
Enam bulan kemudian...
Berada di rumah nenekku di Venesia membuat diriku sedikit merasa lebih baik sekarang. Setiap hari menjalani kehidupan biasa dengan berjalan-jalan ke sekitar kota dan menikmati semuanya tanpa memikirkan apapun yang sebelumnya terjadi.
Melissa Bellucci adalah nenekku yang merupakan ibu dari ibuku Elena Bellucci. Ia adalah penguasa dari kota Venesia, maksudku Ia sangat memiliki pengaruh yang kuat di kota dimana aku berada saat ini.
Ayah dari nenekku adalah mafia yang memegang kendali perekonomian bawah tanah kota Venesia, yaitu Dranheta. Nenekku menikah dengan kakekku yang hanya seorang bintang film biasa Pedro Bellucci dan memiliki seorang anak, yaitu ibuku. Kakek sudah meninggal dunia sekitar lima tahun lalu. Sedangkan ibu menikah dengan ayahku yang merupakan seorang mafia terbesar dan terkuat di Italia, Franco La Nostra.
Karena nenek adalah satu-satunya anak dari Dranheta sehingga ia sendirilah yang memimpin organisasi gengster tersebut tanpa diketahui orang awam. Yang mereka tahu dinasti dari Dranheta sudah berakhir setelah nama itu sudah tidak memiliki penerusnya.
Namun pada kenyataannya hal itu memang diciptakan sebegitu kian rupa agar Dranheta yang menguasai 80 persen lalu lintas Kokain di Eropa bisa terus melebarkan jaringannya ke seluruh dunia. Yang terjadi sebenarnya adalah Dranheta merupakan sindikat mafia terkaya melebihi La Nostra sendiri karena daerah kekuasaan Dranheta mencapai global, dan semua itu berada dalam genggaman nenekku yang selalu tampak seperti wanita paruh baya biasa.
"Hari ini aku akan berjalan-jalan lagi ke kota nek." Ujarku ketika kami sedang sarapan berdua di rumah nenek yang jauh dari pusat kota Venesia yang selalu ramai.
Rumah sederhana yang di mana halamannya lebih luas dari pada bangunan rumah itu sendiri. Tak ada penjagaan di sekitar rumah namun yang sesungguhnya adalah rumah-rumah yang berada di sekeliling tempat tinggal nenek adalah rumah-rumah dari para pengikut Dranheta.
"Satu minggu lagi kau akan kembali ke Sisilia?" Tanya nenek yang duduk berhadapan denganku di meja makan sederhana.
"Ya, untuk putusan sidang perceraianku." Jawabku setelah itu memakan spagetti bolognese. "Aku tidak mengerti kenapa mereka harus menunggu enam bulan untuk memutuskan perceraian itu."
"Lalu apakah kau akan kembali ke sini lagi setelah putusan sidang itu, sayang?" Nenek menatapku dengan lekat setelah ia menghabiskan secangkir teh hangat.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya begitu." Jawabku. "Kemungkinannya bulan depan aku kembali setelah pernikahan Alec."
"Viv, dalam kepercayaan kita menikah hanya sekali hingga kematian menjemput. Aku ingin semua keturunanku tidak berpisah dengan pasangannya setelah menikah, kau tahu kan karena itu juga alasan kakakmu masih tidak menikah dengan tunangannya." Seru Nenek. "Pernikahan sebenarnya bukan janji di antara kedua pengantin melainkan janji mereka pada Tuhan."
"Ya, dan banyak orang tidak bisa memegang atau memenuhi janji yang mereka buat sekalipun itu berurusan dengan Tuhan." Jawabku yang langsung bangkit berdiri.
Dengan mengenakan pakaian terusan sederhana sepanjang lutut berwarna putih dan topi berjenis Floppy Hats berwarna senada aku memasuki kerumunan kota Venesia. Walau saat ini adalah musim dingin namun di Venesia tidak begitu dingin sekarang sehingga aku memilih untuk tidak memakai pakaian musim dingin.
__ADS_1
Kota ini selalu ramai dengan banyak turis yang memadati setiap sudut kota membuat Venesia menjadi kota yang cocok untukku berjalan-jalan setiap pagi hingga siang hari.
Esteban si anak buah yang Arthur suruh untuk menjagaku yang menemaniku. Terkadang ia berjalan dibelakangku namun ketika aku sedang ingin ditemani beberapa kali kami berjalan bersama. Ia merupakan pemuda berusia 18 tahun yang pada dasarnya banyak bicara sehingga dengan keberadaannya bersama denganku terkadang membuat aku terhibur.
"Nyonya, besok ada karnaval di sini, apa nyonya ingin menonton?" Tanya Esteban ketika kami berada di gondola untuk menuju suatu tempat setelah diriku lelah berkeliling.
Aku baru ingat jika bulan ini adalah bulan Februari, di mana di Venesia akan mengadakan sebuah karnaval. Seluruh kota Venesia berubah menjadi tempat yang lebih ajaib selama perayaan karnaval di pertengahan musim dingin. Acara unggulannya termasuk Volo dell’Angelo ('malaikat naik ke langit'), saat seorang malaikat terbang menggunakan kabel gantung melintasi Lapangan St. Mark, dan parade kostum. Biasanya orang-orang akan mengenakan topeng dan jubah panjang, yang disebut tabarro.
"Apa yang akan aku kenakan?" Aku balik bertanya.
"Nyonya tenang saja, aku akan mencarikan kostum yang sesuai untukmu. Nyonya pasti cantik mengenakan kostum apapun." Jawab Esteban berbicara seperti anak seusia dirinya pada umumnya. "Aku juga akan mencari pakaian yang cocok untuk tubuh kurusku."
Mendengar ocehannya membuatku tertawa.
Biasanya setelah berkeliling Venesia sebentar aku hanya akan mendatangi satu cafe yang sama, Torrefazione Cannaregio, duduk di tempat yang sama pula di dekat jendela dan juga memesan kopi yang sama juga setiap harinya yaitu cappuccino. Aku akan menghabiskan satu cangkir cappuccino selama satu jam tanpa melakukan apapun dan hanya duduk diam memperhatikan luar jendela. Esteban sesekali akan duduk bersama denganku ketika aku memintanya.
"Est, apa besok aku harus ikut karnaval itu?" Aku menoleh pada Esteban yang duduk di meja bar cafe sedangkan diriku berada di meja dekat jendela.
Perkataan Esteban selalu seperti itu. Tubuhnya yang jangkung tinggi dan kurus memang membuatnya selalu terlihat kebesaran memakai pakaian apapun. Ia adalah pemuda yang memiliki selera humor yang buruk namun aku selalu tertawa mendengar apapun yang diucapkannya. Karena dirinya aku merasa terhibur saat ada di kota ini.
Keesokan harinya, benar sekali Esteban mencarikan aku kostum yang sangat mengagumkan karena kostum tersebut benar-benar kostum musim dingin yang menutupi seluruh tubuhku. Aku rasa tidak akan ada siapapun yang tahu itu adalah aku ketika memakainya, ditambah aku juga memakai topeng.
Esteban sudah memakai kostumnya yang memang tampak kebesaran untuknya. Namun aku menjadi mengurungkan niatku.
"Est, aku tidak akan memakainya. Aku hanya akan menonton saja." Ujarku
"Padahal aku sudah mencarikan kostum yang sangat sesuai dengan wajah nyonya yang selalu muram." Jawab Esteban yang sudah rapi memakai kostum serba berwarna emas dan tangannya memegang topeng yang akan ia gunakan nanti. "Tapi baiklah kalau nyonya tidak mau."
"Aku akan menonton dan berfoto-foto saja dengan para peserta karnaval. Kau bisa menikmati waktumu sebagai peserta karnaval di parade." Ucapku. "Kostummu benar-benar kebesaran."
__ADS_1
"Nyonya tidak perlu khawatir saat di sana. Tidak akan ada yang berani mendekati nyonya karena mereka semua mengenal nenek nyonya yang galak itu."
"Aku mendengarnya Est." Seru nenekku yang duduk di meja makan.
Venesia dipadati oleh lautan manusia yang ingin menonton karnaval. Banyak orang memakai kostum-kostum unik dan topeng sehingga tidak akan ada yang mengenali mereka semua.
Esteban yang memiliki sifat ramah langsung membaur ke kumpulan peserta karnaval lainnya dan beberapa orang yang menonton mengajaknya berfoto. Ia memang masih bertingkah seperti pemuda seusianya.
Dengan menggunakan kamera handphone, aku mengambil gambar orang-orang yang memakai kostum yang unik-unik. Hari ini aku merasa lebih dingin dari kemarin, walaupun aku sudah memakai jaket.
Beberapa orang meminta foto dengan Esteban, hal itu membuat pemuda itu tampak menikmati perannya di dalam kostum. Sesekali Ia akan melambaikan tangannya ke arahku yang melihatnya dengan gerakan-gerakan seperti menari. Tingkah bodohnya selalu membuat aku tertawa kecil.
Ketika aku sedang memotretnya yang sedang berfoto dengan orang yang memintanya berfoto, tiba-tiba seseorang berjalan mundur dibelakangku hingga menabrakku dan membuat handphone milikku terjatuh.
Aku mendengus kesal menoleh pada orang yang tampak tidak sadar akan kesalahannya dan langsung berjalan pergi. Secepatnya aku berjongkok untuk mengambil handphone yang tergeletak di tanah agar tidak ada siapapun yang menginjaknya.
Akan tetapi karena aku kurang cepat, seseorang berkostum menginjaknya dan berdiri tepat di depanku. Itu membuat aku menjadi sangat kesal. Segera aku bangkit berdiri untuk menghadapi orang berkostum yang menginjak handphone-ku karena sepertinya dia melakukannya dengan sengaja. Ia masih menginjaknya walau sudah tahu sesuatu ada di bawah kakinya.
Tatapan kesalku mengarah pada orang berkostum yang memakai topeng. Jika dilihat dari kostum yang dipakai dan tinggi badannya yang jauh lebih tinggi dariku, ia adalah seorang pria. Namun tampaknya ia tidak mengetahui dirinya berurusan dengan siapa.
"Sepertinya kau tidak tahu siapa aku." Ujarku dengan sangat kesal.
"Tidak ada yang tidak mengenalmu, sayang. Tapi tampaknya kau yang tidak mengenal aku."
Mendengar suaranya membuat jantungku berdegup sangat cepat dan hatiku kelu seketika. Itu adalah suara yang sangat aku kenal. Mendengarnya membuat aku terdiam membeku.
Orang berkostum yang memakai topeng membuka topengnya. Sebuah seringai serta tatapan tajam terpancar di wajahnya.
"Aku tahu kau pun pasti merindukanku. Karena banyak hal yang harus aku kerjakan, aku baru bisa menemuimu sekarang. Maafkan aku karena terlalu lama membiarkanmu bersenang-senang, Viv." Ujar Vernon menyunggingkan seringainya padaku.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...