PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
GAMBARAN INGATAN


__ADS_3

Vernon mencium diriku yang berada dipangkuannya. Kenapa dia melakukannya? Ini sangat membuat aku kesal. Dengan sangat kuat aku mendorongnya agar menghentikan ciumannya.


Dia melepasku dengan meringis karena rasa sakit dari luka tembak yang ada di pundak atas sebelah kiri. Aku langsung bangkit berdiri dengan sangat kesal.


"Kenapa dalam keadaan seperti ini kau masih seperti itu padaku?" Geramku sangat kesal dan tidak habis pikir. "Sialan kau, Vern!!"


Setelah berkata seperti itu dengan sangat marah, aku berjalan keluar dari kamar, dan menuruni tangga. Vegard yang sedang duduk di sebuah sofa dengan handphone di tangannya menoleh pada kehadiranku.


"Viv, duduklah, kita bisa berbincang sebentar." Seru Vegard.


Jujur saja aku malas menanggapi dirinya dan lebih memilih keluar rumah untuk mencari udara segar. Namun siapa sangka, Vegard mengikutiku yang berjalan ke taman.


"Kau sama sekali tidak ingat aku, Viv?"


Pertanyaan Vegard membuat aku berhenti berjalan dan menoleh padanya ketika aku hampir sampai di sebuah teras di taman.


Vegard tersenyum padaku memperlihatkan kerutan-kerutan di sekitar bibirnya yang menandakan berapa seringnya dia tersenyum. Tapi aku tidak mengerti mengenai perkataannya. Apa maksudnya? Ini kedua kalinya dia bilang seperti itu padaku.


"Sepertinya kau memang tidak ingat."


"Apa maksudmu, Veg?" Tanyaku dengan mengerutkan dahi karena tidak mengerti dengan ucapannya.


"Kau tahu, semua yang aku katakan padamu kemarin itu adalah benar." Jawab Vegard yang berdiri di jarak dua meter dariku. "Seharusnya kau menikah denganku."


Mendengarnya aku menyunggingkan tawa tidak percaya. Apa maksudnya aku menikah dengannya? Kenapa dia berpikiran seperti itu?


"Sepertinya kau tidak tahu, seharusnya kita bertunangan saat usiamu 17 tahun. Itu berarti tujuh tahun lalu."

__ADS_1


"Veg, jangan membual." Seruku tidak mempercayai perkataannya. "Kenapa aku harus bertunangan denganmu? tujuh tahun lalu? Itu sudah sangat lama, jika yang kau katakan benar, lalu kenapa tidak terjadi? Kau pasti membual kan? Aku tidak heran, sudah banyak pria yang berkata seperti itu padaku sebelumnya."


Vegard tertawa mendengar ocehanku. Aku tidak mengerti dibagian mana dari perkataanku yang membuatnya tertawa. Aku rasa apa yang aku katakan bukanlah sebuah lelucon karena semua itu kenyataan. Sebagai anak perempuan dari keluarga mafia terbesar di negara ini, banyak sekali pria yang mencoba mendekatiku dengan cara mengelabuhiku, bahkan pada awalnya aku mengira Vernon juga salah satu dari mereka.


Tiba-tiba Vegard berjalan mendekatiku dan langsung mencium bibirku dengan tangannya yang menahan diriku agar tidak melepaskannya. Namun dengan sekuat tenaga dan segenap jiwa aku mendorongnya lalu mendaratkan kepalan tangan kananku ke wajahnya.


"Jangan berani macam-macam padaku!! Kenapa kau melakukannya?" Kesalku sambil mengusap bibir bekas ciuman Vegard. "Sialan kau, brengsek!!"


Anehnya pria itu malah tertawa melihat rasa kesalku dan itu membuat aku semakin kesal hingga diriku malas menanggapinya dan lebih memilih meninggalkan Vegard dan berjalan kembali memasuki rumah untuk masuk ke kamar.


Saat sampai di kamar, Vernon tidak ada di tempat tidur. Aku tidak tahu dimana dia, di luar tadi pun dia tidak ada. Pergi kemana dia?


Karena lelah aku memilih naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhku, namun belum sempat aku memejamkan mata, handphone yang aku letakan di meja samping tempat tidur bergetar. Sesya menelepon.


"Viv, kau baik-baik saja kan? Kau tidak terluka kan?" Suara Sesya terdengar sangat khawatir. "Aku baru saja mendengar kabar mengenai penembakan itu.


"Bagaimana Vernon? Dia tertembak kan? Apa lukanya parah?"


"Dia juga baik-baik saja."


"Syukurlah." Ucap Sesya menghela napas. "Sekarang kau di mana? Aku akan melihat keadaanmu. Apa masih di rumah sakit?"


"Kami sudah pulang ke rumah." Ujarku. "Ses, hari ini aku sudah lelah. Kau bisa datang besok."


Selesai menerima telepon dari Sesya aku mencoba menutup mata. Akan tetapi aku kembali teringat pertanyaan dua orang yang terasa aneh tadi. Renata dan Vegard. Kenapa mereka bertanya seperti itu?


Aku kembali mengingat apa yang ditanyakan Renata. Satu hari setelah perayaan ulang tahunku yang ke 14 tahun. Kenapa aku menjadi merasa aneh? Yang aku ingat hanya perkataan kedua orang tuaku dan Arthur. Beberapa bulan setelah ulang tahunku itu mereka memperlihatkan foto-foto saat perayaan ulang tahunku. Bahkan aku teringat dengan wanita bernama Wynetta dan Olivia karena mereka ada di foto-foto tersebut. Mereka juga bercerita malam hari setelah perayaan usai kedua orang tuaku mengajakku ke rumah kakek dan menginap di sana selama tiga bulan.

__ADS_1


Berarti satu hari setelah hari perayaan ulang tahunku itu aku berada di rumah kakekku di Venesia. Masalahnya sekarang kenapa aku tidak mengingat apapun mengenai semua itu? Yang ada di kepalaku hanyalah ucapan kedua orang tuaku dan foto-foto yang diperlihatkan mereka padaku. Tak ada satupun gambaran ingatan yang benar-benar aku ingat sekarang. Hal ini menjadi membuat kepalaku sakit karena berusaha mengingatnya.


Karena kesal aku membuang napas dengan sedikit berteriak. Ini membuat aku kesal karena ingatanku hanya sebatas ucapan-ucapan kedua orang tuaku saja. Apa karena hal tersebut sudah berlalu sangat lama sehingga tak ada satu pun hal yang aku ingat?


Perkataan Vegard kembali ku pikirkan. Bertunangan dengannya 7 tahun lalu? Bahkan aku belum pernah bertemu dengannya bagaimana mungkin aku bertunangan dengannya? Tapi sebenarnya itu mungkin saja, karena aku pun baru bertemu Vernon tiga hari sebelum kami menikah. Namun perkataannya mengenai aku yang tidak mengingatnya mengusik pikiranku. Tidak mungkin aku tidak mengingat pria eksentrik seperti Vegard.


Sekali lagi aku membuang napas dengan teriakan yang sedikit lebih besar dari sebelumnya karena kepalaku semakin menjadi sakit saat ini


Tiba-tiba pintu ruangan pakaian terbuka dan muncul Vernon. Aku tidak mengira kalau ternyata dia ada di tempat itu. Sejenak Vernon menatapku, akupun melihat padanya. Entah kenapa sepertinya aku merasa kalau Vernon baru saja mengeluarkan air matanya karena matanya memerah saat ini.


"Aku pikir kau keluar." Ucapku saat Vernon berjalan masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan membantingnya. "Ada apa dengannya?"


Tanpa sadar aku tertidur hingga malam menjelang. Ketika aku membuka mata, yang aku lihat adalah wajah Vernon tepat di depan wajahku. Dia sedang tertidur, dan bahkan tangannya memelukku.


Sejenak aku menatapnya karena sepertinya aku sedikit tersihir karena wajah tampannya. Ini terasa aneh, sebelumnya aku membencinya setengah mati karena sikap arogannya padaku, tapi sekarang, bahkan aku membiarkannya memelukku ketika tidur. Sikap Vernon juga selalu membuat aku bingung. Dia selalu menatapku dengan benci dan memperlakukanku dengan kasar, namun tidak jarang aku merasa sikapnya berbeda dan ditambah perkataannya yang terdengar tidak mungkin diucapkan olehnya padaku.


Kerongkonganku terasa kering saat ini. Aku berniat bangun untuk meminum air. Dengan segera aku berusaha menyingkirkan lengan Vernon yang melingkari tubuhku. Namun Vernon malah semakin erat mendekapku. Dia tidak membiarkan aku menyingkir dari dekapannya.


"Wyn..."


Ucapan Vernon membuat aku kembali menatap wajahnya. Dia memanggil wanita itu dalam tidurnya. Apa dia menganggapku adalah wanita itu? Wanita yang dicintainya?


Tiba-tiba Vernon terhentak hingga beranjak duduk. Napasnya terengah-engah. Dia menoleh padaku dengan tatapan yang terlihat bingung. Walau gelap aku bisa melihat air mata membasahi matanya.


"Wynetta..." Sebut Vernon ketika melihat padaku.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2