
Kehadiranku membuat keadaan menjadi dingin di ruangan yang ukurannya sangat besar ini. Semua mata menatap padaku dengan tatapan bermacam-macam namun aku tidak memedulikan mereka kecuali sorotan mata suamiku, Vernon.
Vernon menatapku tajam dengan bercampur rasa kekesalannya. Melihatnya membuat diriku ingin tertawa namun aku menahannya agar situasi tidak terlalu cair dan masih menegangkan dengan kemunculanku.
Langkahku ku atur sedemikian rupa dengan sangat elegannya walau rasa sakit di kaki mulai terasa kembali. Aku berjalan mendekati Vernon yang sedikitpun tidak menarik tatapannya padaku, lalu mendaratkan ciumanku ke bibirnya.
Pablo yang sejak awal bersama denganku mengambil sebuah kursi kosong yang berada tidak jauh di belakang kami dan memposisikan kursi tersebut ke samping kiri kursi Vernon untuk aku duduki.
"Silakan, nona." Seru Pablo dengan sangat sopan.
Sebelum duduk aku menebar senyumku pada semua orang yang berada di sana. Mereka adalah para pengusaha yang pastinya akan membangun bisnis di kota Genoa dan membutuhkan uluran tangan dari kelompok mafia yang menguasai kota tersebut. Ya, mereka meminta bantuan Vernon sebagai pemimpin Camorra yang sekarang menyokong kota Genoa dengan keamanan dan bisnis ilegal dibaliknya.
"Vern, apa kau sudah memberitahu kalau kau pun juga akan mendirikan rumah sakit di Genoa? Dan kau juga membutuhkan sukarelawan untuk membangunnya karena saat ini kau sangat sibuk bukan?" Aku langsung berbicara secara terang-terangan setelah duduk di kursiku.
Sebagai seseorang yang terlahir di keluarga mafia kelas atas aku sudah mengerti banyak hal mengenai kehidupan para mafia yang mengumpulkan pundi-pundi uang dari bisnis ilegalnya dan kami pastinya juga memiliki bisnis legal untuk menutupi dari mana kekayaan kami berasal. Ya, walaupun bisnis legal tersebut pastinya di bangun oleh para pengusaha dengan atas nama kami para mafia. Karena itu biasanya para mafia memiliki banyak tempat usaha legal dengan berbagai macam jenis bisnis, semua itu adalah hasil dari usaha kami para mafia yang memberikan keamanan para pengusaha bahkan dari pemerintah sekalipun.
"Sayang..." Ucap Vernon memegang pundak kananku dengan memulas sebuah senyuman yang bagiku senyuman palsu. "Kau sedang hamil, sebaiknya kau istirahat. Pergilah ke kamar, nanti ketika selesai aku akan menyusulmu." Vernon meletakan kartu akses kunci kamarnya ke atas meja di hadapanku.
"Tidak masalah, aku ingin menemanimu di sini. Aku juga ingin mengungkapkan keinginanku pada para pengusaha baik hati yang ada di sini." Ujarku sambil menatap satu persatu para pengusaha yang juga menatap padaku. "Apa ada yang keberatan aku di sini?'
Vernon menoleh ke arah Pablo yang berdiri di belakangku.
"Sebaiknya antar nona kecilmu ke kamar sekarang." Seru Vernon yang sedikit menengadah berbicara pada Pablo.
"Tidak Pablo, aku ingin di sini." Seruku ketika Pablo melangkah dan membuat dirinya tidak jadi mengikuti keinginan Vernon.
Aku bisa melihat bagaimana Vernon menahan amarahnya saat ini hingga muncul guratan di wajahnya yang menegang. Siapapun pasti tahu akan hal itu. Di ambilnya kartu akses kunci kamar hotelnya dan langsung bangkit berdiri dari kursinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku akan kembali sekitar tiga puluh menit lagi. Harap maklum karena saat ini istriku sedang mengandung." Ucap Vernon pada semuanya.
Tanpa aku duga, Vernon langsung mengangkat tubuhku dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Aku sangat terkejut karena dia menggendongku secara tiba-tiba di hadapan semua orang.
Walaupun ada rasa sedikit kekesalan pada diriku karena Vernon tidak ingin aku mengikuti pertemuan tersebut namun dirinya yang menggendongku membuat aku menjadi merasa senang.
"Jangan tersenyum seperti itu!!" Seru Vernon ketika kami berada di elevator.
"Kau suka sekali menggendongku." Ujarku dengan tawa sedikit mengejek.
"Kau sedang mengandung anakku, dan seberusaha apapun kau menutupi rasa sakit di kakimu ketika berjalan, mata dokterku tetap tahu akan hal itu." Jawab Vernon melirik kesal padaku yang masih melingkarkan tanganmu ke lehernya. "Kau sangat keterlaluan, seharusnya kau tetap berada di kamar dan tidak menempuh perjalanan jauh. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu? Aku tidak akan memaafkanmu apabila hal buruk menimpa anakku."
"Salahkan dirimu, itu semua salahmu karena tidak mau mendengarkan perkataanku." Jawabku dengan senyum masam.
Vernon tidak menanggapi perkataanku setelahnya hingga kami sampai di kamar hotel. Dia membaringkan aku dengan sangat hati-hati.
"Luruskan kakimu." Seru Vernon membenarkan posisi kakiku agar menjulur lurus dan tidak tertekuk. "Kau juga sedang tidak datang ke acara pesta, seharusnya kau tidak memakai pakaian terbuka seperti itu. Kondisi seseorang ketika hamil sangat rentan terserang penyakit. Pikirkan kehamilanmu sebelum melakukan sesuatu. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Kau mempermalukan dirimu sendiri dengan hadir di sana."
"Aku akan meminta pegawai hotel wanita untuk menemanimu di sini. Kau harus istirahat dan jangan turun dari tempat tidur!!"
"Tapi kau harus memenuhi keinginanku, Vern!! Bilang pada mereka mengenai apa yang aku ucapkan tadi. Aku akan datang ke sana lagi jika kau tidak mau berjanji." Seruku ketika Vernon berjalan hendak keluar.
Vernon menghentikan langkahnya dan berjalan mendekat ke arahku yang duduk bersandar di atas ranjang kembali. Lalu dirinya duduk di sisi tempat tidur menatapku dengan lekat.
"Aku harus mengajukan kepindahan kewarganegaraan ku dulu sebelum memenuhi apa yang kau inginkan itu." Jawab Vernon.
Mendengarnya tanpa sadar aku tersenyum karena Vernon akhirnya mau mendengarkan apa yang aku inginkan.
__ADS_1
"Kau benar-benar sangat merepotkan. Keluargamu selalu memenuhi semua keinginanmu hingga kau menjadi seperti sekarang ini. Aku tidak heran kenapa kau menjadi wanita keras kepala." Ujar Vernon. "Karena aku akan melakukan apa yang kau inginkan karena itu beristirahat lah di sini dan jangan kemana-mana!! Kau mengerti?"
Aku menutup mulutku untuk tidak menjawabnya. Tidak ada yang bisa melarangku dan memerintah padaku. Sejak dulu, aku tidak suka itu.
"Setelah selesai pertemuan, aku akan mengantarmu, kau akan pulang dengan helikopter ke rumah. Kau tidak perlu berada di sini. Karena bisa saja Sacra Unita merencanakan sesuatu lagi untuk merebut wilayahnya ini, karena tidak semua pengusaha mendukung Camorra saat ini."
"Kau tidak perlu khawatir, Art tidak akan tinggal diam ketika aku mengatakan sesuatu." Ucapku.
"Kau harus mendengarku!!"
Aku tidak ingin mengiyakannya karena aku masih ingin berada di sini.
"Terserah padamu saja." Kesal Vernon bangkit berdiri dan langsung berjalan keluar.
"Kenapa dia tidak menciumku lagi?" Gumamku menjadi kesal melihat Vernon yang langsung pergi begitu saja.
Selama dua jam aku berada di kamarku. Setelah pegawai hotel wanita yang diminta Vernon menemaniku membantuku mengganti pakaian dan memenuhi kebutuhanku lainnya, dia aku suruh pergi setelah aku merasa tidak membutuhkannya.
Aku menjadi bosan berada sendirian di kamar. Apa pertemuannya masih lama? Kenapa Vernon lama sekali? Dengan segera aku mencoba menghubungi Vernon, namun nomernya tidak aktif. Itu membuat aku kesal saat ini.
Dengan kekesalan yang sudah menumpuk akhirnya aku memutuskan turun dari tempat tidur dan berniat ke ruang pertemuan itu lagi. Aku sudah terlalu bosan sekarang.
Jantungku tersentak kaget ketika berjalan keluar kamar dan hendak menutup pintu. Tatapanku terarah pada Vernon yang baru saja berpelukan dengan seorang wanita. Kepalaku langsung terasa memanas, darah naik dan menggumpal ke kepalaku membuat diriku tidak bisa berpikir lagi.
Dengan langkah lebar aku berjalan mendekati Vernon dan wanita yang berada di jarak sekitar dua puluh meter dan berdiri di depan pintu salah satu kamar.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi, dan ternyata kau bermesraan dengan wanita lain." Ucapku menahan emosi dengan melipat kedua tanganku ke bawah dada. "Di antara kalian berdua, siapa yang harus aku hajar terlebih dahulu ?"
__ADS_1
Vernon dan wanita tersebut melihat kehadiranku yang sudah dipenuhi dengan amarah yang membuncah.
...–NATZSIMO–...