
Vernon terus menciumku, begitupun dengan diriku. Aku membalas ciumannya hingga membuat gairah kami menggelora. Rasanya aku tidak kuat lagi untuk menahan diriku ketika Vernon mulai mencumbu leherku dengan salah satu tangannya menerobos masuk ke dalam kemeja yang aku pakai, meraih salah satu undakan dadaku.
"Apa kau serius Vern?" Bisikku dengan menahan des*ah*an karena pikiranku sudah tidak karuan.
"Apa aku harus mengikat tanganmu lagi?" Jawab Vernon menarik cumbuannya dan menatapku.
Keadaanku saat ini tidak memungkinkan untuk bercinta walau diriku sangat menginginkannya. Tapi aku memikirkan kandunganku dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.
Vernon terus menatapku dan sepertinya dia tahu kalau saat ini aku memikirkan kondisiku yang sedang hamil anaknya.
"Kau tenang saja, Viv. Aku juga seorang dokter dan aku tahu posisi yang aman untuk melakukannya." Seru Vernon menyunggingkan senyumnya.
Vernon langsung melepaskan kaos hitam yang dikenakannya, memperlihatkan otot-otot ditubuhnya yang terbentuk dengan sangat indah. Lalu berbaring di samping kiriku sambil melepaskan pakaianku dan memposisikan diriku tidur menyamping membelakanginya. Aku bisa merasakan Vernon mencium tengkukku dengan tangannya berada di bagian lain dari tubuhku, membuat diriku bergidik penuh gairah. Vernon mengangkat kaki kiriku dan tidak berapa lama aku merasakan sesuatu yang ukurannya tak terkira mendesak masuk—
...*SENSOOOORRRRR*...
"Aku tidak bisa menghukummu lebih dari ini dengan kondisimu yang sekarang." Ucap Vernon setelah dirinya memberikan sesuatu yang disebut hukuman padaku.
Tubuhku yang terlentang aku putar hingga menghadap Vernon yang berbaring di sebelah kiriku di dalam selimut. Mataku menatap Vernon yang menutup matanya. Saat ini tubuhnya dipenuhi peluh sama seperti diriku.
"Ada apa? Apa kau masih ingin aku hukum?" Vernon membuka sedikit matanya melihat padaku yang ada tepat dipandangannya. "Tunggulah hingga usia kandunganmu aman dan kondisi luka itu sembuh total, aku tidak akan mengampunimu."
"Katakan padaku kenapa kau tidak menjadi seorang dokter, Vern?" Tanyaku dengan sangat serius. "Apa ada alasan khusus?"
__ADS_1
Vernon membuka matanya dan terdiam menatapku. Sepertinya pertanyaanku mengganggu pikirannya saat ini karena dia tidak langsung menjawabnya. Vernon terlihat terkejut dan langsung memasang wajah serius ketika aku bertanya seperti itu padanya.
"Pasti ada alasan khusus kan?"
"Kau tahu kan, aku tidak suka bau rumah sakit?" Ujar Vernon setelah itu menutup matanya lagi.
Jawaban yang dikatakannya sangat terdengar klise untukku. Jika dia tidak menyukai bau rumah sakit, lalu kenapa dirinya berkuliah di jurusan kedokteran? Itu sangat aneh untukku.
"Vern, aku ingin membuka rumah sakit di Genoa, dan aku ingin kau yang mengurusnya. Tadinya Renata yang akan membuat rumah sakit di sana, tapi karena sekarang Genoa adalah wilayahmu, aku juga ingin membuka bisnis legal dengan membangun rumah sakit di sana."
Vernon yang masih menutup matanya tidak menanggapi perkataanku. Dirinya tidak bergeming sedikit pun dan terus bungkam. Entah karena saat ini dia sedang berpikir atau karena malas menjawabku.
"Sebenarnya ada apa?" Tanyaku berharap mendapatkan jawaban.
Aku mengerti apa yang dikatakan Vernon mengenai kartu AS untuk mengalahkan Arthur, itu adalah diriku. Namun mendengarnya terdengar sangat lucu, sepertinya Vernon lupa kalau aku tidak mencintainya. Akulah yang akan mengendalikannya dengan memanfaatkan kehamilanku.
"Vern, kalau begitu besok aku akan ikut bersamamu menemui Art, dan aku juga akan ke Genoa untuk membangun rumah sakit itu dengan tanganku sendiri." Ucapku dengan penuh keyakinan.
Vernon beranjak duduk dengan mendengus karena tidak mempercayai apa yang barusan aku katakan. Dia pasti tidak menyetujui perkataanku karena kondisi kehamilanku. Ya, itulah tujuanku berkata seperti itu. Mengancamnya agar dia mau mendengarkan perkataanku.
"Kenapa kau memaksa aku melakukannya?" Tatap Vernon. "Kau benar-benar memanfaatkan kehamilanmu untuk memaksa aku melakukan segalanya."
"Kemarinpun aku memang bilang seperti itu, kan?"
__ADS_1
Tatapan Vernon memancarkan sebuah rasa kekesalan menatapku saat ini. Sedangkan aku menatapnya dengan wajah penuh keyakinan kalau dia akan mengikuti semua keinginanku.
"Kakakmu terlalu memanjakanmu dengan menuruti semua keinginanmu selama ini."
"Itu sudah seharusnya dia lakukan, selain karena aku adalah adik perempuan yang sangat dia sayang, aku juga sudah menyelamatkan nyawanya dengan menjadi penebus dosanya padamu." Sebuah senyum angkuh aku perlihatkan pada Vernon. "Kau tahu Vern, ini bukanlah antara kau dan Arthur melainkan antara kau dan aku yang akan mengendalikanmu. Jadi, apa kau mau membangun rumah sakit itu untukku atau aku harus melakukannya sendiri?"
Tatapan Vernon semakin menajam padaku yang masih berbaring dengan senyum penuh percaya diri menunjukan bagaimana seorang wanita mampu mengendalikan dirinya yang selalu bersikap arogan.
"Sebaiknya ajukan lagi kepindahan kewarganegaraanmu karena kau membutuhkannya untuk membangun rumah sakit itu di Genoa. Dan apabila memungkinkan aku juga ingin pindah ke sana bersama denganmu." Ujarku setelah beranjak duduk dengan masih berbalut selimut.
"Apa maksudmu? Aku tidak akan pindah kemanapun karena aku juga berencana menguasai Sisilia, di mana kerajaan La Nostra berada. Aku akan menguasai perekonomian di Sisilia dan menyingkirkan Arthur segera mungkin."
"Itu mustahil Vern, keluargaku sudah terlalu lama memegang kendali perekonomian di Sisilia, Arthur menyokong semua pengusaha di Italia termasuk dari keluarga mantan tunangannya. Kau pun tahu kalau De Angelis adalah pengusaha terkaya di negara ini. Jadi jangan bermimpi untuk menyingkirkan La Nostra dalam sekejap, bahkan kau tidak bisa menangani pamanmu sendiri, Felipe Camorra. Setelah kau bisa menjadi pimpinan tertinggi di Camorra baru kau bisa bermimpi menyaingi Arthur. Bisa saja aku berbaik hati untuk membantumu. Semua tergantung dari dirimu apa mau mendengarkan perkataanku atau tidak."
Vernon menarik napasnya dengan dalam dan setelahnya membuangnya melalui mulut dengan kasar. Dia menatapku dengan kesal.
"Sepertinya kau lupa sesuatu, Viv." Seru Vernon memperlihatkan wajahnya yang serius. Aku tahu bagaimana rasa kesalnya memuncak setelah mendengarkan perkataanku yang terdengar seperti merendahkan dirinya. "Kau hanyalah tawananku, kau bukan kartu AS yang aku maksud. Jujur saja, bahkan sebenarnya aku sudah dapat memperkirakan apa yang akan kau lakukan untuk mencegah kepergianku."
"Apa maksudmu?" Aku tidak mengerti dengan perkataan Vernon. Dia mengatakannya dengan penuh percaya diri, tidak mau kalah dariku.
"Kau pikir aku akan menyerah semudah itu, dan pergi meninggalkan negara ini dengan kepala tertunduk?" Ujar Vernon setelah itu turun dari tempat tidur memakai kembali celana panjangnya. "Bahkan aku belum memulai langkah apapun untuk mencapai tujuanku. Sudah aku katakan, kau hanya penebus dosa kakakmu, kau hanya tawananku. Dan sepertinya kau mulai menikmati neraka yang aku ciptakan untukmu."
...–NATZSIMO–...
__ADS_1