menatapku dengan sangat serius setelah mendengar apa yang aku katakan. Mungkin apa yang keluar dari mulutku sangat tidak masuk di akalnya hingga Arthur masih diam melihat padaku dan tidak langsung menanggapi perkataanku.
"Apa yang kau katakan, Viv?" Arthur masih menatapku dengan lekat. Tatapannya memancarkan ketidakpercayaannya pada ucapanku. "Kenapa kau tidak ingin dia mati?"
Sekarang diriku berkutat dalam pikiran untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan Arthur. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak ingin Vernon mati. Sebisa mungkin aku mencari jawaban yang masuk di akal namun itu sangat sulit, bahkan aku juga tidak tahu apa jawaban yang sesungguhnya kenapa aku tidak ingin Vernon mati.
"Apa kau ingat sesuatu?"
"Apa?" Tanyaku bingung menanggapi pertanyaan Arthur. "Ingat apa? Apa yang aku ingat?"
Arthur langsung menarik tatapannya dariku dan bangkit berdiri. Dia meletakan gelas ke meja sesudahnya berjalan mendekatiku yang sejak awal hanya berdiri.
"Viv, kenapa kau tidak ingin Vernon mati?" Sekali lagi Arthur bertanya.
Sesaat aku memutar mataku hendak mencari jawaban. Walau tidak ada jawaban bagus namun asalkan aku memberikan jawaban klise aku rasa itu tidak masalah. Arthur akan selalu mempercayai adik kesayangannya ini.
"Aku tidak ingin menjadi janda dari seorang pria yang mati. Aku akan berpisah dengannya dan aku rasa reputasiku jauh lebih bagus jika aku yang meminta berpisah darinya." Jawabku. Hanya itu jawaban yang terpikirkan olehku saat ini. Jawaban sampah.
Arthur bereaksi dengan mengedipkan matanya dua kali setelah itu berjalan menjauh dariku. Dia mengambil remote televisi dan mematikannya segera.
"Art, lakukan sesuatu. Cari tahu keberadaan Vernon, dan bantu dia." Seruku sekali lagi. "Saat aku dan dia resmi bercerai, kau bisa membunuhnya."
"Tidak semudah itu membunuhnya." Jawab Arthur bersandar di meja sambil memegang gelas yang sudah dia tuangkan isinya lagi. "Siapapun tidak akan mudah membunuhnya. Sacra Unita atau aku sekalipun."
"Apa maksudmu?" Tanyaku.
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuk Renata yang berjalan sangat cepat mendekati Arthur.
"Art, kau tahu, Camorra juga menyerang markas Sacra Unita di Puglia." Seru Renata sambil berjalan masuk. "Ayo Art, kita harus ke sana, kita harus menontonnya dari dekat."
__ADS_1
Arthur tertawa kecil mendengar perkataan tunangannya yang langsung merangkulnya. Yang diucapkan Renata membuat aku bingung. Camorra juga menyerang ke Puglia, markas Sacra Unita? Apa Vernon yang berada di sana?
"Ada apa, Viv?" Tanya Renata menatapku. "Apa kau mencemaskan suamimu? Kau tenang saja, sepertinya dia baik-baik saja."
Aku menatap Renata dengan perasaan yang tidak aku mengerti saat ini. Apa sebelumnya Arthur tahu kalau Vernon akan menyerang ke Puglia dan bukan ke Genoa?
Tiba-tiba handphone Arthur berdering, dengan santai Arthur menjawabnya setelah Renata mengambilkan handphone tersebut yang ada di atas meja kerjanya.
"Ya Pablo, apa semuanya sudah selesai?" Tanya Arthur kepada tangan kanannya di La Nostra. "Baguslah kalau begitu." Setelah berkata demikian Arthur menutup teleponnya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Renata yang memeluk Arthur.
"Akhirnya Sacra Unita menarik mundur anak buahnya dari Genoa setelah markasnya di lumpuhkan oleh Camorra." Jawab Arthur.
Kabar tersebut membuat aku menjadi merasa lega. Kalau begitu berarti saat ini Vernon baik-baik saja. Seketika rasa cemasku menghilang sekarang membuat napasku menjadi kembali stabil.
"Jika seperti itu, berarti bisnis yang ada di Genoa akan dikuasi Camorra 80 persen? Apa tidak masalah La Nostra hanya memiliki 20 persen, Art?" Tatap Renata pada Arthur.
"Kau tidak perlu khawatir, Viv. Kau bisa berpisah dengan Vernon dan reputasimu masih baik-baik saja. Segeralah ajukan perceraianmu. Aku akan meminta Alec menggugatnya." Seru Arthur tersenyum padaku.
"Ya, aku sudah tidak sabar bercerai darinya." Jawabku sambil berjalan ke arah pintu keluar.
Walau aku sudah merasa lega saat ini karena Vernon baik-baik saja, namun mendengar perkataan Arthur mengenai perceraian membuat aku menjadi terganggu.
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di sisi tempat tidur dengan terus berpikir mengenai alasan rasa khawatirku pada Vernon tadi. Aku mencoba mencari tahu alasan apa yang sebenarnya kenapa aku tidak ingin pria itu mati.
"Aku rasa kau mulai mencintainya, Viv." Seru Sesya ketika kami berdua berbicara di kamarku keesokan harinya. "Hanya karena kau mencintainya makanya kau sebegitu khawatirnya pada Vernon. Aku rasa itu masuk akal."
Di atas tempat tidur aku berbaring sambil memikirkan jawaban yang diberikan Sesya. Sedangkan sahabatku itu duduk di samping kiriku di atas tempat duduk. Saat ini waktu menunjukan pukul dua siang.
__ADS_1
"Apa kau mencintainya, Viv?"
"Itu tidak mungkin. Aku tidak mencintainya, bahkan ketika Arthur membawaku aku sangat bahagia. Jadi mencintainya adalah sesuatu hal yang mustahil aku rasakan padanya." Jawabku dengan tidak bersemangat.
"Lalu kenapa kau tidak ingin dia mati? Apa karena kau merasa tidak terlalu membencinya lagi setelah hampir dua bulan ini kalian bersama? Ya bagaimanapun selama itu kalian banyak menghabiskan waktu bersama jadi kemungkinannya sangat besar kalau kalian memiliki suatu hubungan dan membuat kalian berdua dekat." Ujar Sesya duduk di atas tempat tidur di samping aku berbaring.
"Entahlah, aku tidak ingin memikirkannya lagi." Ucapku memejamkan mata.
"Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?" Sesya memegang keningku dengan punggung telapak tangannya. "Wajahmu pucat, apa kau tidak enak badan?"
"Sejak bangun tidur aku merasa kurang sehat." Aku membuka mata dan melihat pada Sesya. Wajah Sesya terlihat cemas menatapku. "Entah kenapa aku tidak nafsu makan dan jadi malas turun dari tempat tidur."
"Kau sudah bilang Renata? Biarkan dia memeriksamu." Ujar Sesya. "Apa karena rasa rindumu pada Vernon? Ya sepertinya begitu, kau merindukannya hingga tidak nafsu makan dan malas melakukan apapun."
"Tidak, aku tidak merindukannya. Aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya. Aku berharap kami tidak bertemu lagi. Kami akan bercerai, besok Alec akan membawa surat perceraian kami." Sanggahku dengan tidak semangat.
"Kau sudah menghubunginya? Kau tidak ingin tahu bagaimana kondisinya setelah penyerangan itu? Mungkin saja dia juga merindukanmu."
"Untuk apa aku menghubunginya? Aku tidak peduli padanya. Aku hanya tidak ingin dia mati, itu bukan berarti aku mencintai ataupun merindukannya." Jawabku. "Sekarang biarkan aku istirahat, Ses."
"Baiklah, aku juga ingin pergi dengan salah satu pacarku." Ujar Sesya seraya beranjak turun dari tempat tidur. "Aku akan mencari Renata agar dia melihat kondisimu. Aku pergi dulu ya, Viv."
Aku mengambil handphone-ku segera setelah Sesya pergi. Pada kenyataannya sejak kemarin aku mencoba menghubungi Vernon, namun sekalipun pria itu tidak menjawab telepon dariku. Bahkan pesan yang aku kirimkan yang menanyakan kondisinya belum juga dibaca.
Walau aku mencoba untuk tidak memikirkan Vernon, namun sepertinya apa yang dikatakan Sesya benar. Aku merindukannya, dan bisa juga sebenarnya kalau aku pun mulai mencintainya... lagi.
"Kenapa kau tidak menjawabnya, berengsek?!" Makiku karena kesal setelah teleponku masih tidak dijawab oleh Vernon.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1
Jangan lupa like setelah membaca ya. Berikan dukungannya setelah membaca kalau suka dengan cerita ini. Dukung terus dengan cara meninggalkan jejak pada novel ini ya. Terimakasih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...