PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
KEPERGIANKU


__ADS_3

Suara keributan di luar terdengar ketika aku selesai bersiap-siap hendak pergi. Aku dapat mengira apa yang sedang terjadi saat ini di luar.


"Nyonya, sebaiknya nyonya tidak pergi kemanapun. Tuan akan marah jika tahu anda pergi. Dan lagi, kemana anda akan pergi? Apa yang harus aku katakan pada tuan saat dia menanyakan tentang nyonya?" Gloriana terus saja berusaha membujukku agar tidak pergi, namun aku tidak menggubrisnya dan sibuk memakai sepatu merah dengan hak tinggi. "Nyonya, sebaiknya anda tidak memakai sepatu seperti itu saat hamil muda."


"Diamlah, Gloriana, kepalaku sakit mendengar semua ocehanmu." Keluhku sambil bangkit berdiri dari sisi tempat tidur setelah memakai sepatu.


Tas berwarna merah yang senada dengan gaun merah yang aku pakai, ku raih dari atas tempat tidur.


"Bawa kopernya, Gloriana." Seruku.


Aku langsung berjalan keluar kamar untuk menghampiri keributan yang sedang terjadi di lantai satu. Gloriana masih terus mengoceh agar aku mau mendengarkan perkataannya sambil membawa koperku, namun sedikitpun aku tidak menggubrisnya dan tetap berjalan menuruni tangga.


"Viv, kau mau kemana? Apa kau yang memanggil orang-orang La Nostra?" Tanya Olivia menatapku ketika aku turun.


"Ya ampun, kau berpakaian seperti itu di saat hamil, apa kau ingin pergi ke pesta?" Kali ini Vegard yang sedang duduk di sofa menyunggingkan senyum tidak percayanya melihat diriku yang memakai gaun pendek dengan seutas tali di pundakku. "Vern, akan sangat marah melihat tingkahmu."


"Ya aku akan ke pesta dan bersenang-senang." Jawabku tanpa menghentikan langkahku ataupun mengurangi kecepatannya.


"Maaf nyonya, kau tidak diperbolehkan pergi." Seru seorang penjaga yang menjaga pintu ketika aku berdiri di depan pintu hendak keluar.


"Buka pintunya." Ucapku.


"Tuan meminta kami untuk tidak membiarkanmu pergi kemanapun." Jawab si penjaga pintu lagi.


"Viv, sebaiknya kembalilah ke kamarmu. Vernon sudah meminta semua penjaga untuk tidak membiarkanmu pergi." Seru Olivia yang menjalankan kursi rodanya mendekati arahku.


"Itu benar nyonya, kembalilah ke kamar." Sekali lagi Gloriana tidak ingin ketinggalan mencegah kepergianku.


Akan tetapi di dalam hidupku, aku tidak pernah ingin mendengarkan perkataan siapapun ketika aku sudah memutuskan sesuatu hal yang ingin aku lakukan. Tidak akan pernah aku mendengarkan larangan siapapun.

__ADS_1


"Cepat buka pintunya." Ucapku semakin dingin pada si penjaga agar mereka mendengarkan perintah sederhana dariku.


Terdengar suara tawa Vegard. Pastinya dia semakin berpikir kalau diriku selalu bersikap sesuka hatiku. Ya, itu benar. Aku pun tidak akan menggubris tawanya.


"Maafkan kami nyonya."


Tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Aku menyunggingkan sebuah senyum ketika melihat Pablo tangan kanan kepercayaan Arthur muncul dari balik pintu bersama anak buahnya. Sepertinya dia menerobos masuk tanpa memedulikan apapun demi menjalankan tugasnya untuk menjemputku. Lima penjaga yang menjaga pintu masuk langsung mengacungkan pistol pada Pablo dan empat anak buahnya.


"Nona, silakan." Ucap Pablo mempersilakan aku bejalan keluar dengan tangannya.


Di luar para penjaga rumah ini juga sudah berkumpul dengan mengacungkan senjata ke arah Pablo, namun mereka menurunkannya segera ketika melihat aku berjalan keluar.


Tidak mungkin mereka bisa menghentikan aku yang berniat pergi. Bagaimanapun mereka tidak bisa berbuat apapun, menyentuhku saja mereka tidak akan berani.


Pablo membukakan pintu mobil dan aku segera masuk ke dalam. Koper yang aku bawa dimasukannya ke bagasi belakang mobil tanpa aku minta.


Aku menghela napas dan sedikit memijat kakiku yang terasa sakit karena memakai sepatu hak tinggi dalam keadaan hamil.


"Kau tahu di mana posisi Vernon sekarang?" Aku balik bertanya karena tidak ingin menjawab pertanyaannya.


"Suami anda baru saja berangkat ke Genoa sepuluh menit yang lalu dengan helikopter." Jawab Pablo yang menoleh padaku.


"Pastikan tidak ada orang-orangnya yang mengikuti kita." Seruku.


"Anda tenang saja nona, tuan Arthur juga sudah memerintahkan mengenai hal tersebut. Bagaimanapun Sisilia adalah wilayah keluarga anda, hanya sedikit penjaga dari Camorra berada di kota ini." Ujar Pablo.


Aku menyunggingkan senyum senang mendengar perkataan Pablo. Itu semua membuat aku semakin ingin cepat sampai ke tempat tujuanku. Aku juga ingin tahu bagaimana reaksi Vernon ketika dirinya tahu aku meninggalkan rumah seperti keinginanku.


"Lebih cepat jalankan mobilnya, aku ingin sampai ke sana segera mungkin." Seruku tidak sabaran.

__ADS_1


"Baik nona, pesawat juga sudah disiapkan dan akan segera pergi ketika anda sampai." Ujar Pablo.


Pablo Belotti adalah pria bertubuh tinggi dengan ras kulit hitam dengan suara yang sangat berat. Dia adalah tangan kanan Arthur. Usianya 38 tahun dan sejak berusia 18 tahun dia sudah bekerja dengan keluargaku. Hampir tidak ada rahasia di keluargaku yang tidak dia ketahui. Ada yang bilang kalau Pablo akan setia sampai mati pada La Nostra karena ayahku dulu menyelamatkan dirinya ketika hampir dijatuhi hukuman mati saat dirinya dituduh membunuh kedua orang tua yang sudah menyiksanya. Aku tidak tahu apakah dia memang membunuh kedua orang tuanya atau tidak, namun siapapun yang menyiksa seseorang, mereka memang pantas mati.


Sesekali Pablo juga sering diam-diam mengikutiku kemanapun untuk menjagaku, namun aku yang sejak dulu tidak ingin dijaga oleh pengawal akan menolak ataupun mengusirnya segera jika tahu akan hal tersebut.


Selama sekolah ataupun kuliah, aku merahasiakan mengenai siapa diriku walaupun sebenarnya itu bukan suatu rahasia karena nama belakangku sudah sangat dikenal di seluruh Sisilia ataupun Italia. La Nostra, keluarga mafia penguasa di Italia dengan markas besar di Sisilia. Siapapun tidak akan ada yang berani menyakitiku ketika aku berada di kota ini, karena itu aku tidak butuh penjaga saat berada di kota ini. Itu pun yang membuatku merasa enggan meninggalkan Sisilia ataupun Italia.


"Maaf nona, hanya aku yang akan menemanimu saat di sana." Ucap Pablo menoleh padaku lagi. "Apa tidak masalah?"


"Tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang berani menyakitiku saat di sana." Jawabku dengan sebuah senyum percaya diri. "Pablo, aku senang kau masih memanggilku dengan nona."


"Ya, bagaimanapun anda tetap nona kecil di mata saya." Senyum Pablo.


Tidak berapa lama jet pribadi yang aku naiki mendarat di tempat tujuanku. Pablo membawaku ke suatu tempat dengan mobil. Menuju sebuah hotel megah dan terbesar yang berada di kota pelabuhan di Italia Utara di mana aku berada saat ini.


Semua mata langsung menatap padaku. Puluhan penjaga berpakaian hitam tidak berani mendekat ataupun menghentikan langkahku ketika aku keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel.


"Nyonya..." Akhirnya seorang penjaga berusia paruh baya berani mendekatiku. "Kenapa anda di sini? Tuan akan..."


"Di mana tempat pertemuannya?" Tanyaku tanpa menghentikan langkahku menuju elevator. "Antarkan aku ke sana!!"


Bersama dengan Pablo dan penjaga tersebut aku menaiki elevator menuju lantai yang aku maksud. Tidak berapa lama pintu elevator terbuka, penjaga lebih banyak berada di lantai ini, lantai tertinggi di gedung hotel.


Aku melangkahkan kakiku dengan elegan menuju suatu pintu yang dijaga dua orang bersenjata. Namun mereka tidak menghentikan aku dan malah membukakan pintu ruangan tersebut setelah si penjaga paruh baya yang mengantar aku memberikan perintah pada mereka.


Pintu terbuka dan semua mata menatap pada kehadiranku. Sekitar dua puluh orang yang duduk melingkar di ruangan tersebut tampak terkejut dengan kedatanganku yang secara tiba-tiba, termasuk seorang pria yang sedang duduk di kursi paling tengah, yang memimpin pertemuan. Wajahnya langsung terlihat menahan emosinya terarah padaku.


"Maaf, aku datang terlambat." Senyumku pada Vernon.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2