PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
MENYENDIRI


__ADS_3

Keesokan harinya aku keluar dari rumah sakit, dan itu sudah berlalu dua hari kemudian. Bukan rumah Vernon tempatku pulang melainkan rumahku dulu, yang sekarang adalah rumah Arthur.


Vernon masih dirawat di rumah sakit. Setelah aku menemuinya aku tidak lagi melihat keadaannya dan pulang begitu saja meninggalkan rumah sakit tanpa berpamitan dengannya.


"Ya Ses, hari ini aku akan ke Venesia dan tinggal di sana. Aku memutuskan tinggal disana." Ujarku berbicara di telepon dengan sahabatku Sesya.


Aku duduk di depan meja riasku saat Sesya menelepon. Saat ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Sisilia. Aku memutuskan untuk hidup di Venesia di rumah nenekku dan entah apakah akan kembali ke Sisilia atau menetap di sana seterusnya.


"Aku pasti akan merindukanmu Viv." Ucap Sesya terdengar sedih. "Kau tidak harus pergi hanya karena berpisah dari Vernon. Tetaplah di Sisilia, kita akan menikmati waktu kita seperti dulu lagi. Bagaimana jika besok kita ke Dublin? Kita harus bersenang-senang seperti dulu lagi."


"Aku sedang tidak ingin melakukan semua itu. Saat ini aku hanya ingin beristirahat sejenak, Ses. Aku baru saja kehilangan anakku, aku merasa sangat buruk karena tidak bisa menjaganya dengan baik. Sekarang aku berpikir sudah berapa banyak nyawa mati karena diriku."


"Jangan berkata seperti itu. Yang terjadi bukan salahmu. Kau pun tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada anakmu tetapi semua itu terjadi sangat cepat. Jangan menyalahkan dirimu atas kematiannya, Viv. Bahkan jangan menyalahkan dirimu juga untuk semua hal yang terjadi di sepuluh tahun lalu karena kau tidak mengetahui semuanya, kau hanya tahu sepenggal dari semua itu." Seru Sesya.


Sahabatku mencoba membuat aku mengerti namun itu adalah usaha yang sia-sia karena bagaimanapun semua yang terjadi karena kecerobohan dan ulahku yang terlalu egois, baik yang terjadi pada anakku maupun yang terjadi sepuluh tahun lalu.


Aku menatap wajahku di depan cermin setelah mengakhiri pembicaraan aku dan Sesya di telepon.


Melihat wajahku sekarang membuat diriku menjadi buruk karena diriku gagal menjadi seorang ibu dari anak pria yang aku cintai. Semuanya terlambat, aku menyadari rasa cintaku pada Vernon setelah hal buruk harus terjadi di antara kami berdua terlebih dulu. Itu semakin membuat aku semakin buruk.


Seseorang membuka pintu kamarku, aku menoleh dan melihat Alec berjalan masuk ke arahku. Ia memberikan senyum menawannya padaku. Namun melihat kehadirannya saat ini tidak berarti apa-apa untukku sekarang.


"Viv, kau baik-baik saja?" Tanya Alec memelukku dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya ke leherku yang sedang duduk di kursi meja rias. Ia menatapku dari pantulan cermin meja rias. "Sebentar lagi kau akan berpisah dari Vernon, itu adalah hal yang sangat bagus."

__ADS_1


Tak ada jawaban dariku karena aku tidak ingin mengatakan apapun padanya, bahkan saat ini aku tidak senang dengan keberadaannya.


Alec memberikan kecupannya ke kepalaku dengan terus menatapku dari pantulan cermin.


"Apa aku juga harus menghentikan rencana pernikahan itu, Viv? Aku akan melakukannya jika kau mau. Aku akan meninggalkan Olivia dan bersama denganmu. Bagaimana?" Tanya Alec.


"Entahlah, Alec. Aku sedang tidak ingin memikirkan apapun saat ini. Aku akan ke Venesia untuk menenangkan diriku di sana, aku juga tidak tahu apa akan kembali atau tidak." Jawabku.


Alec melepaskan tangannya yang memeluk leherku dari belakang lalu ia menatapku dengan memegang kedua pundakku.


"Ada apa Viv? Kau akan berpisah dengan Vernon, bukankah itu sesuatu yang bagus? Bukankah hal itu yang kau ingin kan selama ini?" Ujar Alec dengan raut wajah heran menatap padaku. "Kenapa kau menjadi terlihat bersedih setelah akan berpisah dengan Vernon?"


"Aku hanya bersedih karena kehilangan anakku." Jawabku.


"Bukankah itu bagus?"


"Kau tidak jadi memiliki anak dengan Vernon, itu sesuatu yang bagus. Maksudku, tidak ada sesuatu yang mengikat kalian berdua tanpa adanya anak." Jawab Alec bersimpuh agar pandangan kami sejajar. "Aku tahu kalau itu adalah hal yang kau ingin kan juga. Memiliki anak dari seseorang yang tidak mau cintai adalah sesuatu yang buruk apa lagi dari seseorang yang kau benci."


Aku membuang mukaku dari tatapan Alec. Aku tidak setuju perkataannya, aku ingin memiliki anak dengan Vernon walau tidak bersama dengannya, mungkin memang karena agar aku dan dirinya terikat dengan adanya anak kami.


"Viv, jangan ke Venesia, aku akan membatalkan rencana pernikahanku demi dirimu. Kita bisa bersama setelah kau dan Vernon resmi bercerai." Ucap Alec memegang kedua tanganku yang tergenggam.


"Maafkan aku Alec, sebaiknya kita hentikan semua ini. Kau tidak perlu membatalkan pernikahanmu, aku juga tetap akan tinggal di Venesia." Jawabku. "Keluarlah, aku sedang bersiap-siap, dan tidak ingin pergi saat matahari tenggelam."

__ADS_1


Semua pakaian dan barang-barang yang aku butuhkan aku masukan ke dalam koper yang tidak terlalu besar karena sebagian besar barang-barangku masih berada di rumah Vernon. Aku berjalan keluar kamar dengan menarik koper dan langsung dihadang oleh sepasang manusia yang berdiri di depan pintu kamar.


"Viv, kau tidak perlu meninggalkan Sisilia." Seru Arthur memegang lenganku. "Tetaplah di sini, kau bisa tinggal bersamaku di sini."


"Itu benar, Viv. Kau bisa tinggal di sini dan tidak perlu ke Venesia. Di sana tidak ada apapun, kau tidak akan nyaman berada di sana." Timpal Renata. "Kedua orang tuamu juga tidak ada di sana, mereka sedang ada urusan di Roma. Kau akan sangat kesepian tinggal di sana."


"Tidak masalah, aku memang sedang ingin menyendiri untuk sementara waktu." Jawabku.


"Kalau begitu biar aku pergi bersama denganmu." Seru Renata.


"Tidak perlu, Ren. Sudah aku bilang aku memang sedang ingin menyendiri. Aku tidak membutuhkan seseorang menemaniku."


"Tidak Viv, kau tidak akan kemanapun!! Kau harus tetap di sini!! Akan berbahaya kalau kau disana!!" Seru Arthur terlihat mulai menaikan nada bicaranya. "Tetaplah disini, di Venesia hanya ada nenek sendirian, penjagaan di sana juga tidak terlalu ketat, bagaimana kalau orang-orang Sacra Unita mengincarmu lagi?"


"Tidak akan, kau pun tahu Venesia adalah kota yang tidak tersentuh oleh mafia lainnya karena nenek menjaganya dengan sangat baik." Ucapku dan mulai kembali berjalan menarik koper milikku.


"Viv, tunggu sebentar!!" Seru Arthur menghentikan langkahku. "Esteban!!" Panggil Arthur pada salah satu anak buahnya.


Seorang pemuda bertubuh jangkung dan berambut pirang datang mendekati kami. Aku baru melihat anak buah Arthur itu, jika dilihat wajahnya ia masihlah sangat muda, kemungkinan masih berusia 17 atau 18 tahun. Sepertinya ia adalah orang baru yang direkrut Arthur menjadi anak buahnya.


"Pergilah ke Venesia bersama dengannya. Kau harus menjaganya." Seru Arthur pada pemuda itu.


"Baik tuan." Dengan sigap pemuda bernama Esteban itu menjawab dan langsung melihat padaku. Diraihnya koper dari genggamanku.

__ADS_1


Aku kembali berjalan dengan pemuda itu mengikutiku di belakang.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2