
Vernon mendengus mendengar perkataanku dan itu membuat amarahku semakin menjadi. Rasanya aku sangat ingin memukuli mereka berdua saat ini.
"Aku mohon maaf nyonya. Kau salah sangka. Aku hanya mengucapkan terimakasih pada tuan Skjoldbjærg." Ujar wanita tersebut.
Aku mulai tersadar kalau wanita yang terlihat seumuran dengan Vernon itu juga merupakan salah satu orang yang berada di ruang pertemuan tadi. Namun tetap saja, bisa saja mereka bermesraan tadi sebelum aku datang.
"Karena semua berjalan dengan lancar sehingga perusahaan kami bisa mendapatkan ijin dengan pajak rendah untuk membeli kapal pesiar. Semua itu berkat tuan Skjoldbjærg yang membantu dalam negosiasi dengan pemerintah." Terang wanita itu. "Sebagai ucapan terimakasih kami mengundang kalian berdua ke pesta yang akan diadakan perusahaan kami Costa Crociere S.p.A. besok malam. Kami juga memberikan perjalanan ke Amerika dengan kapal pesiar kami."
"Untuk perjalanannya tidak perlu." Jawab Vernon langsung merangkulku. "Saat ini istriku tercinta sedang hamil muda, dokter memintanya untuk selalu berada di atas tempat tidur, karena itu tidak mungkin kami melakukan perjalanan jauh. Tapi untuk pesta itu, akan kami pikirkan lagi."
"Baiklah kalau begitu. Kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran untuk perjalanan tersebut tuan Skjoldbjærg. Kapanpun kau dan istrimu ingin berlayar, kami akan memberikannya dengan cuma-cuma. Sekali lagi terimakasih atas bantuanmu."
Vernon menoleh padaku yang sedang dirangkulnya setelah wanita itu pergi meninggalkan kami. Tatapan Vernon seperti mengatakan jika apa yang aku katakan tadi mengenai mereka berdua bermesraan terdengar sangatlah lucu.
"Sekali lagi kau tidak mendengarkan perkataanku yang memintamu untuk terus berada di tempat tidur." Ucap Vernon. "Jangan bilang kau menungguku untuk menggendongmu lagi sekarang."
Aku mendesis kesal dengan tatapan masam pada Vernon lalu berjalan cepat ke arah kamar. Walaupun sebenarnya aku memang ingin Vernon menggendongku lagi namun mendengar perkataannya membuat aku kesal hingga mau tidak mau langsung melebarkan langkahku kembali ke kamar.
"Hati-hatilah, jangan terlalu cepat jalanmu!!" Seru Vernon sesaat ketika aku hendak membuka pintu kamar.
Pintu kamar hotel aku banting ketika masuk ke dalam dan langsung menaiki tempat tidur. Sejujurnya aku merasa malu tadi ketika tanpa sadar mengungkapkan rasa cemburuku ketika melihat Vernon berpelukan dengan wanita lainnya. Hal itu yang membuatku bingung. Jika aku tidak memiliki perasaan apapun pada Vernon seharusnya melihat dirinya bersama ataupun berpelukan dengan wanita lain itu tidak akan menjadi masalah untukku.
Namun yang aku rasakan tadi sebaliknya. Aku langsung tidak bisa berpikiran hal lainnya karena amarah yang disebabkan rasa cemburu langsung menguasai diriku. Apakah aku mencintai Vernon? Ah, itu tidak mungkin. Kemungkinan apa yang aku rasakan itu karena bayi yang ada di kandunganku. Pasti anak yang aku kandung mempengaruhi perasaanku tadi yang melihat ayahnya berpelukan dengan wanita lain. Itu pasti membuatnya tidak suka juga.
__ADS_1
Vernon masuk dan langsung membuka jas dan dasi yang dipakainya serta melepaskan tiga kancing kemejanya. Aku hanya melirik memperhatikannya masih dengan aura kesal.
"Kau sangat aneh, Viv." Seru Vernon sambil menuang segelas air putih yang berada di meja di tengah-tengah dua sofa dan meminumnya. "Jangan bilang kalau tadi kau benar-benar cemburu?" Ujar Vernon sambil duduk di sofa yang mengarah ke diriku yang berada di atas tempat tidur. Di wajahnya tersungging senyuman skeptis.
Aku hanya diam saja dan tidak ingin menjawab. Saat ini aku hanya merasakan kekesalan yang semakin bertambah karena Vernon lebih memilih duduk di sofa dari pada bersandar ke tempat tidur di sampingku.
"Bukankah dulu kau sendiri yang mengatakan agar aku mencari wanita lain dan bersenang-senang dengan hidupku karena kita berdua tidak saling mencintai?" Ujar Vernon mengingatkan aku mengenai perkataanku waktu itu. "Lantas kenapa sekarang kau terlihat tidak suka saat melihat aku hanya berpelukan dengan wanita lain?"
"Bukan aku yang tidak suka, anak yang ada di kandunganku yang tidak suka akan hal itu." Jawabku menatap Vernon. "Kau tahu kan kalau aku dan anakmu saling terhubung? Dia membuat diriku terlihat tidak menyukai hal itu."
Vernon hanya tertawa mendengar jawabanku. Pasti menurutnya aku hanya membual. Aku semakin kesal dibuatnya.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu hingga menaiki helikopter. Kau harus segera pulang." Seru Vernon masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Aku tidak akan kemanapun." Jawabku. "Aku akan tetap di sini. Aku tidak ingin pulang. Kau memintaku pulang apa karena kau ingin bermalam dengan seorang wanita di sini? Ya, pasti karena itu kau tidak ingin aku bersamamu."
"Besok, aku juga ingin ke pesta itu. Kau tidak bisa melarangku dan terus menerus menyuruhku berada di dalam kamar. Ini terlalu membosankan untukku. Apa kau tahu itu, Vern?"
"Walau aku memintanyapun kau tetap tidak akan mendengarkan perkataanku." Ujar Vernon yang lebih terdengar seperti sebuah gumaman karena saat mengatakannya Vernon mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Vernon bangkit berdiri, melihatnya membuatku langsung menoleh dengan cepat padanya. Apa dia ingin pergi? Aku tidak ingin dirinya kemanapun dan tetap berada di sini bersama denganku.
"Kau mau kemana?" Tanyaku sesegera mungkin ketika Vernon melangkah dan membuat langkahnya terhenti.
__ADS_1
"Ada apa? Masih banyak urusan yang harus aku lakukan di sini."
Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku ingin dirinya di sini namun rasanya aku harus mengatakannya agar Vernon tidak meninggalkan aku lagi. Padahal baru beberapa menit dia berada di kamar ini.
"Vern, tetaplah di sini. Temani aku dan jangan kemanapun lagi. Aku ingin bersama denganmu saat ini." Ucapku setelah menahan rasa gengsi di dalam diriku. "Demi anak kita."
Mendengar permintaanku, Vernon menjadi tertawa kecil. Itu membuat aku malu setelah mengatakan semua itu padanya. Seharusnya aku lebih menahan diriku untuk tidak mengatakannya, bagaimanapun permintaan tersebut sangatlah aneh karena aku selalu mengatakan tidak mencintainya, begitupun sebaliknya.
"Apa yang ingin aku lakukan untukmu?"
"Apa?" Aku terkejut menatap Vernon yang berjalan mendekati tempat tidur.
"Ya, bagaimanapun kau sedang mengandung anakku, pasti karena itu kau selalu ingin bersama denganku. Itu juga yang pernah kau katakan kan? Kau memanfaatkan kehamilanmu." Seru Vernon sambil menaiki tempat tidur dan bersandar di sampingku. "Kemarilah, biar aku merasakan anakku."
Perasaanku sangat senang hingga tanpa berpikir aku langsung masuk ke dalam dekapan Vernon. Seketika aku merasa sangat nyaman dan merasa kelegaan saat membenamkan wajahku ke dada dan mencium aroma tubuhnya. Ternyata benar, semua memang karena kehamilanku hingga aku merasa seperti sekarang ini pada Vernon.
"Dengarkan ucapanku Viv, kau harus menjaga anak kita hingga dia lahir." Ujar Vernon sambil satu tangannya masuk ke dalam pakaianku untuk mengusap-usap lembut perutku. "Aku seperti ini hanya karena tidak ingin aku kehilangan anakku. Jadi jika sesuatu terjadi padanya, aku akan membuat hidupmu lebih menderita lagi dari sebelumnya."
Aku mengangkat kepalaku dan menengadah menatap Vernon mendengar perkataannya.
"Aku tidak mencintaimu, akulah yang akan memanfaatkan kehamilanmu ini untuk menundukan La Nostra yang sudah membunuh keluargaku. Aku akan membalas dendam pada keluargamu."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Bagaimanapun anakku juga mengalir darah La Nostra, itulah kartu AS ku selain dirimu yang sudah jatuh cinta padaku lagi." Bisik Vernon dengan sebuah seringai.
...–NATZSIMO–...