PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
AKU AKAN MEMBUANGMU


__ADS_3

Mendengar ucapan Vegard, Alec mendengus dengan tawa kecil. Namun hal itu membuat aku merasa aneh karena Alec tampak tidak takut jika Vegard akan membocorkan hal tersebut pada Vernon.


"Aku rasa kau akan tutup mulut kan, Veg?" Tatapan dingin Alec pada Vegard membuat diriku merasa sedikit terkejut pada Alec. Untuk pertama kalinya aku melihat tatapan seperti itu dari orang seperti Alec.


Anehnya, Vegard hanya mendengus dengan sebuah tawa menatap pada Alec, lalu dia memegang pundak Alec sambil berjalan keluar dari ruangan ini.


Aku tidak mengerti kenapa Vegard terlihat tidak bisa berkata apapun pada Alec setelah kalimat yang diucapkan Alec dengan tatapan dingin terpancar padanya.


"Kau baik-baik saja, Viv?" Tanya Alec menggenggam tangan kananku.


"Alec, apa tidak masalah? Apa Vegard tidak akan memberitahu Vernon? Aku takut jika dia memberitahu hal tersebut. Vernon akan marah, aku takut dia akan membunuhmu." Ujarku dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Kau tenang saja, Vernon tidak akan membunuhku karena Vegard tidak akan memberitahu mengenai rahasia kita berdua. Kau tidak perlu khawatir." Jawab Alec sambil membelai rambutku dengan tangan kiri. "Bagaimana keadaanmu? Aku sangat mengkhawatirkanmu saat mendengar kau tertembak."


"Aku pikir aku juga akan mati kemarin." Ucapku.


"Tidak, jangan berkata seperti itu." Seru Alec setelah itu membungkukan badannya untuk mencium bibirku.


"Aku sangat senang kau mengkhawatirkan aku, Alec."


"Cepatlah sembuh, Viv. Aku tidak suka melihatmu seperti ini." Alec membelai kepalaku dengan lembut.


Alec langsung menarik kedua tangannya saat pintu ruangan terbuka. Vernon masuk dari luar, sesaat dia diam melihat pada kami berdua.


"Kau disini, Alec?" Ucap Vernon sambil berjalan mendekati kami.


"Ya, tadi aku belum lama menjenguk Vivian, jadi aku datang lagi. Tapi aku juga akan pulang sekarang." Jawab Alec melangkah menjauh.


"Kami juga akan pulang." Ujar Vernon dengan tatapan padaku.


"Pulang?" Aku bertanya karena kondisiku masih tidak baik, namun Vernon bilang kami akan pulang.


"Kau tahu kan aku tidak suka bau rumah sakit? Kau akan dirawat di rumah." Ujar Vernon yang berdiri dekat padaku.


"Kau bisa pulang dan biarkan aku dirawat disini." Jawabku. "Kau tidak harus menemaniku disini."

__ADS_1


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri disini. Penjagaan di sini sangat minim, itu akan sangat berbahaya." Seru Vernon.


"Kau kan bisa menyuruh beberapa orang untuk berjaga diluar?!"


"Lebih baik kau dirawat di rumah saja, Viv. Benar apa kata Vernon, akan sangat berbahaya kau berada di sini." Ujar Alec.


Jika Alec yang berkata seperti itu, aku akan menurutinya. Aku tidak menjawab apapun lagi untuk menyetujui hal tersebut.


Tidak beberapa lama seorang perawat datang dengan kursi roda untuk membawaku. Vernon menyuruh perawat itu untuk melepas selang infus ditanganku, walau jarumnya masih menancap di tangan kiriku karena saat ada di rumah, selang infus akan dipasang kembali.


"Semuanya sudah selesai, tuan, tolong bantu nyonya ke kursi roda ini." Ujar perawat pada Vernon.


"Tidak perlu, kami tidak membutuhkan kursi roda." Ucap Vernon sambil mengangkat diriku dengan kedua tangannya.


Aku sontak kaget saat Vernon menggendongku untuk membawaku pulang. Begitu juga dengan Alec yang hanya memperhatikan kami saja. Alec hanya menyunggingkan senyumnya ketika aku melihat ke arahnya saat Vernon berjalan ke pintu untuk keluar.


"Seharusnya aku dirawat di sini agar luka ini segera sembuh." Gumamku saat berada di gendongan Vernon. "Oh iya, bagaimana luka tembakmu juga?"


Aku menatap Vernon karena aku beru teringat jika dirinya juga memiliki luka tembak di pundak kiri atas.


"Singkirkan tanganmu!!" Seru Vernon melihatku dingin.


Aku menahan tawaku karena ternyata Vernon tetaplah manusia. Walau dia terlihat sudah tidak sakit namun sebenarnya luka tembaknya masih saja menyakitkan untuknya, dia hanya menahan rasa sakitnya itu.


"Aku tidak akan mengampunimu kalau lukaku ini tidak segera sembuh." Ancamku memicingkan mataku pada Vernon yang masih menggendongku. "Kau dengar aku kan?"


"Apa yang bisa kau lakukan padaku sekarang?" Jawab Vernon tanpa melihat padaku. Saat ini kami berada di dalam lift berdua. "Kau hanya wanita yang sedang terluka." Vernon menurunkan tatapannya padaku.


"Bahkan wanita yang terlukapun bisa melakukan apapun yang diinginkannya saat ini." Jawabku menahan senyum dibibirku dan langsung menarik tengkuk Vernon.


Aku menarik kepala Vernon lebih mendekat padaku dengan tangan kiri untuk menciumnya. Entah apa yang aku pikirkan, namun melihatnya sekarang aku menjadi ingin menciumnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tatap Vernon dengan wajah kesal. "Berani sekali kau menciumku?!"


"Aku rasa kau juga menyukainya." Ucapku masih menahan senyumanku pada Vernon. "Kalau kau tidak suka, pasti kau sudah menjatuhkan aku."

__ADS_1


"Aku membiarkannya agar kau mengerti." Kata Vernon, saat yang bersamaan pintu lift terbuka.


"Mengerti tentang apa?"


"Kalau kau mencintaiku." Jawab Vernon sambil melangkahkan kakinya keluar dari lift.


Mendengar jawabannya membuat aku tertawa tidak percaya. Walau aku menciumnya bukan berarti aku mencintainya. Tampaknya Vernon sudah salah mengira akan hal itu.


"Kau memang terlalu percaya diri, Vern."


"Kita lihat saja nanti." Vernon melirik padaku. "Saat kau sudah menyadarinya, aku akan membuangmu. Aku akan meninggalkanmu segera seperti permintaanmu waktu."


Tatapan dingin Vernon membuat aku tertegun dalam gendongannya. Aku teringat kembali mengenai perkataanku ketika aku ingin mengakhiri hidupku karena Alec yang akan menikah dengan Olivia. Saat itu aku ingin melupakan Alec tapi sekarang tidak lagi. Aku dan Alec sudah memutuskan untuk bersama walau harus menyembunyikan mengenai hubungan kami untuk selamanya.


"Ya, aku rasa kau bisa berusaha membuat aku mencintaimu namun sepertinya itu akan sangat sulit." Ujarku.


"Benarkah?" Tersungging senyuman percaya diri Vernon padaku. "Kita lihat saja nanti. Kau harus mengingat perkataanmu barusan itu agar saat itu terjadi kau akan merasa malu pada dirimu sendiri."


"Kau terlalu percaya diri." Ujarku sedikit tertawa karena merasa ucapan Vernon sangat menggelikan. "Pria sepertimu tidak akan bisa membuat wanita mencintaimu. Apa kau tahu itu?"


"Kau akan menertawakan dirimu saat kau mengingat betapa tergila-gilanya kau padaku dulu." Gumam Vernon.


Perkataannya mengingatkan aku mengenai ucapan Olivia kemarin. Gadis itu juga bilang kalau aku sangat mencintai Vernon dulu. Apa itu benar? Apa itu mungkin? Seketika mimpi yang tadi aku alami terlintas di benakku.


Orang yang ada dihadapanku apakah itu Vernon? Apa itu bukanlah mimpi? Apa itu sebenarnya adalah sebuah ingatan yang terlupakan olehku? Apakah dulu aku mencintai Vernon?


"Vern, apa itu mungkin?" Tatapku pada Vernon yang sedang fokus pada jalannya. "Apa yang kau ucapkan barusan benar?"


Kami sampai di depan lobby rumah sakit. Anak buah Vernon membukakan pintu mobil untuk kami.


"Apa benar dulu aku mencintaimu?" Tanyaku dengan harapan Vernon menjawabku dengan serius. "Apa aku yang membunuh Wynetta karena perasaanku itu padamu?"


Vernon menatapku saat aku mengajukan pertanyaan tersebut. Aku berharap mendapatkan sebuah jawaban.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2