
Sudah seperti yang aku kira, Alec hanya menyunggingkan senyumnya setelah itu berjalan pergi meninggalkan aku sendiri. Sekali lagi aku tidak mendapatkan jawaban dari apa yang mengganggu diriku mengenai masa lalu hidupku.
Sebentar aku lebih memilih kembali duduk di kursi tadi, menuangkan wine dan kembali menikmatinya menatap langit yang hari ini hanya kegelapan yang terlihat. Tak ada cahaya bulan maupun satu bintangpun.
"Sebaiknya nyonya beristirahat sekarang." Ujar Esteban yang kembali berada di dalam pintu balkon.
Perkataannya hanya menggantung di udara karena aku masih diam memikirkan mimpi itu. Mimpi di mana Vegard bersama wanita di dalam kamar. Yang jadi masalah apa yang aku lakukan yaitu menembaki mereka. Apa alasan aku menembaki mereka? Dulu aku dan Vegard memang akan bertunangan tetapi bukankah aku mencintai Vernon?
Tanpa sadar aku tertawa kecil memikirkannya, sepertinya sebotol wine membuat diriku sedikit mabuk sekarang. Yang terjadi memang selalu sesuai dengan apa yang aku inginkan, namun pada kenyataannya semua itu salah. Semua yang terjadi di luar kendaliku karena bahkan tak ada satupun jawaban mengenai masa laluku.
"Nyonya baik-baik saja?" Tanya Esteban melangkah keluar ke dalam balkon. "Sepertinya kau sedikit mabuk, kembalilah ke kamar nyonya."
"Est, apa aku pernah bertanya apa pun mengenai dirimu?" Bukannya menjawab perkataan Esteban, aku malah mengajukan pertanyaan pada pemuda yang sekarang berdiri di sampingku.
"Tidak, belum pernah, nyonya." Jawab Esteban. "Kau tidak pernah bertanya apapun, hanya aku yang selalu bercerita."
Mendengarnya aku tersenyum dengan tawa kecil.
"Kau tahu Est, tak ada yang pernah menjawab semua pertanyaan yang aku ajukan. Karena itu aku selalu berusaha untuk tidak bertanya apapun lagi karena semua pertanyaanku selalu bagai uap panas yang menghilang di udara dingin." Ucapku. Aku bisa merasakan wajahku yang kaku saat ini. Entah karena udara yang menusuk kulit atau karena perasaanku. "Selalu seperti itu..."
"Aku akan menjawabnya, apapun yang nyonya tanya aku pasti akan menjawabnya." Seru Esteban.
Aku menengadah melihat padanya dengan sebuah senyuman setelah mendengar satu kalimat yang menunjukan betapa pemuda yang bersamaku saat ini selalu bersikap polos.
"Baiklah, aku hanya akan bertanya padamu saja mulai sekarang." Aku bangkit berdiri dan meletakan gelas kosong ke meja dan menatap Esteban. "Aku akan kembali ke kamarku, kau bisa istirahat sekarang."
Langkahku terhenti ketika hampir sampai di depan pintu kamarku. Vernon baru saja keluar dan berjalan ke arah yang berlawanan dari aku datang. Ia tidak melihatku dan menuju tangga menuruninya. Aku merasa itu sesuatu yang bagus. Aku tidak ingin bersama dengannya saat ini.
__ADS_1
Saat aku membuka pintu kamar, Gloriana baru saja keluar dari ruang pakaian. Yang membuatku terkejut adalah tangan wanita itu membawa figura besar yang merupakan foto Wynetta.
"Nyonya, kau mabuk?" Tatap Gloriana padaku yang baru masuk.
"Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?" Tanyaku setelah hanya tersenyum menanggapi perkataan Gloriana.
"Tuan memintaku untuk mengeluarkannya dari kamar ini." Jawab Gloriana. "Istirahatlah nyonya, kau terlihat sangat lelah. Ini juga sudah terlalu malam."
Walau aku masih tidak mabuk namun pandanganku yang tidak fokus membuat aku langsung membaringkan tubuhku ke atas tempat tidur.
Melihat Gloriana membawa figura foto wanita itu membuat aku merasa senang. Vernon mau menuruti perkataanku dengan menyingkirkan benda tersebut. Itu membuatku yakin kalau secepatnya aku pasti bisa menghilangkan Wynetta dari diri Vernon.
Di tengah malam ketika aku tidur, aku membuka mataku saat seseorang masuk ke dalam balik selimut dan langsung memelukku dari belakang. Sudah pastinya ia adalah suamiku—Vernon.
Ia memberikan kecupannya padaku hingga aku berbalik padanya. Sekali lagi Vernon mengecupku dan kali ini ia mengecup bibirku.
"Aku mencintaimu, Vern." Ucapku yang langsung mendekap tubuhnya yang memelukku.
"Ada apa denganmu, Viv?" Tatap Arthur dengan wajah tidak menyenangkan saat aku masuk ke dalam ruang kerjanya.
Arthur duduk di balik meja kerjanya sedangkan Renata berdiri disampingnya. Ketika aku masuk ke ruangan ini, mereka berdua sedang bercumbu mesra. Kehadiranku tentunya mengganggu mereka berdua karena itu raut wajah Arthur semakin menyeramkan dengan perkataanku yang mengatakan akan kembali pada Vernon.
"Kenapa kau mau kembali padanya?" Kesal Arthur.
"Aku yakin kau pun tahu alasannya." Jawabku. Sudah pasti Arthur maupun Renata pasti tahu kalau diriku mencintai Vernon saat ini sama dengan sepuluh tahun lalu.
"Suatu saat kau akan menyesal karena kembali padanya." Seru Arthur.
__ADS_1
Setelah itu aku memilih untuk langsung keluar meninggalkan ruangan tersebut dan berniat untuk ke kamarku. Sehabis ini aku berencana untuk mengurus semua keperluannya pesta ulang tahun Vernon namun sebelumnya aku ingin berada di kamarku sendiri.
"Pergilah Est, saat sudah selesai aku akan menghubungimu. Kau tidak perlu menjagaku saat di rumah ini." Ujarku setelah itu melangkah masuk ke dalam kamar.
"Viv..." Panggil Renata sebelum sempat aku menutup pintu. Ia langsung menghampiriku masuk ke dalam kamar. Tanpa aku duga, ia memelukku segera. "Aku senang kau tidak jadi berpisah dengan Vernon." Ucapnya sambil mengusap punggungku.
"Tunanganmu terlihat tidak suka mengenai kabar itu, tapi kau malah senang. Kalian membuat aku bingung kenapa bisa seperti itu." Ucapku seraya duduk di sisi tempat tidur.
"Art hanya berakting, aku yakin itu." Tawa Renata. "Sepertinya kau sudah mencintai Vernon, benar begitu Viv?" Renata duduk di samping kiriku.
"Ren, katakan, siapa yang kau kenal lebih dulu? Arthur atau Vernon?" Tatapku pada Renata.
Renata tampak berpikir saat ini. Ia memutar bola matanya. "Arthur." Jawabnya.
"Kalau begitu, apa Art yang mengenalkanmu pada Vernon?" Tanyaku lagi dan berharap Renata menjawabnya.
"Tidak. Aku mengenal Vernon ketika di Harvard dulu dari seorang juniorku." Renata tersenyum menjawabnya. "Ada apa? Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Apa benar Arthur dan Vernon dulu bersahabat, Ren?" Tanyaku lagi namun Renata tampak berpikir sesuatu. "Aku tahu kalau kau dan Arthur berhubungan sebelum kalian bertunangan. Apa saat Art dan Wynetta bertunangan, kalian berdua sudah berhubungan?"
Mendengar pertanyaan yang aku ajukan, Renata bangkit berdiri. Terlihat sekali kalau dirinya mencoba menghindari pertanyaanku itu.
Segera aku bangkit berdiri dan menghampiri Renata yang memunggungiku.
"Aku tahu hanya kau yang tidak pernah berbohong padaku, Ren. Aku tahu kau selalu menyayangiku. Bahkan kau tidak mengatakan tentang aku yang bercinta dengan Alec pada siapapun. Itu bukti kalau kau sangat menyayangiku." Ujarku sambil memegang lengan Renata berharap wanita itu mau menceritakan apapun yang ingin aku tahu. "Aku mencintai Vernon sekarang dan itu sama seperti sepuluh tahun lalu, tapi aku tahu kalau dia masih tidak bisa melupakan wanita itu. Saat tidur aku pernah mendengarnya mengatakan kalau wanita itu mengkhianatinya tapi dia tetap tidak bisa melupakannya. Apa kau mengetahui apapun mengenai Wynetta?"
Renata memposisikan dirinya berhadapan denganku. Melihatnya membuatku tahu kalau ia akan mengatakan sesuatu padaku sekarang.
__ADS_1
"Junior yang mengenalkan aku pada Vernon adalah wanita itu. Dia adalah Wynetta." Jawab Renata.
...–NATZSIMO–...