PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
KEPINDAHAN VERNON


__ADS_3

"Aku tidak tahu Viv. Tapi sepertinya itu memang hanya sebuah mimpi." Jawab Renata. "Kau sedang hamil, kau tidak perlu memikirkan hal-hal tidak penting, apalagi itu hanya sekedar mimpi."


Sepertinya yang dikatakan Renata ada benarnya. Aku tidak perlu memikirkan apapun yang tidak penting apalagi hanya sebuah mimpi. Walau aku masih merasa penasaran namun aku tidak ingin memikirkan mengenai diriku di masa lalu.


"Kedua orang tuamu akan datang besok, mereka senang mendengar kabar kehamilanmu. Tapi mereka tidak ingin menginjakan kaki ke rumah ini, karena itu aku akan meminta ijin Vernon membawamu ke rumah besok." Ujar Renata.


"Aku tidak ingin kemanapun." Jawabku. "Aku akan pergi kalau Vernon juga ikut bersamaku."


"Itu tidak mungkin, kedua orang tuamu tidak ingin bertemu Vernon. Kemarin saat di rumah sakit saja mereka menahan perasaannya karena mencemaskanmu." Renata memegang lenganku. "Aku akan datang besok setelah Vernon mengijinkan aku membawamu."


"Kau tahu di mana Vernon sekarang?" Tatapku berharap Renata tahu dan berniat memberitahuku. "Aku merasa hubunganmu dan Vernon sangat baik. Bahkan dia menjawab saat kau menghubunginya kemarin kan? Padahal dia tidak menjawab telepon atau pesan yang aku kirim padanya."


"Tapi aku tidak tahu di mana dia sekarang." Jawab Renata. "Baiklah Viv, aku akan pergi sekarang, habis ini minumlah vitaminmu." Renata memberikan mangkuk yang dibawanya padaku dan mengambil vitaminku di bupet lalu meletakannya ke meja samping tempat tidur.


"Kau akan pergi?" Tanyaku.


"Aku akan menemani kakakmu ke Genoa. Art memintaku untuk menemaninya." Jawab Renata. "Sacra Unita sudah menyingkir dari sana, jadi Art akan menambah beberapa casino dan klub malam di sana. Dia juga ingin membuat sebuah rumah sakit dan memintaku untuk mengurusnya."


"Di Genoa? Itu sangat jauh Ren, kau akan tinggal di sana? Bagaimana dengan Art? Dia tidak mungkin meninggalkan Sisilia." Ujarku merasa tidak setuju jika Renata tinggal jauh dari Arthur, dan juga dariku. Bagaimanapun aku sudah sangat menganggap Renata adalah kakak perempuanku.


"Viv, kau juga akan pergi dari Italia segera." Ucap Renata yang berdiri. "Vernon akan membawamu ke Oslo dan kalian akan tinggal di sana."


"Apa maksudmu, Ren?"


"Vernon harus kembali ke negaranya karena kepindahan kewarganegaraannya ditolak, pamannya juga tidak ingin Vernon mengambil alih Camorra lagi setelah memberikan Genoa dengan cuma-cuma pada La Nostra. Karena itu kepindahan kewarganegaraannya ditolak." Terang Renata. "Pamannya sangat marah karena Vernon memberikan Genoa begitu saja pada kakakmu. Dia menukar Genoa dengan dirimu, Viv."


Setelah kepergian Renata, aku memikirkan perkataannya mengenai kemarahan Camorra pada Vernon. Itu sudah pasti, karena untuk mendapatkan Genoa, dari pihaknya kehilangan banyak pengikutnya tetapi dengan mudahnya Vernon memberikan Genoa begitu saja agar bisa membawaku kembali padanya.

__ADS_1


Vernon masih harus memperlihatkan kemampuannya pada pamannya untuk meneruskan Camorra tetapi karena diriku, ah tidak, maksudku agar aku tidak menggugurkan anaknya dengan membawaku kembali, dia kehilangan kepercayaan pamannya.


Apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak ingin meninggalkan negaraku dan tinggal di Oslo. Aku tidak ingin jauh dari kakakku, bahkan untuk pindah ke Napoli saja aku enggan apalagi jika harus pindah ke Oslo.


Aku mengambil handphone-ku untuk menelepon Vernon, namun sebelum teleponku tersambung pintu kamarku terbuka. Aku mematikan sambungan teleponannya dan menatap Alec yang membuka pintu.


Langkah Alec terlihat berat ketika berjalan masuk mendekatiku setelah menutup pintu. Sepertinya kabar kehamilanku sudah didengarnya. Ya itu sudah jelas, Alec adalah orang yang berada di antara Vernon dan Arthur, tidak mungkin dia tidak tahu dengan cepat kabar itu.


"Viv, apa benar kau hamil?" Tatap Alec. Dia meraih tangan kananku dan menggenggamnya dengan kedua tangan. "Apa itu benar anak Vernon?"


Perkataan Alec membuatku cukup terkejut. Apa maksudnya dia melontarkan pertanyaan seperti itu padaku? Entah kenapa aku menjadi merasa terganggu dengan hal itu.


"Maksudku, apa mungkin saja itu anakku?" Alec berbicara sangat dekat dan berbisik.


Sejenak aku memperhatikan Alec sambil berpikir sesuatu. Aku mengerti maksudnya berkata seperti itu pasti karena dirinya merasa cemburu. Alec mencintaiku sedangkan aku mengandung anak orang lain yang adalah suamiku sendiri.


"Alec, ini anak Vernon." Jawabku dengan perasaan yang tidak enak pada Alec.


Namun jujur, saat ini perasaanku sedikit berubah pada pria yang duduk di depanku. Jika sebelumnya aku sangat mencintai Alec dan merasa senang setiap kali dia hadir namun sekarang semua itu tidak sama. Pasti karena kehamilanku yang membuat diriku menjadi lebih ingin bersama dengan Vernon saat ini.


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka kembali. Kali ini sosok yang sangat ingin aku lihat berdiri di ambang pintu. Vernon sempat terdiam sesaat di sana melihat padaku.


Alec yang mendengar suara pintu terbuka langsung melepaskan tanganku dari genggamannya dan bangkit berdiri karena kehadiran Vernon.


"Kau sudah kembali, Vern?" Ujar Alec saat Vernon melangkah ke arah tempat tidur. Alec menyingkir saat Vernon mengambil alih tempatnya tadi duduk. "Aku hanya datang untuk melihat Vivian, aku senang mendengar kalian berdua akan memiliki anak."


Vernon tidak menjawab, dia hanya menatapku dengan lekat. Aku tidak bisa mendeskripsikan tatapannya padaku, entah marah, kesal, atau tatapan dingin namun dia terlihat menahan emosinya saat ini.

__ADS_1


"Aku dengar kau baru saja menemui paman—"


"Keluarlah, Alec!!" Seru Vernon tanpa mengalihkan tatapannya padaku.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Alec berjalan keluar dari kamar kami.


Mata Vernon tak sekalipun berkedip ketika menatapku saat ini. Sepertinya sesuatu ingin dikatakannya padaku, karena itu aku hanya diam saja menunggunya bicara, akan tetapi dia tetap tidak membuka mulutnya dan membuatku menjadi agak bingung.


"Sebenarnya ada apa? Apa saat ini kau menahan marahmu padaku?" Tanyaku yang akhirnya tidak tahan untuk memecahkan kesunyian sesaat tadi. "Kenapa kau diam saja? Kalau kau ingin mengatakan sesuatu kau bisa mengatakannya dan jangan hanya menatapku, Vern."


Akhirnya Vernon menarik tatapannya dariku dan menutup matanya sambil berpaling dariku.


"Viv, dengarkan perkataanku. Aku tidak akan memaksamu untuk mengikutiku, kau bebas memilih karena aku tidak ingin membuatmu menjadi memikirkannya dengan berat, aku tidak ingin hal ini mempengaruhi kondisi kandunganmu dan membuatnya menjadi buruk." Ucap Vernon yang hanya menoleh padaku yang duduk bersandar sedangkan dirinya duduk di sisi tempat tidur sebelah kiri. "Aku akan kembali ke Norwegia dan menetap di sana. Kau bebas memilih apa akan ikut denganku atau tetap tinggal di sini. Aku berharap kau ikut denganku karena saat ini kau sedang mengandung anakku. Aku juga tidak ingin usahaku sia-sia setelah memberikan hadiah ke kakakmu itu dengan membiarkanmu lepas begitu saja dariku."


Mendengar perkataannya membuat aku tertawa tidak habis pikir. Dia bilang aku bebas memilih tetapi dari perkataannya, dirinya seperti memaksaku untuk pergi dengannya.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Vernon heran menatapku.


"Kau sangat lucu. Dari perkataanmu kau memaksaku agar aku pergi bersamamu." Kataku menyunggingkan bibirku.


Jadi semua yang dikatakan Renata benar mengenai Vernon yang akan kembali dan tinggal di negaranya. Tapi tidak mungkin aku ingin ikut dengannya, aku tidak akan mau meninggalkan negaraku. Aku hanya ingin tinggal di sini.


"Lalu apa keputusanmu?"


"Aku tidak mau ikut ke negaramu, Vern." Jawabku.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2