
Vernon terus menatapku setelah aku mengatakan apa yang sejak tadi tertahan di ujung lidahku. Untuk beberapa detik dia hanya diam menatapku dengan terpaku. Aku pun juga menatapnya dengan tatapan dingin yang tajam. Walau sesungguhnya saat ini aku menjadi ingin menangis, namun aku terus menahannya.
"Ya kau benar. Ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya kau ke tempat ini." Akhirnya Vernon mengatakan sesuatu dengan mengalihkan tatapannya padaku. "Karena itu habiskan saja makananmu sekarang, karena kau tidak akan pernah memakan ini semua lagi." Vernon memegang sendok dan garpunya lalu memulai makannya.
Sesaat aku belum menyentuh makananku lagi karena berusaha menahan emosiku saat ini dengan menyeka air mata di sudut mata kanan dengan ujung jari tengah.
"Makanlah, Viv, kita tidak perlu mengatakan apapun lagi. Habiskan saja makanan ini dengan tenang." Seru Vernon.
Walau nafsu makanku sudah tidak ada, namun aku telah berjanji padanya kalau akan menuruti semua perkataannya.
Dengan gerakan perlahan aku mulai mengambil kembali alat makan yang aku gunakan dan mulai memakan kembali makanan yang ada dihadapanku.
Aku dan Vernon menghabiskan makanan kami tanpa mengatakan hal apapun untuk dibicarakan. Aku merasa itulah yang terbaik, karena setiap kali kami bicara pasti akan selalu muncul konflik yang akan membuat kami berdua berseteru.
"Vern, sebaiknya kita langsung ke hotel saja. Aku sudah merasa lelah sekarang." Ucapku ketika kami berdua kembali masuk ke dalam mobil.
"Baiklah." Jawab Vernon singkat.
Vernon menjalankan mobilnya lebih lambat ketimbang saat berangkat, hingga rasanya perjalanan pulang menjadi terasa lebih lama.
Aku hanya terus menatap keluar jendela memperhatikan pemandangan laut yang tampak biru dengan langit yang saat ini juga berwarna biru. Hal tersebut membuat laut dan langit tampak menyatu dimataku. Walau pada kenyataannya kedua hal itu saling berjauhan dan tidak mungkin menyatu, sama halnya dengan diriku dan Vernon.
Tiba-tiba Vernon membuka kaca jendela mobilku. Aku menoleh padanya untuk bertanya kenapa dia melakukannya, walau tak mengeluarkan kata sedikitpun untuk bertanya.
"Kau harus menghirup udara segar agar suasana hatimu menjadi lebih baik." Jawab Vernon mengerti maksud dari tatapanku padanya.
Aku kembali melihat keluar jendela pintu mobil dan dengan perlahan menghirup udara yang ada dengan sangat dalam. Aroma laut begitu kuat, dan itu membuat sensasi yang berbeda untukku sehingga rasanya aku sedikit merasa lega sekarang. Tampaknya Vernon memang benar, aku harus menghirup udara segar agar suasana hatiku sedikit membaik.
Mobil kami sampai di depan hotel tempat kami bermalam, aku hendak turun ketika salah satu anak buah Vernon membukakan pintu mobil untukku, namun dengan sangat cepat Vernon memegang lenganku hingga aku menatapnya.
"Maafkan aku, Viv. Seharusnya aku tidak mengajakmu ke restoran itu." Ucap Vernon.
__ADS_1
Sesaat aku hanya menatapnya namun tak mengatakan apapun padanya. Setelah itu berniat segera turun akan tetapi tangan Vernon yang masih memegang lenganku kembali mengencangkan genggamannya hingga aku kembali melihat padanya.
"Kau pasti sangat lelah. Aku akan menggendongmu sampai ke kamar." Ujar Vernon dan dengan cepat langsung turun dari mobil.
Vernon mengeluarkan aku dari mobil dengan kedua tangannya yang menggendong tubuhku. Aku membiarkannya melakukannya karena setelah mendengar permintaan maafnya tadi membuat aku berpikir kalau dirinya tidak salah apapun padaku. Rasa marahku saat di restoran itu muncul karena pikiranku sendiri. Ya, seharusnya tidak masalah mau dengan siapapun dulu Vernon sering pergi ke tempat itu. Yang salah hanyalah pemikiranku yang tidak ingin berada di tempat itu bersama dengannya.
Dalam dekapan gendongan Vernon aku hanya diam saja tidak mengatakan apapun ataupun menatap Vernon. Aku hanya menggelung ke tubuhnya dan menutup mata. Benar sekali katanya tadi, saat ini aku memang merasa sangat lelah setelah menahan rasa kesalku sendiri tanpa sebab yang jelas.
"Wanita hamil memang lebih sensitif dari sebelumnya. Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu berpikiran yang macam-macam." Ucap Vernon.
Dia sangat berbeda sekarang. Semua perlakuan dan ucapannya padaku sangatlah berbeda. Vernon meredam semua egonya demi anak yang aku kandung, dan aku menghargainya. Dia pasti ingin kehamilanku berjalan dengan baik-baik saja hingga nanti aku melahirkan.
Baiklah, aku mengerti sekarang. Dia melakukan semua itu karena anak yang ada di kandunganku, karena itu pula dirinya pun setuju akan berpisah denganku setelah aku melahirkan anaknya. Itu adalah hal yang bagus untukku karena memang seperti itu yang aku inginkan. Aku harus terus meyakinkan diriku sendiri dengan semua hal tersebut.
Vernon menurunkan diriku dengan perlahan ke tempat tidur, lalu dirinya duduk di sisi tempat tidur. menatap padaku.
"Viv, apa nanti malam kau tidak perlu ikut ke pesta itu?" Tanya Vernon. "Sebaiknya kau istirahat saja, aku akan pergi sendiri dan tidak akan lama berada di sana, karena ada seseorang yang harus aku temui di pesta itu."
"Aku akan datang. Aku ingin ke pesta itu dan segera kembali ke hotel. Aku ingin melihat suasana laut ketika malam hari." Jawabku.
Aku hanya mengangguk tipis menjawabnya.
Tanpa aku duga, Vernon mencium bibirku dan setelahnya mengecup keningku lalu berjalan pergi keluar dari ruangan kamar ini.
Dengan perlahan aku menarik napasku dengan dalam sekali lagi dan kali ini membuangnya melalui mulut, untuk membuat diriku menjadi lebih rileks.
Tidak berapa lama seorang pelayan hotel datang untuk membantuku mengganti pakaian agar aku bisa tidur dengan nyaman.
Selesai berganti pakaian, tidak perlu menunggu waktu lama aku langsung terlelap begitu saja. Hingga suara deringan handphone yang berada di meja samping tempat tidur di dekatku berbunyi. Sebelum aku meminta pelayan hotel yang membantuku pergi, aku menyuruhnya untuk meletakan handphone-ku di sana.
Dengan tubuh yang terasa berat aku menggapai handphone tersebut dan melihat nama Alec terpapar di layar handphone.
__ADS_1
Saat ini sudah pukul empat sore. Hampir lebih dari dua jam aku tertidur tadi.
"Ada apa, Alec?" Tanyaku dengan suara yang berat dan kembali berbaring.
"Viv, aku merindukanmu, apa kau tidak merindukanku?" Ujar Alec.
Pertanyaan Alec membuat aku berpikir sejenak apakah diriku merindukannya atau tidak. Namun entahlah aku juga tidak mengerti bagaimana perasaanku saat ini padanya.
"Ada apa, Viv? Kau mendengarku kan?" Suara Alec memecahkan lamunanku yang sesaat.
"Maaf, aku baru bangun tidur jadi sepertinya aku belum terlalu fokus, Alec." Jawabku dengan mencari alasan.
"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja kan? Kau berada di Genoa kan? Vernon pasti sangat sibuk di sana, apa kau kesepian? Aku akan pergi sekarang ke sana jika kau mau, kita bisa bersama saat Vern tidak ada."
"Tidak Alec, malam ini kami akan bersama."
"Bersama? Apa ada acara?"
"Ya, kami akan datang ke pesta kapal pesiar yang diadakan Costa Crociere S.p.A. Kau tidak perlu ke sini karena besok kami juga berencana untuk kembali, Alec." Jawabku.
"Costa Crociere S.p.A. ya?" Alec memastikan. "Baiklah, jika seperti itu."
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Vernon langsung muncul dari luar.
"Baiklah, aku tutup dulu teleponnya." Seruku dan langsung menutup telepon dari Alec tanpa menunggu persetujuannya karena Vernon sudah berjalan mendekati tempat tidur.
"Kau sudah bangun?" Tatap Vernon. "Kau bicara dengan siapa?"
"Sesya. Dia sedang berlibur ke Barcelona saat ini." Jawabku berbohong walau sebenarnya saat ini Sesya memang sedang berlibur ke sana.
"Benarkah? Tapi sepertinya aku mendengar kau memanggil nama Alec?"
__ADS_1
Aku terdiam mencari alasan mendengar perkataan Vernon. Sepertinya dia mendengarnya.
...–NATZSIMO–...