
Tanpa kata Vernon menurunkan aku ke dalam mobil. Tidak ada yang diucapkannya dan hanya diam membisu saat dalam perjalanan kembali ke rumah. Aku menjadi tidak ingin mengatakan sesuatu lagi saat melihat raut wajahnya yang tampak muram.
Ini semakin membingungkan untuk aku yang tidak ingat apapun. Semua perkataan orang-orang semakin membuat diriku menjadi sulit berpikir saat ini. Itu memberikan rasa sakit dikepalaku saat ini.
Vernon hanya menatap keluar jendela pintu mobil hingga kami sampai di rumah. Dengan segera ia menggendongku kembali untuk masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar kami.
"Vern, katakan padaku semua hal yang aku lupakan?" Ujarku saat Vernon membawaku mengarungi tangga. "Kau merahasiakan segalanya dariku untuk menghukumku tapi kau sendiri pun jadi ikut merasakan hukuman yang kau buat itu."
Tetap tidak ada apapun yang keluar dari mulut Vernon, dia tetap bungkam. Bahkan dia tidak melihat padaku.
Ketika sampai di tempat tidur, Vernon menurunkan aku ke tempat tidur, lalu diambilnya cairan infus dan tiang infusan yang dibawakan oleh salah satu anak buahnya. Aku memperhatikan Vernon, dia memasang sendiri infusan tersebut padaku.
Setelah itu dia pergi ke luar meninggalkan aku sendirian di dalam kamar. Aku hanya bisa menahan kekesalanku karena Vernon tetap saja diam bahkan dia meninggalkan aku sendirian sekarang.
Selama beberapa hari aku hanya berada di dalam kamar dan tidak keluar. Luka tembak di perut kiriku juga semakin membaik sekarang. Vernon hanya sesekali datang ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan tidak tidur bersamaku. Dia hanya sering datang untuk memberikan obat padaku dan bertanya mengenai keadaanku. Sepertinya dia masih menghindar atau malas berbicara denganku.
Aku juga tidak terlalu memedulikannya. Bahkan itu lebih baik jika dia tidak berada di kamar ini. Karena setiap kali aku melihatnya, aku menjadi ingin mengetahui mengenai diriku di masa lalu.
"Aku akan menjengukmu lagi saat aku ada waktu, Viv." Ujar Sesya saat aku meneleponnya. "Akhir-akhir ini aku harus lebih serius menyelesaikan kuliah karena sekarang kau tidak ada, jadi di kampus terasa sangat membosankan."
"Aku tidak percaya, pasti kau hanya sibuk dengan pacar-pacarmu kan?" Seruku sambil mengganti saluran televisi yang sedang aku tonton. "Ses, menurutmu aku ini orang yang seperti apa?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Sesya dengan nada bicara yang heran. "Memangnya kau orang seperti apa?"
__ADS_1
"Kenapa kau balik bertanya?" Kesalku dengan mengela napas dan meletakan remote televisi ke sampingku. "Karena sepertinya aku yang dulu sangat berbeda dengan diriku yang sekarang. Renata juga bilang begitu padaku."
Aku tidak bisa mengatakan pada Sesya kalau Renata dan Vegard bilang kalau dulu aku ingin membunuh seseorang. Aku takut pandangan Sesya padaku akan berubah.
"Sebaiknya kau tidak perlu mengingat-ingat lagi untuk semua hal yang kau lupakan. Aku rasa itu juga tidak ada gunanya. Kau juga tetap menikah dengan Vernon kan?" Ujar Sesya.
"Ya, kau benar, tapi setidaknya aku jadi tidak merasa tidak enak kalau aku tahu segalanya di masa lalu." Jawabku.
Tiba-tiba Vernon masuk ke dalam kamar. Dia sempat melihatku sesaat dan setelahnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ses, aku akan menutup teleponnya sekarang." Ucapku setelah itu mematikan sambungan telepon dengan Sesya.
Tidak berapa lama Vernon keluar kamar mandi, dan mengambil sesuatu di kotak obat yang berisi perlengkapan obat-obatanku.
"Aku akan mengganti plesternya, sudah tiga hari belum diganti kan?" Vernon berjalan mendekatiku dengan membawa sebuah plester anti air dan duduk di sisi tempat tidur di samping kananku.
"Kau adalah milikku, aku akan melakukan semuanya untukmu." Jawab Vernon meski dengan tatapan dingin. "Sekarang tutup mulutmu, biarkan aku mengganti plesternya dan kau jangan bicara apapun lagi."
Vernon menyingkap pakaianku dan menurunkan sedikit celana yang aku pakai untuk melihat perutku yang terluka karena tembakan.
"Pasti tujuanmu agar aku merasa bosan sendirian di kamar ini kan, karena itu kau tidak ingin menyewa perawat yang otomatis akan menjadi teman bicaraku ketika aku hanya bisa berbaring dan berada di kamar ini, kan?" Tatapku dengan kesal.
Tak ada yang keluar dari mulut Vernon, dia sedang fokus membuka plester yang menempel di perutku dengan perlahan hingga aku tidak merasakan sedikitpun rasa sakit. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Ini akan membuat bekas luka di perutku. Aku tidak akan berani memakai bikini ataupun pakaian yang memperlihatkan perutku lagi setelahnya. Kau tahu itu sangat buruk? Dan ini semua salahmu."
"Apa aku terlihat peduli pada hal itu?" Tanya Vernon setelah melepas plesternya. "Kau akan selalu berada di kamar ini dan terkurung di rumah ini. Kau tidak akan kemanapun apalagi harus memakai bikini, itu tidak akan terjadi."
Aku mendengus kesal mendengar jawaban Vernon. Sedangkan Vernon mulai memasang plester untuk menutupi luka di perutku. Dia benar-benar ingin mengurungku di rumah ini. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ketika aku sudah sembuh, aku akan pergi kemanapun yang aku inginkan. Tidak mungkin aku membiarkan dirinya mengurungku selamanya.
"Aku akan meminta pelayan membawakan makan malam untukmu, dan minumlah obat setelahnya." Seru Vernon saat selesai dan beranjak ke kotak obat yang ada di atas bupet, lalu mengeluarkan beberapa butir obat ke wadah kecil untuk aku minum setelah makan nanti. "Aku ingin kau segera sembuh agar kau tahu bagaimana rasanya terkurung di saat kau bisa melakukan banyak hal." Vernon berjalan dan meletakan wadah kecil berisi tiga butir obat ke meja kecil di samping tempat tidur.
"Kau mau kemana?" Tanyaku.
"Apa aku harus memberitahumu kemanapun aku pergi?" Tatap Vernon dengan tatapan tajam yang menyiratkan sebuah kekesalan.
"Sejak kembali dari rumah sakit, aku belum mandi. Itu sudah tiga hari yang lalu. Sekarang aku ingin mandi." Ujarku dengan maksud agar Vernon membantuku ke kamar mandi. "Aku tidak ingin hanya membasuh tubuhku saja, rasanya semakin tidak nyaman."
"Kau bisa memanggil pelayan untuk membantumu." Jawab Vernon dingin. "Aku akan memanggilnya sekarang setelah itu kau harus makan dan minum obat."
"Aku ingin kau yang membantuku." Seruku menatap Vernon yang hendak berjalan dan berniat keluar dari kamar ini.
Vernon terdiam sesaat dan menatapku dengan sebuah tatapan yang terlihat malas menanggapiku. Namun setelahnya dia berjalan mendekati tempat tidur dengan mendengus.
Diraihnya tangan kananku dan dilingkarkannya ke pundaknya. Vernon memapahku berjalan ke kamar mandi.
"Kau tahu kan lukanya masih terasa sangat sakit jika aku berjalan." Ujarku saat berada dirangkulan Vernon.
__ADS_1
"Ternyata... Kau tetap tidak berubah." Ucap Vernon.
...–NATZSIMO–...