
Pemandangan langit yang tampak indah karena kembang api telah hilang, begitu juga dengan rasa senangku ketika mendengar suara orang-orang berteriak dan suara letusan tembakan dari dalam kapal.
Aku langsung memeluk lengan Vernon dengan rasa takut menyerang ketika Vernon menatapku dengan kekhawatiran. Ia memegang tanganku yang memeluk lengannya. Aku bisa merasakan kalau telapak tangannya saat ini terasa begitu dingin.
"Kalian sudah menghubungi yang lainnya?" Tanya Vernon pada anak buahnya.
"Kita ada di tengah laut, tuan. Sinyalnya tidak ada." Jawab salah satu anak buah Vernon yang berdiri siaga dengan senjata laras panjang melingkar di lehernya.
"Carilah suar, kita harus memberi tanda untuk meminta bantuan mereka yang ada di darat." Seru Vernon. "Berapa banyak orang-orang Sacra Unita?"
"Mereka sangat banyak, lebih dari lima puluh orang."
"Mereka mencari anda tuan, sebaiknya anda dan nyonya bersembunyi di sini saja."
Aku menyetujui perkataan anak buahnya itu. Jika orang-orang Sacra Unita menemukan Vernon, pasti mereka akan langsung membunuhnya. Tanganku yang masih memeluk lengan Vernon semakin aku dekap agar Vernon mengerti untuk tidak pergi kemanapun.
"Kita harus mencoba masuk dan mencari suar." Ujar Vernon. "Teruslah coba hubungi mereka."
"Baik tuan."
Vernon menatapku dan melepaskan tanganku yang memeluk lengannya, lalu memakaikan jasnya padaku, memasukan tanganku ke dalamnya dan mengencinginya.
"Jagalah nonamu dengan sangat baik." Seru Vernon pada Pablo.
"Ya, itulah tugasku di sini." Jawab Pablo, kedua tangannya sudah menggenggam pistol.
"Tetaplah di sini, Viv." Ujar Vernon menatapku dengan melepaskan tanganku yang memeluk lengannya.
"Kau mau kemana? Tetaplah bersamaku." Pintaku dengan rasa takut yang melanda diriku saat ini. "Jangan tinggalkan aku, Vern. Aku akan bersama denganmu terus."
"Viv, kau tenang saja, aku akan baik-baik saja. Aku akan masuk ke dalam untuk mengambil suar agar bantuan segera datang." Jawab Vernon. "Kalian berdua juga berada di sini dan lindungi dia, jangan biarkan hal buruk terjadi padanya."
"Baik tuan" Jawab salah satu dari dua anak buahnya yang diperintahkan Vernon menjagaku bersama Pablo.
"Vern..." Panggilku memegang lengan Vernon yang hendak melangkah.
Vernon menatapku dan memberikan kecupannya ke keningku setelah itu berjalan pergi dengan sebuah pistol yang diberikan anak buahnya. Vernon pergi memasuki kapal bersama kedua anak buahnya.
Aku menatap keperginya dengan perasaan takut karena kekhawatiran diriku padanya.
Di dalam suara tembakan terjadi beberapa kali. Itu membuat aku semakin takut akan keadaan Vernon saat ini.
__ADS_1
"Nona, kita harus bersembunyi." Ucap Pablo memecahkan lamunanku yang masih memandang ke arah kepergian Vernon walau dirinya sudah tidak ada. "Ayo, nona."
Aku masih tidak bergeming dari tempatku berdiri, padahal Pablo mengajakku untuk ke pojokan untuk bersembunyi.
"Nona, ayo." Kali ini Pablo memegang lenganku agar mengikutinya.
Aku melangkah mengikutinya, namun tiba-tiba dari arah yang sangat dekat terdengar tembakan beserta teriakan beberapa orang yang sangat keras. Kakiku terasa sangat gemetar hingga untuk berdiripun saat ini membuat aku sulit.
"Nona, baik-baik saja?" Tanya Pablo ketika aku menopang diriku memegang pembatas kapal untuk menahan tubuhku. "Nona, kau mendengarku?"
Kepalaku yang menunduk aku angkat melihat Pablo. Rasa takutku membuat pandanganku tidak terlalu jelas karena saat ini aku menahan air mata, hingga mataku memerah.
"Nona tenang saja, sebelum kita berlayar aku sudah menghubungi tuan Art. Aku merasa ada yang aneh tadi, karena itu aku meminta tuan Art mengirim bantuan." Ujar Pablo membuat aku sedikit kelegaan.
Namun tiba-tiba terdengar langkah kaki beberapa orang yang baru saja membuka pintu menuju geladak di mana saat ini aku berada. Kedua anak buah Vernon mengintip ke arah pintu.
"Lima orang datang." Ujar salah seorang yang mengintip ke arah suara langkah kaki.
Setelah itu kedua orang itu meletuskan beberapa kali tembakan sehingga orang-orang yang pastinya adalah kubu Sacra Unita membalas tembakan tersebut dengan berkali-kali lebih banyak. Pablo hanya berdiri membelakangiku dan tidak ikut menembak.
Aku tersentak hingga sedikit berteriak ketika seorang anak buah Vernon terkena tembakan di bagian lengannya.
Pablo langsung ikut tembak menembak hingga tiba-tiba terdengar suara suar dari arah buritan kapal, dan tampak cahaya di langit. Membuat malam tanpa bintang kembali membuat langit terlihat bercahaya.
Sepertinya Vernon menemukan suarnya, itu membuat aku sedikit lega karena mengetahui kalau dirinya baik-baik saja. Suara orang-orang yang sedang menembak dari arah pintu masuk kapal di sisi utara juga tidak terdengar.
Seorang anak buah Vernon langsung keluar melihat situasi di sana. Namun tanpa diduga dia tertembak dan langsung mati di tempat. Aku menjerit ketakutan, sedangkan Pablo melongok untuk melihat apa yang terjadi. Sebuah tembakan terdengar kembali dan kali ini semakin banyak suara langkah kaki terdengar. Pablo bersama anak buah Vernon yang lengannya tertembak mencoba menghujani mereka dengan senjata laras panjang yang mereka bawa.
"Nona, sebaiknya kita pergi dari sini." Seru Pablo menyuruhku mengikutinya ke arah selatan kapal.
Aku berlari mengikuti anak buah Vernon dan di belakang Pablo melihat situasi. Aku mulai merasakan sakit di perutku saat ini.
Tiba-tiba anak buah Vernon yang berada di depanku tumbang ketika seseorang dari arah depan kami meluncurkan tembakan ke arahnya dan tepat mengenai dadanya.
Dengan sigap Pablo menarikku ke balik tanki yang ukurannya cukup untuk kami bersembunyi dari hujanan tembakan. Sejenak Pablo terdiam untuk membaca situasi, dan sepertinya dia menunggu orang yang menembaki kami kehabisan peluru.
Ternyata benar, ketika sudah tidak ada suara tembakan, Pablo keluar dan langsung menembak beberapa kali ke orang tersebut.
"Ayo Nona!!" Seru Pablo padaku agar aku mengikutinya kembali berlari karena suara orang-orang di belakang kami semakin mendekat.
Aku berlari di depan Pablo dengan menahan rasa sakit di perutku. Sekarang aku merasa kalau seharusnya tadi kami segera pulang dan tidak melihat kembang api. Seharusnya aku tidak mendengarkan perkataan si pemilik kapal. Tidak, seharusnya kami tidak datang ke pesta ini. Seharusnya aku terus berada di kamar hotel.
__ADS_1
Langkahku terhenti dengan napas tersengal-sengal ketika kami hampir sampai ke arah buritan kapal. Aku meringis menahan rasa sakit di perutku. Aku tahu ada yang tidak baik-baik saja karena rasa sakit di perutku rasanya tidak tertahan lagi.
"Nona, baik-baik saja?"
Saat yang bersamaan Pablo bertanya padaku, orang-orang yang terus mengejar kami dari belakang mulai terlihat dan melepaskan tembakan. Pablo langsung menarikku ke pojokan, bersembunyi di balik lekukan sebuah pintu.
"Nona, dengarkan kata-kataku. Aku akan menghalangi mereka, kau harus berlari secepat mungkin menuju buritan, tuan Vernon pasti berada di sana dan tidak lama lagi pasti tuan Arthur akan datang." Ujar Pablo.
Mendengar perkataan Pablo membuat air mataku keluar. Aku tahu apa yang akan terjadi pada Pablo dengan perkataannya seperti itu padaku.
"Kau mendengarku kan, nona?"
Aku mengangguk dengan menahan isakan tangisku karena memikirkan bagaimana selama ini Pablo sering menjagaku walau diriku selalu tidak ingin dijaga olehnya.
"Bersiaplah Nona, aku akan keluar setelah itu berlarilah di pojokan untuk menghindari tembakan." Ujar Pablo. "Nona..." Kali ini Pablo memegang kepalaku agar aku melihat padanya. "Semua yang terjadi sepuluh tahun lalu, itu semua bukan salahmu."
Perkataan Pablo membuat aku terkejut. Aku melupakan hal tersebut, Pablo pasti mengetahui mengenai apa yang terjadi sepuluh tahun lalu. Kenapa sebelumnya aku tidak pernah bertanya padanya?
"Baiklah Nona, bersiaplah. Aku akan keluar." Seru Pablo.
Tidak berapa lama, Pablo langsung keluar dari tempat persembunyian kami dengan langsung menghujani tembakan ke arah orang-orang yang sudah hampir dekat pada kami. Aku langsung berlari mengikuti intruksi Pablo, namun aku menghentikan langkahku ketika suara tembakan sudah tidak terdengar lagi ditambah rasa sakit di perutku semakin menjadi.
Aku menoleh ke arah Pablo yang sudah bersimbah darah terjatuh di bawah di jarak yang lumayan jauh dariku. Aku bisa melihat Pablo menatap padaku, sedangkan salah satu dari dua orang yang tersisa dari pihak musuh meletuskan tembakannya sekali lagi ke dada Pablo yang membuatnya langsung mati seketika.
Kedua orang itu melihat ke arahku, dan sepertinya mereka berniat menangkapku karena tidak menembak ke arahku. Aku mencoba berlari semampuku dengan menahan rasa sakit di perut.
Hingga suara tembakan kembali terdengar. Aku yang berlari dengan memfokuskan langkahku dengan melihat ke bawah, mengangkat kepala dan melihat Vernon berlari ke arahku.
Melihatnya aku merasa sangat lega hingga tersenyum. Vernon datang dengan menembak kedua orang yang mengejarku. Aku langsung terjatuh lemas ketika melihat dirinya berlari ke arahku.
Akan tetapi tanpa Vernon ketahui di belakangnya sudah ada beberapa orang yang melihatnya dan meletuskan beberapa tembakan pada Vernon.
Dengan penuh air mata dan leher yang terasa tercekat, aku melihat bagaimana Vernon tumbang karena tembakan-tembakan yang mengenai bagian belakangnya
Pandanganku seketika gelap karena tidak mampu melihat apa yang terjadi. Namun sebelum aku kehilangan kesadaran aku mendengar suara helikopter bersamaan dengan puluhan tembakan yang mengarah ke orang-orang yang menembak Vernon. Arthur dan Renata datang.
Sebelum aku menutup mata, aku melihat darah keluar dari tubuh Vernon yang sudah berada di bawah.
Aku mencintaimu, Vernon.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1