
Kalimat yang keluar dari bibir Vernon barusan membuat aku tertegun menatapnya. Apa aku tidak salah dengar? Dia mencintaiku? Apa pengakuan Vernon benar?
Tiba-tiba Vernon memperlihatkan seringaiannya padaku. Aku jadi tersadar jika Vernon tidak serius mengucapkan kalimat tersebut padaku.
"Pasti itu kalimat yang ingin kau dengar kan?" Ujar Vernon. "Dengarlah sayang, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Itu adalah janji yang sudah aku buat di depan Tuhan. Kau adalah istriku."
"Apa maksudmu?" Aku mencoba memahami perkataan Vernon karena ucapan dan ekspresi wajahnya membuat aku bingung.
"Sampai matipun kita tidak akan berpisah. Apa kau mengerti?"
Vernon melepaskan aku segera dan aku langsung masuk ke kamar mandi. Berdiri di depan cermin, menatap wajahku dengan memikirkan perkataan Vernon tadi.
Sejujurnya aku tidak mengerti dengan semua yang dikatakannya. Dia bilang sampai matipun kami tidak akan berpisah, dan dia mengatakan kalau dia mencintaiku. Sejenak aku percaya pada pernyataannya tersebut karena saat mengatakan kalimat itu Vernon menunjukan wajah serius menatap padaku. Tapi setelahnya dia merubah raut wajahnya, walau begitu perkataannya entah kenapa terdengar seperti jika dirinya benar-benar mencintaiku.
...****************...
Aku duduk di kursi yang biasa aku duduki di meja makan. Di samping kiri di mana Vernon duduk di kursi tunggal di meja makan, namun kali ini Olivia duduk di sebelah kiriku dan Alec duduk di hadapanku sedangkan kedua orang tuanya duduk di sebelahnya.
"Maaf, kedua orang tua kami tidak bisa hadir, mereka menyerahkan masalah ini padaku, paman juga sedang sibuk karena suatu hal. Sebenarnya dia sangat ingin menemui kalian." Ucap Vernon.
"Tidak masalah, orang tua kalian pasti memang sangat sibuk kan? Begitupun dengan paman kalian." Jawab Alberto Gustavson, ayah Alec.
"Aku pikir kalian akan tersinggung karena mereka tidak hadir di pertemuan penting ini."
"Itu tidak mungkin, Vern." Jawab Alec dengan senyum pada Vernon.
"Baiklah, jika begitu kita langsung tentukan saja kapan acara pernikahannya?" Ujar Vernon.
Aku terus menatap pada Alec yang sekalipun dirinya tidak pernah berbalik menatapku. Sejak awal duduk di hadapannya dengan semua bahasan mengenai pernikahan dirinya, membuatku terus menahan rasa sedih yang ada di hatiku.
"Bagaimana, Viv? Apa ada yang ingin kau katakan?" Perkataan Vernon memecahkan lamunanku.
__ADS_1
Aku menoleh pada Vernon dengan bingung, karena sejak tadi aku tidak mendengar perkataan mereka semua. Aku terus saja sibuk dengan pikiranku yang melamun tanpa mendengar apa saja yang sudah mereka katakan.
"Tiga bulan lagi acara pernikahan akan dilaksanakan, apa kau bisa membantu untuk semua persiapannya?" Tanya Vernon menatapku begitu pun pada semua orang di meja makan yang menatapku menunggu jawabanku.
"Ba—baiklah." Jawabku walau dengan berat hati.
Aku langsung memilih masuk ke kamar dan tidak ingin mengikuti perbincangan lebih lanjut. Jujur saja, aku tidak kuat saat mendengarkan perbincangan mengenai pernikahan Alec dan Olivia. Bahkan melihat bagaimana Alec memperlakukan Olivia pun membuat aku ingin menangis. Dan sekarang kepalaku menjadi sangat sakit.
"Seharusnya kau tetap di sana mengikuti perbincangan, Viv." Seru Vernon yang baru saja masuk ke kamar.
Aku langsung bangkit berdiri dari posisi tidur. Aku berencana pergi ke luar kamar karena tidak ingin menanggapi kelakuan Vernon setelah ini.
"Kau mau kemana?" Tanya Vernon saat aku berjalan melewatinya, menuju pintu.
Tak ada kata yang aku ucapkan untuk menjawab pertanyaannya. Rasa sedihku sudah sangat luar biasa saat ini. Aku ingin mencari tempat untuk aku menangis sekarang.
Namun tiba-tiba Vernon memelukku dari belakang saat aku memegang kenop pintu dan hendak membukanya.
Aku sedikit tertawa mendengar perkataan Vernon. Berjanji untuk tidak macam-macam? Itu sangat mustahil, bahkan saat ini dirinya memelukku tanpa aku inginkan.
"Kepalaku sedang sakit, Vern. Tolong jangan ganggu aku sekarang." Ucapku dengan nada dingin.
Vernon membalikan tubuhku hingga menghadap padanya. Dia menyunggingkan senyumnya melihat padaku.
"Biarkan aku keluar. Aku mohon padamu." Ucapku berharap Vernon memberikan belas kasihannya pada gadis yang sedang patah hati ini.
Akhirnya Vernon melepaskan aku. Aku segera keluar dari kamar dan hendak berjalan ke menuruni tangga, namun langkahku terhenti ketika melihat Alec sedang mendorong kursi roda Olivia memasuki kamar Olivia.
Melihat mereka berdua membuat aku semakin bersedih. Entah kenapa mereka terlihat semakin dekat. Dengan rasa penasaran aku berjalan mendekati kamar Olivia. Aku sempat berhenti sebelum mendekat dan berniat pergi saja, namun aku melihat pintu kamar Olivia tidak tertutup rapat. Hal itu membuatku berniat untuk lebih mendekat.
Dengan keberanian aku melihat ke dalam dari celah pintu yang tidak tertutup rapat tersebut. Alec baru saja menurunkan Olivia ke tempat tidurnya. Gadis itu memegang tangan Alec ketika Alec hendak berjalan menjauh.
__ADS_1
"Alec, aku senang kita akan segera menikah." Ucap Olivia dengan menatap Alec dengan senyum.
Alec membalas senyum Olivia dan segera duduk di sisi tempat tidur menghadap gadis itu. Dengan lembut, Alec menggenggam tangan Olivia dengan sangat lembut.
"Aku juga senang kita akan menikah, Oliv." Jawab Alec. "Istirahatlah, kau pasti lelah."
"Aku sangat mencintaimu, Alec."
"Aku juga mencintaimu." Ujar Alec sambil memegang wajah Olivia dengan tangan kirinya lalu mencium gadis itu.
Sepertinya keputusanku salah saat berniat mengintip mereka. Seharusnya aku tidak mendengarkan pikiranku yang akhirnya hanya menambah rasa sedihku saat ini.
Alec mencium Olivia, dan mereka berdua akan menikah. Dari kata-katanya kemarin aku tahu kalau Alec mencintaiku seperti aku mencintainya tapi kenapa Alec mau menikah dengan Olivia? Dia juga mengatakan kalau dirinya mencintai gadis itu. Kalau seperti itu apakah Alec benar mencintaiku?
"Kau harus istirahat Oliv, kau terlihat sangat lelah." Alec memegang ke wajah Olivia dengan kedua tangannya. "Aku juga harus pulang."
"Kita akan menikah, Alec. Tidurlah disini bersamaku. Temani aku malam ini." Ucap Olivia dengan wajah yang terlihat sedikit malu.
Alec sempat terdiam mendengar permintaan Olivia, namun tiba-tiba Olivia memeluknya. Aku bisa lihat bagaimana Olivia sangat mencintai Alec. Mau tidak mau Alec membalas pelukan gadis itu dengan mendekapnya juga.
Sekali lagi rasa kelu di hatiku terasa sangat menyakitkan. Melihat orang yang aku cintai mencium dan memeluk gadis lain dengan mataku sendiri membuat diriku seperti terbakar api cemburu yang begitu menghancurkan perasaanku.
"Aku mohon Alec, temani aku malam ini, tidurlah di sini malam ini bersamaku. Tanggal pernikahan kita juga sudah ditetapkan jadi aku ingin kita semakin dekat." Ucap Olivia memegang tangan Alec yang hendak berdiri.
Permintaan gadis itu kembali membuat Alec tidak bisa beranjak pergi dari sana. Alec terlihat terdiam sesaat sebelum kembali mencium Olivia.
Kali ini Alec mencium Olivia dengan menidurkan gadis itu. Olivia juga melingkarkan kedua tangannya ke leher Alec seolah-olah dirinya tidak ingin Alec berhenti menciumnya.
Aku menahan napasku karena air mata mulai mengalir tanpa bisa aku tahan lagi saat Alec memindahkan ciumannya ke arah leher Olivia sedangkan tangan Olivia memegangi kepala Alec menunjukan jika dirinya senang dengan apa yang akan dilakukan Alec padanya. Hingga Alec perlahan membuka kancing blouse yang dikenakan Olivia dengan terus ******* bibir gadis yang sudah terlihat bergairah tersebut.
Rasanya aku sudah tidak mampu lagi melihat hal selanjutnya, dan memilih untuk menjauh dari sana. Dengan langkah gontai aku berjalan pergi dan menuruni tangga. Aku memilih untuk meninggalkan rumah itu. Rasa sedih dan air mata tidak bisa aku tahan lagi. Ini sangat menyakitkan untuk diriku.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku melihat pria yang aku suka bercinta dengan gadis lain?