PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
INILAH AKIBATNYA


__ADS_3

"Jangan mempermainkan aku!! Menyingkir dariku!!" Seruku dengan sangat dingin. "Kau pasti sedang mabuk."


Tiba-tiba Vernon tertawa mendengar seruanku yang sangat dingin. Dia menatapku dengan sebuah seringai.


"Dalam hidupku, aku tidak pernah benar-benar mabuk." Jawab Vernon dengan tatapan dingin. "Dengarkan perkataanku, sebaiknya kau meminta kakakmu untuk tidak ikut campur dan menghalangiku membuka klub malam di Genoa. Aku sudah sangat bersabar karena dia terus saja menghalangi langkahku."


"Aku rasa itu bukan urusanku." Ucapku dengan tatapan menantang pada Vernon. "Jangan mengancamnya dengan menggunakan diriku kalau kau tidak bisa mengalahkan Arthur. Itu terlihat sangat buruk untukmu."


Sekali lagi Vernon tertawa mendengar perkataanku. Matanya menjadi menajam dan terlihat siratan rasa dingin yang membuatku menjadi sedikit takut.


"Kau dan Arthur sama saja. Kalian berdua adik kakak memang sama sejak dulu." Tatap Vernon.


"Sekarang aku bisa lihat bagaimana kau membenci Arthur hanya karena dirimu tidak bisa mengalahkannya. Kau iri padanya kan? Wynetta adalah tunangan Arthur dulu. Itu yang menyulut rasa irimu karena kakakku memiliki wanita yang kau cintai sebagai tunangannya." Ujarku dengan menunjukan tatapan merendahkan Vernon. "Kau sangat kasihan, Vern."


"Kau tidak tahu apapun!!"


"Kau juga bukan anak kandung keluarga Skjoldbjærg. Sepertinya keluargamu juga akan membuangmu karena itu kau ingin mengubah kewarganegaraanmu kan?" Lanjutku dengan dingin. "Kau sangat menyedihkan, wanita yang kau cintai bukan milikmu, bahkan sepertinya dia juga mengkhianatimu dan keluargamu, ah tidak... kau tidak punya keluarga, satu-satunya hal yang baik saat ini adalah pamanmu masih mau memanfaatkanmu. Tapi sepertinya suatu saat ketika dia tidak membutuhkanmu lagi, dia juga akan membuangmu."


"Viv, kau tidak tahu apapun." Seru Vernon yang berbicara dekat di depan wajahku.


"Apa yang tidak aku tahu?"


"Tapi seharusnya kau juga berpikir sesuatu, Viv." Ucap Vernon, bibirnya tersungging sebuah senyum skeptis. "Kau adalah istriku, saat hal buruk terjadi padaku, itu juga akan terjadi pada hidupmu."


"Tidak, kau salah." Jawabku. "Aku akan meninggalkanmu saat sesuatu yang buruk terjadi padamu."


"Sayangnya, tidak akan ada hal buruk yang terjadi padaku." Vernon menyeringai dingin padaku.

__ADS_1


Dari tatapannya aku bisa melihat kalau yang diucapkannya adalah sesuatu hal yang mungkin saja benar karena dia mengatakannya dengan sangat penuh keyakinan. Matanya menyiratkan rasa percaya dirinya.


"Sepertinya kau sudah sembuh." Ujar Vernon memegang tengkukku dengan tangan kirinya. "Kau adalah istriku."


Belum sempat aku menjawab ucapannya, Vernon lebih dulu menciumku dengan penuh nafsu yang bergairah. Aku sangat yakin kalau saat ini Vernon sedang setengah mabuk walaupun dirinya masih sepenuhnya tersadar.


"Hentikan, Vern!!" Seruku mendorong Vernon hingga dia berhenti.


Namun Vernon memperlihatkan senyum bodohnya dan setelah itu menciumku kembali. Kali ini Vernon lebih memaksa saat menciumku. Bahkan aku yang duduk bersandar ke tempat tidur ditariknya ke bawah hingga aku berbaring.


Aku sedang tidak ingin menanggapi permainannya sehingga aku berusaha untuk lepas darinya yang mulai mencumbuku. Aku melayangkan tamparanku dengan sangat keras ke wajah Vernon hingga dia berhenti dan menatapku dengan sangat dingin.


"Pergilah Vern, aku sedang tidak ingin meladenimu. Aku juga merasa luka di perutku masih terasa sakit." Ucapku berharap Vernon mengerti.


Tanpa kata Vernon memegang kedua tanganku dan mengangkatnya ke atas kepalaku dengan tangan kirinya lalu tangan satunya merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah dasi. Melihatnya aku tahu apa yang hendak dia lakukan padaku.


Dengan sekuat tenaga aku mencoba lepas dari cengkraman tangan kirinya yang menahan kedua tanganku yang berada di atas kepalaku. Vernon tidak membiarkan aku lepas dengan sangat keras dia memegangi kedua tanganku dengan tangan kanannya mulai mencoba mengikat kedua tanganku dengan dasi yang dipegangnya.


"Lepaskan aku, Vern!!" Seruku, ketakutan sudah menyelimutiku ketika Vernon selesai mengikat kedua tanganku dan terus memegangi tanganku berada di atas kepala. "Kau tidak perlu mengikatku, bodoh!!"


"Aku tidak ingin kau menamparku lagi." Ucap Vernon berbisik dibalik cuping telingaku. "Aku sedang ingin melakukannya denganmu jadi kau menurut saja."


"Karena itu aku bilang lepaskan aku!! Lukaku masih belum sembuh, Vern. Ini terasa sakit sekarang."


"Aku tidak peduli." Jawab Vernon memperlihatkan seringaiannya ketika dirinya sudah berada di atas tubuhku.


Melihatnya, membuat aku sadar kalau Vernon bersungguh-sungguh dengan apa yang dilakukannya. Sepertinya perkataanku tadi sudah membuatnya sangat marah. Aku menjadi takut saat ini, selain karena rasa sakit yang berasal dari lukaku, Vernon juga tidak akan mendengarkan perkataanku maupun ketakutanku.

__ADS_1


Vernon mulai mencumbuku dengan membuka pakaian yang aku kenakan. Aku terus memohon agar Vernon melepaskan aku namun perkataanku tidak ada yang didengar, bahkan Vernon juga tidak memedulikan rasa sakit di perutku.


"Vern, setidaknya lepaskan tanganku dulu, ini sangat sakit." Ucapku saat Vernon menatapku seraya membuka pakaiannya. "Aku tidak akan menghentikannya. Kita bisa bercinta—"


"Anggap saja ini hukuman untuk semua perkataanmu tadi." Ucap Vernon dingin sambil melebarkan kakiku dan dia mulai mendekati tubuhku.


Dengan sengaja Vernon memegang luka yang ada di perut kiriku dengan sambil memasukan benda miliknya ke dalam selangkanganku. Aku meringis kesakitan karenanya tetapi Vernon langsung meraup bibirku, menciumku dengan penuh nafsu hingga rasanya aku menjadi sulit bernapas saat ini. Tanpa sadar air mata pun mengalir keluar karena tidak bisa menahan rasa sakit yang berasal dari perutku.


Vernon sama sekali tidak memedulikan diriku dan terus saja mendesak miliknya masuk ke dalam dan membuat rasa sakit di perutku semakin terasa, bahkan dia bergerak dengan sangat cepat hingga rasa sakit dan kenikmatan yang aku rasakan membuatku menjadi takut.


"Viv, kau harus berjanji padaku, kau harus mendengarkan semua perkataanku. Inilah akibatnya jika kau tidak mendengarkan perkataanku." Bisik Vernon. "Jangan permainkan aku juga."


Sekali lagi Vernon meraup bibirku setelah mengatakan hal tersebut. Aku masih meringis kesakitan karena Vernon masih tidak menghentikan aksinya dan terus menciptakan rasa sakit pada tubuhku.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar walaupun begitu Vernon masih terus menggerakan pinggulnya dan malah semakin dalam memasuki liang milikku. Bahkan Vernon pun terus mencium bibirku.


"Tuan, Arthur Dellinger La Nostra sudah datang." Seru seseorang yang merupakan anak buah Vernon dari luar pintu.


Vernon melepas ciumannya dan semakin cepat menggerakan pinggulnya hingga aku bisa merasakan sesuatu yang hangat memenuhi diriku. Setelahnya dia tersenyum padaku yang menatapnya dengan rasa takut bercampur kemarahan atas perlakuannya terhadapku.


"Suruh dia ke sini!!" Jawab Vernon sambil melepaskan dasi yang mengikat lenganku dengan masih berada di atas tubuhku. "Sepertinya kakakmu merindukanmu, sayang."


Aku langsung menamparnya sekuat tenaga, namun Vernon menyunggingkan senyumannya dan kembali mendekatkan wajahnya padaku yang masih berbaring.


"Aku mencintaimu, Viv." Ucap Vernon setelahnya mengecup pipiku.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2