
Sebulan berlalu begitu sangat cepat, dan selama itu juga aku berada di Castelluccio, tempat di mana Esteban berasal. Setiap hari aku akan menghabiskan waktu di sebuah taman bunga yang terlihat warna-warni dengan bunga poppy, violet, dan rapeseed menghiasinya.
"Nyonya, makanlah roti-roti ini." Seru Linda adik perempuan Esteban meletakkan keranjang berisi roti.
Esteban memiliki dua orang adik perempuan yang berusia 14 dan 10 tahun bernama Linda dan Darla. Mereka berdua yang selalu menemaniku ketika aku berada di taman.
Hari sudah siang saat ini. Sejak pagi aku hanya duduk di pinggir taman menikmati pemandangan yang sangat jarang aku lihat. Aku menjadi tidak doyan makan sejak sebulan lalu. Aku tahu ada sesuatu di dalam tubuhku saat ini.
"Nanti aku akan memakannya." Jawabku pada Linda.
"Makanlah nyonya, kau memuntahkan sarapanmu tadi pagi. Est memintaku agar memastikan nyonya mengisi perut nyonya selalu." Ujar Linda. "Darla, kemarilah!!" Seru Linda yang memanggil adiknya yang sedang bermain di taman.
"Lin, kemana Esteban?" Tanyaku melihat pada Linda yang masih berdiri di sampingku.
"Dia bilang tadi akan ke pasar. Tapi ini sudah tiga jam dan dia belum kembali." Jawab Linda. "Cuci tanganmu dulu." Linda mengambil botol minuman dan menuangkan ke tangan Darla yang menghampiri kami.
Darla langsung mengambil roti yang ada di keranjang dan menyodorkannya padaku.
"Makanlah nyonya, bayi yang ada di perutmu pasti sudah lapar." Ucap Darla meletakkan roti yang disodorkan padaku ke dalam tanganku.
"Terimakasih." Kataku dengan sebuah senyum.
Ya, sepertinya aku memang hamil lagi saat ini. Aku belum memeriksanya namun semua yang aku rasakan seperti waktu ketika aku hamil dulu. Tampaknya sewaktu aku jatuh mabuk aku bercinta dengan Vernon dan menyebabkan aku hamil anaknya, lagi.
Aku tidak yakin apakah itu hal yang bagus atau buruk. Aku sudah tidak ingin bertemu lagi dengannya, dan bahkan setelah kepergianku ke sini Vernon tidak menghubungiku. Tapi aku akan tetap melahirkan anaknya.
"Roti ini sangat enak kan, nyonya?" Tanya Darla yang duduk di sampingku. "Est sangat mahir membuat roti."
Aku mengangguk dengan senyuman menanggapi perkataan gadis kecil di sampingku.
"Nyonya, sebaiknya kita pulang sekarang. Nyonya harus banyak istirahat." Seru Linda.
"Benar nyonya, bayi-bayi di perutmu sudah sangat lelah." Tambah Darla memegang perutku dengan mengusapnya.
Entah bagaimana gadis kecil itu sejak awal mengatakan kalau ada bayi di perutku ketika kami bertemu. Bahkan saat ini perkataannya membuatku merasa heran.
"Bayi-bayi?" Tatapku agak mencondongkan tubuhku agar sejajar dengan Darla untuk berbicara dengannya.
Darla mengangguk mantap dengan sebuah senyum memperlihatkan salah satu gigi depannya yang ompong. Lalu setelahnya mengigit roti miliknya.
__ADS_1
"Tidak usah di dengarkan apa katanya, nyonya. Dia selalu berbicara sesukanya." Seru Linda. "Ayo nyonya, kita kembali ke rumah. Esteban pasti sudah pulang."
Aku menuruti perkataan Linda dan segera beranjak dari duduk. berjalan menyusuri area taman bunga yang berwarna-warni. Tempat ini benar-benar sangat indah, tidak menyesal diriku datang ke sini.
"Nyonya..." Panggil Esteban yang agak berteriak. Ia baru saja turun dari sebuah mobil Jeep di jarak sekitar seratus meter.
"Apa Est menjemput kita?" Tanya Darla.
"Ya, sepertinya begitu." Jawabku menoleh pada Darla yang juga menatapku.
"Siapa yang bersamanya?"
Pertanyaan Linda membuat aku kembali melihat arah Esteban yang masih berada sangat jauh itu. Jantungku langsung kelu hingga aku menghentikan langkahku ketika melihat seseorang turun dari mobil.
"Nyonya mengenalnya?" Tanya Linda.
Vernon datang bersama Esteban. Bagaimana bisa Esteban membawanya kesini tanpa meminta ijinku sebelumnya? Dan mau apalagi Vernon menemuiku? Aku pikir ia sudah hidup bahagia bersama dengan Wynetta wanita yang sangat dicintainya.
Bersama dengan Vernon, aku kembali duduk di kursi yang tadi aku duduki di taman.
Keheningan sejenak menyelimuti kami. Kalau bisa aku tidak ingin mengatakan apapun pada Vernon. Dan aku juga tidak akan mendengarkan apapun yang akan ia katakan. Setelah aku keluar lagi dari rumahnya, aku sudah menganggap semuanya telah berakhir.
"Bocah itu menghubungiku dia mengatakan kalau kondisimu sedang tidak terlalu baik. Tapi sepertinya kau baik-baik saja." Ujar Vernon akhirnya mengeluarkan suara.
Namun dengan cepat Vernon memegang lenganku, lalu ia pun berdiri.
"Apa benar kau sedang hamil lagi?" Tanya Vernon membuat aku menoleh padanya, menatapnya.
"Tidak. Aku tidak hamil. Sudah aku bilang aku tidak ingin punya anak denganmu. Sekarang pergilah. Jangan ganggu hidupku lagi. Aku sudah muak dengan semuanya." Ucapku setelah itu menepis tangannya.
Secepatnya aku berjalan pergi menuju di mana Esteban dan kedua saudaranya menunggu kami di mobil Jeep yang jauh di sana.
Sekarang aku menjadi kesal pada Esteban. Kenapa dia memberitahu masalah kehamilanku pada Vernon? Aku kira pemuda itu tidak menyukai Vernon.
Aku berharap Vernon segera pergi dan tidak datang lagi menemuiku. Walaupun aku benar hamil namun aku akan membesarkan anakku sendirian dan tidak ingin Vernon mengetahuinya. Aku rasa itu balasan atas rasa muakku padanya.
Tiba-tiba Vernon menarikku dengan cepat hingga aku berbalik padanya dan langsung memelukku. Aku mencoba mendorongnya, namun ia seperti tidak ingin melepasku dan malah mendekapku sangat erat.
"Dengarkan Viv, semua tidak seperti yang kau kira." Ujar Vernon. "Semua sudah aku ketahui sebelumnya saat kau kembali ke rumahmu dan ketika kau hamil. Art selalu mengatakan padaku mengenai Wynetta namun aku sama sekali tidak pernah percaya sampai aku menyelidikinya sendiri. Dan ternyata benar, sejak awal dia mengkhianatiku. Mengenai foto itu, aku sengaja tidak menyingkirkannya karena ingin membuatmu kesal. Tapi aku tidak mengira kalau kau benar-benar sangat kesal."
__ADS_1
Aku mendorong Vernon dengan sekuat tenaga karena hingga ia melepaskan pelukannya padaku. Bagiku apa yang diucapkannya tidak mengubah keadaan.
"Waktu itu kau tidak sadar tentang cintamu padaku. Aku ingin kau menyadarinya, dan ketika berada di kapal pesiar aku hendak mengatakannya padamu tapi semua itu lebih dulu terjadi. Ketika aku membawamu kembali dari Venesia—"
"Sudahlah, Vern. Bagiku itu semua sudah tidak penting. Pergilah, aku tidak ingin bersama denganmu lagi." Ucapku dengan penuh penekanan agar Vernon mendengarkan perkataanku.
Dengan segera aku berbalik dan berjalan kembali tidak memedulikan Vernon yang berada dibelakangku.
"Viv, kau hamil anakku, aku tidak akan membiarkanmu memilikinya sendiri."
Aku tetap tidak menggubrisnya dan terus berjalan.
"Kau tidak bisa meninggalkan aku kalau bukan aku yang meninggalkanmu!!"
Tetap saja aku tidak akan mendengarkan perkataannya apapun itu.
"Kakakmu sudah menyerahkanmu padaku, kau tidak bisa pergi begitu saja dariku!! Kau adalah tawananku, Viv!!"
Vernon terdengar sangat kesal karena aku tetap terus melangkah. Jarak kami semakin jauh karena aku tidak akan berhenti menjauh darinya.
"Viv!!" Seru Vernon. "Berhentilah!! Aku mohon kembalilah padaku." Kali ini suara Vernon terdengar melemah.
Mengetahuinya aku berhenti melangkah lalu berbalik melihat padanya yang sudah bersimpuh memohon padaku.
"Viv, aku mohon kembalilah padaku. Selama ini kau benar dan aku yang salah. Bahkan aku tidak mendengar semua perkataanmu dulu." Ucap Vernon.
Tersungging senyuman dibibirku melihat pria itu menatapku dengan posisinya dan mendengar semua perkataannya padaku yang memohon.
"Sudah aku katakan, aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku, Vernonku sayang." Bisikku perlahan masih memulas senyum kemenangan.
...~THE END~...
...–NATZSIMO–...
Terimakasih sudah membaca, ini bab terakhir dari cerita ini, next bab adalah Epilog ya.
...❤❤❤❤❤...
Kisah ini adalah dasar terciptanya karakter Melody yang turun dari Vivian dan Ketiga Musketeers yang bucin turun dari Vernon.
__ADS_1
Yuk dibaca juga kisah dari keturunan mereka di MELODY 911 With The Three Musketeers (Jilid Kesatu) & Melody Musketeers (Jilid Kedua).