
Tak ada yang mampu keluar dari bibirku untuk mengatakan apapun, aku hanya terdiam melihat pria yang paling tidak ingin aku lihat lagi di dunia ini menyeringai seperti ketika aku melihatnya pertama kali. Waktu ketika ia menculikku dan membawaku dengan mobilnya.
Kehadirannya di sini membuat aku tidak mengerti apa tujuannya. Sisa seminggu lagi kami akan resmi bercerai, aku pikir kami tidak akan pernah bertemu lagi, namun ternyata ia hadir dihadapanku dan membuat aku menjadi tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mau menyambut kedatangan suamimu? Apa kau tidak mau memelukku?" Tanya Vernon merentangkan tangannya padaku.
"Menyingkir darinya!!"
Terdengar suara Esteban dari balik tubuh Vernon. Saat ini pemuda itu menodongkan pistol pada Vernon, namun Vernon malah menyunggingkan senyumnya padaku yang masih terdiam.
"Angkat tanganmu ke atas dan berbalik!!" Seru Esteban lagi. "Nyonya, kemarilah."
Tiba-tiba muncul lima orang yang pastinya adalah anak buah Vernon yang memakai jas hitam di sekeliling Esteban, menodongkan pistol mereka pada pemuda itu. Akan tetapi beberapa orang yang jumlahnya tidak terhitung bahkan beberapa diantaranya memakai kostum karnaval menodongkan pistol juga ke arah Vernon dan anak buahnya. Aku yakin kalau mereka adalah pengikut nenekku, kelompok mafia Dranheta.
Melihat dirinya terkepung, Vernon tertawa kecil padaku. Sedangkan diriku masih terdiam dengan semua yang terjadi.
"Turunkan senjata kalian semua!!" Suara serak nenekku terdengar dari arah belakangku. "Tidak akan ada yang berani mengacungkan senjata mereka di Venesia, apa lagi saat cucuku ada ditengah-tengah kalian."
Semua orang Dranheta langsung menurunkan senjatanya, sedangkan Vernon juga memerintahkan anak buahnya melakukan hal yang sama.
"Nyonya kau tidak apa-apa?" Esteban yang tidak tahu siapa Vernon langsung menghampiriku dan memegang pundakku agar mengikutinya menjauh dari sana.
"Singkirkan tanganmu, bocah!!" Seru Vernon menepis tangan Esteban dari pundakku.
Untuk seseorang yang masih sangat muda, perlakuan Vernon membuat Esteban tersulut emosi. Ia langsung menatap Vernon dengan raut kekesalannya dan mengepalkan tangannya siap meninju Vernon.
__ADS_1
"Est!!" Seru nenekku.
Esteban menahan emosinya saat melihat tatapan nenekku dan langsung berdiri agak menjauh dari kami.
Vernon kembali menatap padaku yang sejak awal belum mengeluarkan suara sedikitpun. Apa yang ingin ia lakukan sekarang? Kenapa ia datang menemuiku? Bukankah ia sudah setuju untuk berpisah?
Nenek mengajak kami kembali ke rumahnya. Bahkan ia juga mengajak Vernon ke rumah bersama kami.
Esteban yang sudah diberitahu mengenai siapa Vernon masih memancarkan raut wajah kemarahan. Itu tidak heran, untuk pemuda yang masih sangat belia Vernon yang menepis tangannya membuat dirinya merasa dipermalukan di depan banyak orang.
"Mereka pasti akan menembakmu tadi, jangan mengeluarkan senjata saat di sini. Apalagi mereka tahu kalau kau Camorra." Seru nenek yang sedang membuatkan minuman untuk kami.
Vernon yang duduk dihadapanku terus menatapku tanpa pernah mengalihkan tatapannya, sedangkan aku lebih memilih menundukkan kepala, menghindari tatapannya. Si pemuda yang terlihat tidak suka dengan Vernon, melihat padanya terus dari tempatnya berdiri di ujung meja makan di mana aku dan Vernon duduk.
"Aku kira kalian tidak memiliki urusan lagi, tapi tidak aku sangka kau malah ke sini." Ujar nenek sambil meletakan secangkir teh panas untuk Vernon.
Nenekku tertawa kecil mendengar perkataan Vernon, membuat diriku tahu kalau nenek yang meminta Vernon datang ke sini. Ya, tampaknya itu sesuai dengan perkataannya kemarin yang tidak ingin aku bercerai dari Vernon.
"Sebenarnya kau tidak perlu memintaku, aku memang ingin datang ke Venesia untuk berbulan madu. Ya setidaknya saat akan berpisah kami harus berbulan madu karena setelah menikah kami belum melakukannya." Ucap Vernon dengan ciri khasnya. "Bukan begitu, Viv?"
Sejenak aku melihat padanya saat dirinya mengatakan hal-hal yang terdengar seperti lelucon itu, hingga aku mendengus tidak percaya dengan semua yang keluar dari mulutnya. Ia tidak serius mengatakannya, aku yakin itu.
"Baiklah, sebelum berpisah kalian harus mengobrol sebentar. Setidaknya katakan salam perpisahan yang akan membuat kalian berdua semakin saling membenci." Seru nenek dengan sebuah senyum. "Ayo Est, ini bukan urusan bocah sepertimu."
Esteban menatap pada aku dan Vernon sebelum dirinya melangkah pergi mengikuti nenekku keluar dari rumah.
__ADS_1
Tinggallah aku dan Vernon di meja makan yang hanya memiliki enam kursi yang mengelilinginya. Sejujurnya sudah tidak ada lagi yang ingin aku katakan pada Vernon, jika bisa aku tidak ingin berbicara dengannya saat ini ataupun seterusnya.
"Bagaimana kebebasan yang aku berikan padamu? Sepertinya kau sangat menikmatinya, Viv. Kau terlihat bahagia sekarang." Ujar Vernon menyunggingkan senyumnya kearahku yang menunduk.
Dengan lirikan tajam aku melihat pada Vernon, namun tetap aku tidak ingin mengatakan apapun padanya.
"Ya, kau menikmati kebebasanmu dengan selalu tertawa dengan bocah itu. Kau tahu? Itu tidak bagus untukku." Ucap Vernon tidak memudarkan senyum yang lebih terlihat seperti sebuah seringai. "Kakiku tertembak dan tidak bisa jalan selama berbulan-bulan... Aku harus berada lama di tempat yang paling tidak aku suka, dan aku juga kehilangan anakku. Tapi kau malah menikmati semuanya tanpa terlihat sedikitpun bersedih. Kau memang wanita yang mengerikan."
Mendengar ocehan Vernon aku lebih memilih memalingkan wajahku ke samping dengan menahan rasa kesalku saat ini. Ia mengatakan semua itu dengan mudahnya. Bagaimana aku tidak merasa sedih karena kehilangan anak kami? Membahasnya saat ini pun rasanya aku ingin menangis.
"Jika kau bisa menjaganya dengan baik, seharusnya bulan depan anak itu lahir. Bukan begitu?"
"Sebenarnya apa maumu dengan datang ke sini? Katakan saja semuanya secara langsung dan jangan mengatakan hal-hal yang tidak penting." Akhirnya aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan apapun.
Perkataannya terdengar sudah sangat keterlaluan. Aku juga sering memikirkan hal tersebut. Jika semua berjalan dengan baik hanya tersisa bulan depan aku akan melahirkan. Namun semuanya berjalan sangat buruk, membuat hal itu tidak akan pernah terjadi. Semua penyesalan itu selalu aku rasakan meski aku selalu berusaha untuk tidak bersedih.
"Aku tidak ingin kau bahagia setelah semua yang terjadi pada anakku." Ujar Vernon dengan tatapan tajam. "Setelah aku memberikan kebebasan padamu, sekarang waktunya untukmu menebus semua dosa itu."
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak bisa menjaga anakku hingga aku kehilangannya. Karena itu aku ingin kau menebus semua kesalahanmu itu." Jawab Vernon bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat padaku. "Kau sudah berdosa karena tidak bisa menjaga anakku. Kau harus menebus dosa itu dengan hidup jauh lebih menderita lagi di dalam kekanganku." Vernon berdiri dibelakangku dan mencondongkan badannya hingga kepalanya berada di sebelah kanan kepalaku yang masih duduk.
Aku menutup mataku karena tahu apa yang diinginkan oleh Vernon adalah sesuatu yang akan membuat aku menjadi goyah dengan keputusan diriku untuk berpisah dengannya.
"Aku menyetujui keputusanmu saat kau bilang kita akan berpisah setelah kau melahirkan anakku, tapi yang terjadi anak itu tidak lahir, lalu kenapa aku harus membebaskanmu?" Bisik Vernon. "Aku akan memberikan kebebasan padamu jika kau melahirkan anakku. Kita tidak akan berpisah hingga itu terjadi, istriku tersayang." Lanjut Vernon setelah itu mendaratkan kecupannya ke sisi keningku.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...