
Vernon membawaku masuk ke kamar mandi. Entah mengapa aku merasa senang dia melakukannya hingga tanpa sadar aku tersenyum dan itu membuat Vernon menatapku walau dengan tatapan datar.
"Cepatlah, aku harus pergi." Seru Vernon melepaskan aku ketika kami berada di kamar mandi.
"Bantu aku melepas pakaian." Pintaku menatapnya. "Sangat sulit melakukannya sendiri karena infusannya harus dikeluarkan lebih dahulu dari bajuku."
Apa yang aku katakan mengenai infusan yang masih terpasang di lenganku memang benar namun alasan utamaku yang sebenarnya adalah ingin membuat Vernon kesal padaku. Jika dia berbuat sesukanya padaku dengan terus mengurungku maka aku akan membuatnya terus kesal padaku.
Perlahan Vernon membuka kancing piyama yang aku kenakan. Matanya masih saja datar dengan menyiratkan sebuah rasa kesal. Itu membuatku semakin ingin membuatnya kesal.
Setelah Vernon melepaskan piyamaku, aku menarik Vernon untuk menciumnya namun sepertinya dia sudah tahu kalau aku akan melakukannya sehingga dia menahan tanganku.
"Jangan menggodaku." Seru Vernon. "Cepatlah, aku tidak akan terpengaruh dengan tindakan apapun yang kau lakukan. Aku sedang terburu-buru."
Mendengarnya aku mendesis kesal, dan hendak berjalan memasuki tempat mandi. Namun tiba-tiba Vernon menahan lenganku yang membuat aku menoleh padanya.
"Tunggu sebentar, aku akan mematikan aliran infusannya." Ujar Vernon mengutak-atik infusanku.
Selama aku dirawat di rumah, Vernon sendiri yang mengganti cairan infusan dan mengatur tempo tetesannya.
"Sepertinya kau tidak perlu diinfus lagi, kau sudah lebih baik." Tatap Vernon padaku.
"Tidak, aku belum lebih baik. Biarkan aku diinfus karena aku malas minum dan hanya sedikit makan." Jawabku.
"Kalau begitu, cepatlah." Seru Vernon setelah itu berjalan keluar kamar mandi.
Aku membawa tiang infusan masuk ke tempat mandi dan langsung segera mandi. Aku merasa masih kesal karena Vernon menolak ciumanku tadi. Aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Aku berniat menahannya juga malam ini agar dia tidak pergi meninggalkan aku.
Dengan segera aku menjatuhkan tiang infusan dengan kencang hingga membuat tiang tersebut membentur lantai dan menimbulkan suara yang keras, lalu aku berbaring di lantai dengan pancuran yang masih menyala.
Vernon yang mendengarnya langsung membuka pintu kamar mandi dan masuk. Wajahnya penuh kekhawatiran saat melihatku terbaring.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Terdengar sebuah kepanikan dari nada suara Vernon yang masuk ke tempat mandi dan langsung mematikan pancuran. "Kau baik-baik saja, Viv?" Tatap Vernon mengangkat kepalaku.
Pertanyaannya tidak langsung aku jawab, aku hanya menatapnya dengan memperlihatkan raut wajah kesakitan. Dalam hati rasanya aku ingin tertawa melihat wajah Vernon saat ini. Jelas sekali kalau dirinya mengkhawatirkan diriku.
Vernon membawaku keluar dari kamar mandi segera dan membaringkan aku ke atas tempat tidur. Lalu kembali ke dalam kamar mandi untuk mengambil tiang infus yang masih berada di dalam.
"Maafkan aku, tadi kepalaku terasa berputar dan aku tidak bisa menyeimbangkan tubuhku lalu aku memegang tiang itu namun ternyata tiang itu tidak bisa menopang tubuhku dan terjatuh bersama aku." Ucapku saat Vernon berjalan kembali mendekatiku.
Dia membawa sebuah handuk juga dan langsung dibuatnya untuk menutupi tubuhku yang masih tidak tertutup sehelai benang pun. Lalu mengambil kotak obat dan setelahnya memegang lenganku yang terpasang infusan untuk melihat kondisinya.
"Aku akan memindah infusannya ke lengan satunya. Tanganmu yang ini sudah bengkak, dan ini sudah tiga hari kau memakai infusan di tangan kananmu." Ujar Vernon sambil melepaskan jarum infus. "Apa kepalamu terbentur tadi?"
"Tidak, aku menahan tubuhku yang terjatuh dengan tanganku." Jawabku.
Vernon melepaskan jarum infusan dan menutup bekasnya dengan plester. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukannya dengan sangat baik.
"Bagaimana kau bisa melakukannya? Aku rasa walau itu terlihat mudah tapi tidak semua orang bisa melakukannya." Ujarku penasaran.
Vernon diam saja dan hendak bangkit berdiri untuk berpindah agar dia bisa memasang jarum infus ke tangan kiriku. Aku langsung memegang lengannya.
"Ya baiklah kalau begitu." Jawab Vernon. "Aku akan mengambilkanmu pakaian."
Aku tertawa kecil ketika Vernon masuk ke ruang pakaian untuk mengambil pakaianku. Aku senang karena Vernon tidak mengetahui kebohonganku yang jatuh di kamar mandi tadi. Setelah ini aku masih berencana menahannya agar dia tidak pergi dari kamar ini.
"Kau bisa memakainya sendiri kan?" Tanya Vernon dengan piyama yang dibawanya berjalan dan meletakkannya ke pangkuanku.
"Badanku sangat sakit sekarang, kau harus membantuku."
Walau terlihat enggan, Vernon langsung duduk di sisi tempat tidur dan mengambil baju piyama di pangkuanku. Dia melepaskan kancingnya terlebih dahulu sebelum memakaikannya kepadaku. Saat selesai, aku langsung memeluk Vernon yang berada dekat denganku saat dirinya memakaikan piyama tersebut.
"Vern, malam ini jangan tinggalkan aku sendiri." Bisikku yang mendekap tubuhnya. "Temani aku."
__ADS_1
"Aku tahu semua ini hanya kebohonganmu." Jawab Vernon. "Sudah aku bilang, ternyata kau memang tidak berubah."
Jawabannya membuat aku melepaskan tubuhnya dan menatap padanya. Jadi ternyata sejak awal Vernon tahu kalau dirinya aku tipu. Ini membuat aku menjadi jengkel sekarang.
"Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu, agar kau tahu ternyata dirimu memang mencintaiku." Ucap Vernon dan langsung menyambar bibirku dengan bibirnya.
Mencintainya? Aku mencintai Vernon? Tidak, aku hanya ingin menggodanya agar dia kesal padaku. Aku ingin dia menemaniku di kamar ini agar dia merasakan kekesalannya padaku yang terus dia kurung di kamar ini sendirian.
Tidak mungkin aku mencintainya. Baik dulu mau punya sekarang. Dan walaupun dulu aku benar mencintainya, tetapi tidak untuk saat ini karena yang aku cinta adalah Alec.
"Aku tidak mencintaimu, kau salah, Vern." Ucapku dengan napas sedikit terengah-engah karena baru saja kami berciuman dengan penuh gairah, dan Vernon langsung menutup mulutku kembali dengan bibirnya.
"Kita lihat saja siapa yang salah." Ujar Vernon setelah itu mencumbu leherku hingga aku berbaring.
Aku membiarkan Vernon menyentuhku walau luka di perutku masih terasa sakit. Aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku lakukan, namun yang pasti sepertinya aku berhasil membuatnya tetap berada di kamar ini bersamaku.
"Aaaahhh..." Tanpa sadar aku meringis karena rasa sakit di perutku ketika Vernon meraba bagian perutku.
"Lukanya belum sembuh benar." Seru Vernon menghentikan tindakannya. "Aku akan pergi, dan pakai pakaianmu."
Vernon beranjak berdiri dan merapikan pakaiannya yang sempat aku lepaskan kancingnya tadi. Aku merasa sedikit kecewa karena Vernon akan meninggalkan aku sendirian lagi.
"Kau akan kemana? Setidaknya beritahu aku kemana kau akan pergi." Tanyaku.
"Kau bilang kau tidak mencintaiku, kenapa kau sangat ingin tahu aku kemana?" Tatap Vernon dengan tatapan dingin. "Aku akan mencari seseorang yang bisa memuaskan aku."
"Apa katamu?" Aku merasa tidak suka saat mendengar jawaban Vernon. "Kau mengkhianatiku?"
"Berkhianat hanya ada ketika saling mencintai." Seru Vernon sambil mengambil handphone milikku yang aku letakan di atas meja samping tempat tidur. "Aku akan membuatmu mati kebosanan di sini." Vernon menyeringai sambil memasukkan handphone-ku ke saku celananya.
"Sialan kau, Vern!! Kembalikan handphone-ku!!" Seruku sangat kesal saat Vernon berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Akan aku kembalikan saat aku kembali nanti." Jawab Vernon dengan sebuah senyum mengejek setelah itu pergi keluar.
......–NATZSIMO–......