PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
SUATU KEBENARAN


__ADS_3

Sepuluh tahun lalu aku mendengar Vegard bersama seorang wanita berada di kamar sedang merencanakan sesuatu. Tidak, lebih tepatnya wanita itu meminta bantuan pada Vegard untuk melancarkan rencananya yang aku tidak tahu apa itu. Saat itu Olivia bersamaku. Aku tahu ia mengetahui mengenai semuanya, tapi kenapa sepertinya Olivia bersikap seolah-olah tidak tahu apapun?


"Kenapa kau diam saja, Oliv? Katakan padaku apa tujuan wanita itu?' Tanyaku.


Olivia masih diam saja namun ia menatap padaku. Dari tatapannya aku bisa melihat sesuatu hal yang ia sembunyikan.


Jika dirunut, semuanya tampak seperti rangkaian puzzle yang masih belum semuanya tersambung. Tujuan si wanita itu aku yakin adalah sesuatu hal yang buruk karena itu aku terlihat marah hingga mencoba membunuhnya. Tapi kenapa Olivia malah menyembunyikannya?


Wanita itu meminta bantuan pada Vegard dengan syarat wanita itu harus bercinta dengannya dan mereka melakukannya. Aku sadar ternyata waktu Vegard bilang kalau aku dulu memintanya untuk membunuh seseorang dengan syarat aku bercinta dengannya, semua itu adalah kebohongan.


Yang benar adalah wanita itu yang meminta Vegard untuk melakukan sesuatu dengan Vegard memberinya syarat itu. Aku mengetahuinya karena itu aku menghujani mereka tembakan saat mereka bercinta. Aku marah tetapi kenapa Olivia tidak?


"Apa wanita itu ingin membunuhku?" Tanyaku pada Olivia. "Apa kau diam saja karena kau pun ingin aku mati? Ya, tampaknya memang seperti itu, kau ingin aku mati karena Alec menyukaiku. Jika aku mati tidak akan ada halangan lagi antara kau dan Alec. Jawablah Oliv, apa wanita itu ingin membunuhku? Apa Wynetta ingin membunuh aku waktu itu?"


"Tidak, dia tidak ingin membunuhmu." Jawab Olivia dengan menarik tatapannya dariku. "Dia berniat bunuh diri dengan seolah-olah kau yang membunuhnya. Dia yang membuat kecelakaan itu dengan sengaja."


"Ya kau benar. Dia melakukannya dan kau membantunya juga dengan tidak mengatakan hal tersebut pada siapapun karena yang terjadi setelah itu aku kehilangan ingatanku mengenai segalanya. Tapi rasanya ada yang aneh." Ucapku berjalan ke samping tempat tidur Olivia untuk lebih mendekati dirinya. "Apa tujuan dia yang sebenarnya, Oliv? Kenapa dia melakukan itu semua?"


"Aku tidak tahu." Jawab Olivia menundukan kepalanya. "Pergilah, Viv. Aku tidak ingin mengatakan apapun lagi."


Akhirnya aku memilih kembali ke kamarku untuk memikirkan semua yang terjadi, walau kepalaku masih terasa sakit karena efek pengar semalam.


Bagaimana aku mengingat mengenai kecelakaan yang pada awalnya aku kira adalah kesalahanku. Pada kenyataannya Wynetta lah yang membuat kecelakaan itu dengan menjadikan dirimu pelakunya. Seperti yang dikatakan Olivia, semua itu direncanakan olehnya untuk bunuh diri.


Namun rasanya ada yang aneh. Tetap saja itu adalah sesuatu yang mustahil jika dirinya bunuh diri seperti itu. Lalu apa alasan yang sebenarnya?

__ADS_1


Aku kembali keluar dari kamar setelah beristirahat sekitar dua jam, Esteban masih berada di luar pintu kamar menungguku.


"Est, kau tahu di mana Vegard?" Tanyaku saat keluar kamar.


"Sepertinya setengah jam lalu tuan Vegard masuk ke kamarnya nyonya." Jawab Esteban. "Kau ingin menemuinya, nyonya?"


Secepatnya aku berjalan menuju kamar Vegard berada. Mengetuk pintunya dengan tidak sabar agar ia segera membuka pintunya hingga berkali-kali aku mencoba membuka kenop pintu namun pintu tidak terbuka karena ia menguncinya.


"Ada apa? Kenapa kau tidak sabaran?" Tanya Vegard setelah membuka pintu kamarnya hanya dengan handuk yang menutupi bagian bawah.


Kepalan tanganku langsung mendarat ke wajahnya. Aku memukulnya untuk kebohongannya mengenai diriku yang memintanya untuk membunuh seseorang seperti katanya waktu itu.


Vegard mengusap wajahnya di mana aku memukulnya. Bibirnya juga tersungging sebuah senyuman.


"Kenapa kau berbohong padaku? Kenapa waktu itu kau bilang aku memintamu untuk membunuh seseorang dengan syarat kau meminta bercinta denganku?" Aku mendengus sangat kesal menatap kecut pada Vegard. "Yang terjadi adalah yang sebaliknya kan? Kau yang membantu wanita itu, ah, maksudku Wynetta. Wanita yang bercinta denganmu di kamar itu."


"Sekarang katakan padaku, apa tujuan wanita itu melakukannya?" Tanyaku dengan penasaran.


"Tujuan wanita apa?" Vegard masih berusaha untuk menyembunyikan semuanya dariku. "Apa yang kau katakan, Viv?"


"Sudahlah, tidak usah berusaha untuk menutupi semuanya. Wynetta berencana membuat suatu kecelakaan dengan menjadikan aku kambing hitam dengan seolah-olah kecelakaan itu adalah diriku penyebabnya. Tapi apa tujuannya dia melakukan itu?" Tanyaku. "Jangan menyembunyikan apapun lagi sekarang, Veg. Lagi pula Wynetta sudah lama mati kan? Katakan semuanya padaku."


Entah kenapa Vegard malah tertawa mendengar semua perkataanku padanya. Tampaknya ada sesuatu yang dirinya sembunyikan saat ini, dan aku sepertinya bisa menduga apa itu.


Tiba-tiba terdengar keributan di lantai satu. Terdengar suara Vernon yang memberikan instruksi pada anak buahnya. Aku segera bergegas menuju tangga dan turun ke lantai satu.

__ADS_1


Baru saja Vernon masuk ke dalam ruang kerjanya dengan anak buahnya menggiring Alec ikut masuk ke dalam sana. Melihatnya, aku menyunggingkan senyumanku karena sepertinya dugaanku benar.


Secepatnya aku menuruni tangga dengan Esteban yang mengikuti aku dari belakang.


Dengan sangat cepat aku mendorong pintu yang hendak ditutup dan berjalan masuk ke ruangan kerja Vernon, Esteban masih mengikutiku dari belakang. Aku masih bisa melihat dengan jelas figura di mana foto Wynetta masih terpasang, Ya, Vernon tidak akan pernah menurunkan figura wanita itu selamanya. Aku juga tidak ingin peduli.


Kehadiranku langsung jadi perhatian siapapun yang ada di ruangan tersebut. Mereka menatapku dengan berbagai macam ekspresi. Terutama Vernon yang menunjukkan raut wajah marah sedangkan Alec terlihat menatapku dengan penuh ketakutan.


"Viv, kenapa kau melakukan ini?" Tanya Alec. "Kau menyuruhku untuk bersembunyi di Arthur kan? Apa kau juga yang memberitahunya kalau aku berada bersamanya?"


"Lepaskan dia Vern!!" Seruku. "Kau tidak bisa membunuhnya. Aku tidak akan membiarkan kau membunuhnya."


"Kenapa? Apa kau masih ingin bercinta dengannya?" Tanya Vernon dengan tatapan tajam. "Apa kau tidak rela kehilangannya?"


"Anggap saja seperti itu." Jawabku setelah itu berjalan mendekati Alec. "Alec, aku tidak akan membiarkanmu mati, sebagai gantinya, aku ingin kau menceritakan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu."


Alec menatapku dengan terkejut. Namun aku memberikan sebuah senyuman padanya agar ia mau mendengarkan perkataanku.


"Katakan padaku apa alasan aku menembaki dua orang di kamar itu dan siapa saja mereka berdua?" Tanyaku.


Saat yang bersamaan Vegard datang dan sepertinya dirinya mendengar pertanyaan yang aku ajukan pada Alec hingga pria itu menghentikan langkahnya saat baru selangkah masuk ke dalam pintu. Wajahnya terlihat tegang saat ini.


"Maksudku, katakan padaku siapa wanita yang bersama dengan Vegard di kamar itu? Siapa wanita yang aku tembak? Ah, katakan apa yang mereka lakukan di dalam kamar itu, Alec?" Tanyaku sejenak menoleh pada Vegard, Alec dan terakhir pada Vernon.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1



__ADS_2